Kamis, 31 Desember 2015

One More Week Episode 6: COINCIDENCE

Tepat pukul 12.00 WIB, pesawat Andri tujuan Incheon International Airport, Seoul, Korea Selatan ini langsung melesat membelah langit kota Jakarta dan menuju Changi Airport, Singapura untuk melakukan transit sebelum akhirnya terbang menuju Seoul, Korea Selatan.

Andri sangatlah excited dengan perjalanannya pada kali ini. Dia yang juga pergi berbekal kamera, sudah banyak mengambil gambar mulai dari bandara sampai didalam pesawat. Didalam pesawat juga dia duduk bersama pasangan kakek nenek yang juga hendak menuju ke Seoul.

Setelah 1 jam duduk dipesawat, sampailah dia di Singapura untuk melakukan transit. Dan sambil menunggu transit, Andri bersama pasangan kakek nenek itu mampir ke sebuah cafe didalam airport sambil menunggu penerbangan selanjutnya yang tertunda 1 jam akibat cuaca buruk.

Dengan kepribadian Andri yang sangat baik, ramah, sopan dan friendly ini, membuat dia mudah sekali dekat dengan orang-orang. Andri bahkan tak segan untuk membantu para penumpang lain dalam memasukkan kopernya kedalam bagasi pesawat walaupun dia tidak pernah mengenal orang itu.

Setelah hampir satu jam menunggu jam penerbangan dan sudah banyak sekali Andri dan pasangan kakek nenek itu bercerita dengan serunya, panggilan keberangkatan selanjutnya pun sudah memanggil. Mendengar hal itu, mereka langsung bergegas menuju pesawat mereka.

Sesampainya didalam pesawat, Andri langsung mengantarkan pasangan kakek nenek itu ke kursi mereka terlebih dahulu yang kali ini duduk terpisah darinya. Dan setelah mengantarkan kakek nenek itu, dia langsung menuju ke kursinya yang kali ini dia bersebelahan dengan seorang laki-laki yang kira-kira sedikit lebih tua darinya yang mempunyai wajah Korea dan memakai pakaian kemeja warna biru muda di sebelah kanannya dan seorang wanita yang kira-kira seumuran dengannya yang memiliki wajah putih cantik dan memakai celana jeans yang robek pada lututnya, menggunakan jaket berwarna hijau tua yang tidak di dikancingkan dengan dalaman sweater warna krem yang dihiasi sebuah kalung berbentuk “Y” sebagai hiasannya. Wanita itu juga memakai topi berwarna hitam yang menutupi rambutnya yang berwarna cokelat kemerahan itu. Hanya saja raut wajah wanita itu terlihat sangat lelah dan juga seperti tidak mengeluarkan ekspresi sama sekali sambil membaca sebuah tulisan dibeberapa kertas yang menggunakan kata-kata Hangul (Huruf Korea) yang pastinya sangatlah asing bagi Andri sendiri.

Setelah memasang sabuk pengamannya, Andri langsung mencoba berkenalan dengan orang yang berada disebelahnya. Dengan kepribadiannya dan kemampuan bahasa Inggrisnya yang sangat baik, Andri mencoba untuk menegur laki-laki yang berada disebelah kanannya yang pada saat itu sedang melihat kearah jendela pesawat.

“Hi.”

Lelaki itu tampak kaget mendengar suara Andri dan langsung mengubah arah pandangannya yang awalnya menuju ke arah jendela, berpindah ke arah sang sumber suara, Andri.

Wanita yang duduk disebelah kiri Andri pun yang sedang membaca tulisan yang ada dikertas ditangannya itu langsung menoleh ke arah Andri sekilas, sebelum akhirnya kembali mengembalikan pandangannya ke arah kertas itu.

“O... Hi.” Balas lelaki itu agak sedikit bingung.

Ah, it okay, I’m just traveler. What is your name? (Ah, tidak apa. Saya hanyalah seorang pelancong. Siapa namamu?)” Andri langsung menjulurkan tangannya diiringi senyum dibibirnya.

Oh, My name is Lee Kyung Hwan. And you? (Oh, nama saya Lee Kyung Hwan. Dan kau?)” Balasnya sambil menyambut tangan Andri dan diiringan dengan senyuman.

“Oh, nama saya Andri. Apa kau bisa bahasa Inggris? Karena saya tidak bisa bahasa asing yang lain selain bahasa Inggris.”

“Tentu saja saya bisa. Tenang saja. Selama kau tidak memberikan perkataan yang panjang dan rumit, tidak akan ada masalah hahahaha.” Balas Kyung Hwan sambil tertawa. Andri pun ikut tertawa ketika mendengar perkataannya.

“Tenang saja. Kalau kau tiba-tiba tidak mengerti apa yang aku katakan, cukup melambai saja pada kamera dan berkata ‘aku menyerah’.”

Kata Andri yang diiringi tawa keduanya. Wanita yang berada disebelah kiri Andri pun menghentikan bacaannya dan langsung menoleh ke arah kedua lelaki yang sedang tertawa disebelah kanannya sambil memberikan ekspresi yang tidak senang sebelum akhirnya dia kembali lagi membaca kertas yang ada ditangannya.

“Hahahaha ada-ada saja kamu. Darimana kau berasal? Kalau melihat dari wajahmu, bisa kutebak bahwa kau orang asia tenggara. Apa kau orang Singapura?”

Andripun hanya memberikan senyuman.

“Saya orang Indonesia. Masih tetanggaan sih dengan Singapura.”

Mendengar itu, Kyung Hwan pun langsung malu.

“Oh maafkan aku. Habisnya kau mirip orang Singapura.”

“Ah tenang saja. Kalau kata sejarah, Indonesia sama Singapura itu memiliki nenek moyang yang sama. Jadi wajarlah kalau mirip.” Kata Andri dengan ramah.

“Jadi, apa yang kau lakukan di Singapura? Jalan-jalan? Atau apa gitu?”

“Tidak-tidak. Aku adalah seorang PD. Kau tau, orang yang bekerja di TV. Aku dan wanita yang ada disebelahmu itu, kami sedang melakukan riset lokasi untuk syuting acara kami. Dan kami merencanakan untuk melakukan syuting di Singapura.”
Mendengar hal itu, Andripun langsung kagum.

“Wah keren sekali. Pasti enak ya kerja di televisi. Apalagi banyak ketemu artis. Kan di Korea gitu banyak artis-artis yang sudah mendunia gitu. Hehe.”

“Ya seperti itulah. Hanya saja ada banyak juga tantangannya. Namanya juga kerja di televisi kan, salah sedikit bisa gawat.”

“Kalau kau, apa pekerjaanmu?”

“Saya bekerja di suatu bank di Indonesia.”

Andri kemudian mengalihkan pandangannya ke arah wanita di sebelah kirinya. Kyung Hwan yang menyadari pandangan Andri yang sedang melihat wanita itu pun hanya bisa diam saja sambil mengernyitkan dahinya dengan cemas.

Andri lalu menjulurkan tangannya ke arah wanita yang sedang membaca kertas di tangannya itu.

“Hai, nama saya Andri.”

Melihat hal itu, wanita itu hanya melihat ke arah tangan itu, lalu langsung memindahkan pandangannya ke arah Andri selama 3 detik yang kemudian langsung mengubah pandangan matanya ke arah Kyung Hwan yang berada dibelakang Andri dan kemudian mengembalikan pandangannya ke arah kertas yang ada ditangannya.

Dengan tangan yang masih terjulur, Andri hanya diam saja dengan memasang raut wajah heran. Kyung Hwan yang melihat itu, langsung menepuk punggung Andri sampai pada akhirnya dia menarik tangannya yang dijulurkan itu kembali dan menoleh ke arah Kyung Hwan.

“Apa yang kau lakukan?”

“Apa? Aku tidak melakukan apapun.”

“Dia itu memang seperti itu. Tapi akhir-akhir ini jauh lebih seram dari yang biasanya.” Bisik Kyung Hwan sambil melirik ke arah wanita itu dengan cemas.

“Aku hanya mencoba menyapanya. Apa yang salah dengan itu.”

Andri lalu mencoba lagi untuk menjulurkan tangannya ke arah wanita itu. Melihat hal itu, Kyung Hwan terkejut dan langsung menarik tangan Andri.

“YA !”

Kata Kyung Hwan sambil sedikit berteriak dan berdiri sambil menarik tangan Andri. Mendengar suara Kyung Hwan, para penumpang lain langsung mengarahkan pandangan ke arahnya. Kyung Hwan yang terkejut dengan suaranya itu, langsung menutup mulutnya.

“Maafkan aku. Maafkan aku.”

Sambung Kyung Hwan sambil menundukkan badannya dan langsung duduk kembali.

“Sudahlah. Jangan suka melakukan hal bodoh. Lebih baik kita tidur karena perjalanan kita akan sangat lama sekali.”

Kyung Hwan mencoba menenangkan Andri dan mulai menyandarkan kepalanya ke kursi dan menutup matanya.

Andri hanya bisa keheranan melihat hal itu. Dia lalu mencoba mencuri pandang ke arah wanita itu yang sedang membolak balikkan kertas yang cukup tebal di tangannya itu.

“Baiklah kalau begitu. Lebih baik aku tidur.”

Andri lalu mulai ikut menyandarkan kepalanya ke kursi dan menutup matanya.

Setelah itu, suasana di dalam pesawat pun sunyi senyap. Kebanyakan orang di pesawat itu menutup matanya. Dan ada beberapa yang masih terjaga dan menggunakan headset dikepalanya.

Tak lama, wanita itu pun menghentikan bacaannya dan mengembalikannya ke halaman awal. Dia lantas menggulung kertas itu dan kemudian menoleh ke arah jendela yang tertutup separuh dan sedang tampak pemandangan langit dan awan yang terlihat.

Lalu, dia memindahkan pandangannya dari jendela itu, menuju ke arah Kyung Hwan sekilas dan kemudian menuju ke arah Andri yang sedang tertidur. Cukup lama dia memandangi wajah Andri dengan tanpa ekspresi diwajahnya sebelum akhirnya di menyandarkan kepalanya ke arah kursi dan menurunkan topinya hingga hampir menutup matanya dan kemudian dia menutup matanya dan tidur.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar