Tepat
pukul 12.00 WIB, pesawat Andri tujuan Incheon International Airport, Seoul,
Korea Selatan ini langsung melesat membelah langit kota Jakarta dan menuju
Changi Airport, Singapura untuk melakukan transit sebelum akhirnya terbang
menuju Seoul, Korea Selatan.
Andri
sangatlah excited dengan
perjalanannya pada kali ini. Dia yang juga pergi berbekal kamera, sudah banyak
mengambil gambar mulai dari bandara sampai didalam pesawat. Didalam pesawat
juga dia duduk bersama pasangan kakek nenek yang juga hendak menuju ke Seoul.
Setelah
1 jam duduk dipesawat, sampailah dia di Singapura untuk melakukan transit. Dan
sambil menunggu transit, Andri bersama pasangan kakek nenek itu mampir ke
sebuah cafe didalam airport sambil menunggu penerbangan selanjutnya yang
tertunda 1 jam akibat cuaca buruk.
Dengan
kepribadian Andri yang sangat baik, ramah, sopan dan friendly ini, membuat dia mudah sekali dekat dengan orang-orang.
Andri bahkan tak segan untuk membantu para penumpang lain dalam memasukkan
kopernya kedalam bagasi pesawat walaupun dia tidak pernah mengenal orang itu.
Setelah
hampir satu jam menunggu jam penerbangan dan sudah banyak sekali Andri dan
pasangan kakek nenek itu bercerita dengan serunya, panggilan keberangkatan
selanjutnya pun sudah memanggil. Mendengar hal itu, mereka langsung bergegas
menuju pesawat mereka.
Sesampainya
didalam pesawat, Andri langsung mengantarkan pasangan kakek nenek itu ke kursi
mereka terlebih dahulu yang kali ini duduk terpisah darinya. Dan setelah
mengantarkan kakek nenek itu, dia langsung menuju ke kursinya yang kali ini dia
bersebelahan dengan seorang laki-laki yang kira-kira sedikit lebih tua darinya
yang mempunyai wajah Korea dan memakai pakaian kemeja warna biru muda di
sebelah kanannya dan seorang wanita yang kira-kira seumuran dengannya yang
memiliki wajah putih cantik dan memakai celana jeans yang robek pada lututnya,
menggunakan jaket berwarna hijau tua yang tidak di dikancingkan dengan dalaman
sweater warna krem yang dihiasi sebuah kalung berbentuk “Y” sebagai hiasannya.
Wanita itu juga memakai topi berwarna hitam yang menutupi rambutnya yang
berwarna cokelat kemerahan itu. Hanya saja raut wajah wanita itu terlihat
sangat lelah dan juga seperti tidak mengeluarkan ekspresi sama sekali sambil
membaca sebuah tulisan dibeberapa kertas yang menggunakan kata-kata Hangul (Huruf Korea) yang pastinya
sangatlah asing bagi Andri sendiri.
Setelah
memasang sabuk pengamannya, Andri langsung mencoba berkenalan dengan orang yang
berada disebelahnya. Dengan kepribadiannya dan kemampuan bahasa Inggrisnya yang
sangat baik, Andri mencoba untuk menegur laki-laki yang berada disebelah
kanannya yang pada saat itu sedang melihat kearah jendela pesawat.
“Hi.”
Lelaki
itu tampak kaget mendengar suara Andri dan langsung mengubah arah pandangannya
yang awalnya menuju ke arah jendela, berpindah ke arah sang sumber suara,
Andri.
Wanita
yang duduk disebelah kiri Andri pun yang sedang membaca tulisan yang ada
dikertas ditangannya itu langsung
menoleh ke arah Andri sekilas, sebelum akhirnya kembali mengembalikan
pandangannya ke arah kertas itu.
“O...
Hi.” Balas lelaki itu agak sedikit bingung.
“Ah, it okay, I’m just traveler. What is your
name? (Ah, tidak apa. Saya hanyalah seorang pelancong. Siapa namamu?)” Andri
langsung menjulurkan tangannya diiringi senyum dibibirnya.
“Oh, My name is Lee Kyung Hwan. And you?
(Oh, nama saya Lee Kyung Hwan. Dan kau?)” Balasnya
sambil menyambut tangan Andri dan diiringan dengan senyuman.
“Oh,
nama saya Andri. Apa kau bisa bahasa Inggris? Karena saya tidak bisa bahasa
asing yang lain selain bahasa Inggris.”
“Tentu
saja saya bisa. Tenang saja. Selama kau tidak memberikan perkataan yang panjang
dan rumit, tidak akan ada masalah hahahaha.” Balas Kyung Hwan sambil tertawa. Andri pun ikut tertawa ketika mendengar perkataannya.
“Tenang
saja. Kalau kau tiba-tiba tidak mengerti apa yang aku katakan, cukup melambai
saja pada kamera dan berkata ‘aku menyerah’.”
Kata
Andri yang diiringi tawa keduanya. Wanita yang berada disebelah kiri Andri pun
menghentikan bacaannya dan langsung menoleh ke arah kedua lelaki yang sedang
tertawa disebelah kanannya sambil memberikan ekspresi yang tidak senang sebelum
akhirnya dia kembali lagi membaca kertas yang ada ditangannya.
“Hahahaha
ada-ada saja kamu. Darimana kau berasal? Kalau melihat dari wajahmu, bisa
kutebak bahwa kau orang asia tenggara. Apa kau orang Singapura?”
Andripun
hanya memberikan senyuman.
“Saya
orang Indonesia. Masih tetanggaan sih dengan Singapura.”
Mendengar
itu, Kyung Hwan pun langsung malu.
“Oh
maafkan aku. Habisnya kau mirip orang Singapura.”
“Ah
tenang saja. Kalau kata sejarah, Indonesia sama Singapura itu memiliki nenek
moyang yang sama. Jadi wajarlah kalau mirip.” Kata Andri dengan ramah.
“Jadi,
apa yang kau lakukan di Singapura? Jalan-jalan? Atau apa gitu?”
“Tidak-tidak.
Aku adalah seorang PD. Kau tau, orang yang bekerja di
TV. Aku dan wanita yang ada disebelahmu itu, kami sedang melakukan riset
lokasi untuk syuting acara kami. Dan kami merencanakan untuk melakukan syuting
di Singapura.”
Mendengar
hal itu, Andripun langsung kagum.
“Wah
keren sekali. Pasti enak ya kerja di televisi. Apalagi banyak ketemu artis. Kan
di Korea gitu banyak artis-artis yang sudah mendunia gitu. Hehe.”
“Ya
seperti itulah. Hanya saja ada banyak juga tantangannya. Namanya juga kerja di
televisi kan, salah sedikit bisa gawat.”
“Kalau
kau, apa pekerjaanmu?”
“Saya
bekerja di suatu bank di Indonesia.”
Andri
kemudian mengalihkan pandangannya ke arah wanita di sebelah kirinya. Kyung Hwan
yang menyadari pandangan Andri yang sedang melihat wanita itu pun hanya bisa
diam saja sambil mengernyitkan dahinya dengan cemas.
Andri
lalu menjulurkan tangannya ke arah wanita yang sedang membaca kertas di
tangannya itu.
“Hai,
nama saya Andri.”
Melihat
hal itu, wanita itu hanya melihat ke arah tangan itu, lalu langsung memindahkan
pandangannya ke arah Andri selama 3 detik yang kemudian langsung mengubah
pandangan matanya ke arah Kyung Hwan yang berada dibelakang Andri dan kemudian
mengembalikan pandangannya ke arah kertas yang ada ditangannya.
Dengan
tangan yang masih terjulur, Andri hanya diam saja dengan memasang raut wajah
heran. Kyung Hwan yang melihat itu, langsung menepuk punggung Andri sampai pada
akhirnya dia menarik tangannya yang dijulurkan itu kembali dan menoleh ke arah
Kyung Hwan.
“Apa
yang kau lakukan?”
“Apa?
Aku tidak melakukan apapun.”
“Dia
itu memang seperti itu. Tapi akhir-akhir ini jauh lebih seram dari yang
biasanya.” Bisik Kyung Hwan sambil melirik ke arah wanita itu dengan cemas.
“Aku
hanya mencoba menyapanya. Apa yang salah dengan itu.”
Andri
lalu mencoba lagi untuk menjulurkan tangannya ke arah wanita itu. Melihat hal
itu, Kyung Hwan terkejut dan langsung menarik tangan Andri.
“YA
!”
Kata
Kyung Hwan sambil sedikit berteriak dan berdiri sambil menarik tangan Andri.
Mendengar suara Kyung Hwan, para penumpang lain langsung mengarahkan pandangan
ke arahnya. Kyung Hwan yang terkejut dengan suaranya itu, langsung menutup
mulutnya.
“Maafkan
aku. Maafkan aku.”
Sambung
Kyung Hwan sambil menundukkan badannya dan langsung duduk kembali.
“Sudahlah.
Jangan suka melakukan hal bodoh. Lebih baik kita tidur karena perjalanan kita
akan sangat lama sekali.”
Kyung
Hwan mencoba menenangkan Andri dan mulai menyandarkan kepalanya ke kursi dan
menutup matanya.
Andri
hanya bisa keheranan melihat hal itu. Dia lalu mencoba mencuri pandang ke arah
wanita itu yang sedang membolak balikkan kertas yang cukup tebal di tangannya
itu.
“Baiklah
kalau begitu. Lebih baik aku tidur.”
Andri
lalu mulai ikut menyandarkan kepalanya ke kursi dan menutup matanya.
Setelah
itu, suasana di dalam pesawat pun sunyi senyap. Kebanyakan orang di pesawat itu
menutup matanya. Dan ada beberapa yang masih terjaga dan menggunakan headset
dikepalanya.
Tak
lama, wanita itu pun menghentikan bacaannya dan mengembalikannya ke halaman
awal. Dia lantas menggulung kertas itu dan kemudian menoleh ke arah jendela
yang tertutup separuh dan sedang tampak pemandangan langit dan awan yang
terlihat.
Lalu,
dia memindahkan pandangannya dari jendela itu, menuju ke arah Kyung Hwan
sekilas dan kemudian menuju ke arah Andri yang sedang tertidur. Cukup lama dia
memandangi wajah Andri dengan tanpa ekspresi diwajahnya sebelum akhirnya di
menyandarkan kepalanya ke arah kursi dan menurunkan topinya hingga hampir
menutup matanya dan kemudian dia menutup matanya dan tidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar