Setelah
berpisah dengan Yoora, Andri langsung masuk kedalam penginapannya. Didepan
penginapan itu, jelas terpampang nama hotel tersebut, “Inside Backpacker”.
Melihat hal itu, dia semakin semangat dan langsung menuju kedalam penginapan
itu tanpa ragu lagi.
Tiba
didepan pintu penginapan itu, kesan pertama yang dia dapat adalah feels like home sekali. Hotel itu tidak
terlalu besar dan seluruh ruangan dipenuhi nuansa kayu. Terdapat pula banyak
dekorasi dihotel itu. Seketika Andri merasa nyaman. Dia merasa seperti rumahnya
sendiri, yang tidak terlalu besar, tapi sangat nyaman.
Setelah
memasuki hotel itu, segera dia langsung mengurus administrasi dan langsung
melunasi pembayaran. Petugas pengurus hotel tersebut juga sangatlah ramah,
walaupun bahasa inggrisnya sangat terbata dan dengan kosa kata yang terbatas,
bahkan Andri sampai hampir pusing menjelaskan segala hal mengenai
administrasinya dan dia juga banyak menggunakan bahasa isyarat untuk
menjelaskannya.
Setelah
urusan administrasinya selesai, dia langsung diantarkan petugas hotel tersebut
yang bernama Kim Hee Joon kedalam kamarnyanya. Kamar Andri merupakan kamar tipe
dormitory. Didalam kamarnya terdapat 2 kasur tingkat dan kebetulan Andri
mendapatkan kasur yang atas. Didalam kasurpun langsung tersedia seprai, selimut
dan sarung bantal baru. Dia juga langsung dikasih kunci berangkas yang gunanya
untuk menyimpan barang-barang berharganya.
Didalam
kamar dormitorynya, Andri sekamar dengan 2 orang lagi. Mereka merupakan pelancong juga seperti Andri. Satu orang
berasal dari Denmark yang bernama Nicholas Driftvist, yang kira-kira umurnya 30
tahunan dengan jambang dan kulit putih khas orang eropa. Dan satunya lagi
merupakan orang berkebangsaan Thailand bernama Pan yang kira-kira seumuran dengan
Andri dan mempunyai perawakan seperti orang Indonesia dengan kulit warna sawo
matangnya. Didalam kamar, Andri langsung berkenalan dan bisa akrab dengan 2
teman kamarnya itu.
“Hi.”
Sapa Andri sambil menaruh tasnya di meja didekat pintu.
“Hi.”
Nicholas
saat itu sedang duduk di kursi tamu kamar diikuti senyuman. Sedang Pan yang
saat itu sedang duduk diatas kasur dan merapikan barang-barangnya hanya
tersenyum ketika mendengar Andri menyapa.
Andri
langsung memperkenalkan diri sambil bersalaman dengan Nicholas yang langsung
disambung dengan bersalaman dengan Pan.
“Hi,
my name is Andri. I am your new roommate. Nice to meet you. (Hai, nama saya
Andri. Saya teman sekamar kalian. Senang bertemu denganmu) ”
“I
am Nicholas Driftvist.(Saya Nicholas Driftvist)”
“And
I am Pan. Nice to meet you. (Dan saya Pan. Senang bertemu denganmu)”
“Nice
to meet you too.”
Andri
lantas langsung membuka lembaran kertas yang ada di tangannya.
“Kasurku nomor 2B. Dimana ya?”
“Oh diatas sini.” Jawab Nicholas sambil
menunjuk kasur yang ada disebelah kanan Andri ke arah atas.
“Duduk dulu sini.”
Andri
segera menarik kursi yang berada disebelah Nicholas dan mulai duduk. Nicholas
saat itu yang sedang minum, langsung menawarkan minumannya, tetapi langsung
ditolak Andri dengan halus.
“Berangkas ada disebelah sana.” Ucap Pan
sambil menunjuk ke arah belakang kamar.
“Disana juga tertera nomor, jadi bisa
langsung kau cari.”
“Baiklah terima kasih.”
Andri
langsung melihat arah berangkas.
“Jadi darimana kalian berasal? Dalam
rangka liburan semua kah?”
“Saya berasal dari Denmark. Disini
sebenarnya mau kerja, tapi sekalian liburan. Hahahah.”
Andri
lalu melihat ke arah Pan.
“Kalau kamu Pan?”
“Saya berasal dari Thailand dan sama saja
sih seperti Nicholas. Saya disini mau liat ada festival musik gitu, sekalian
jalan-jalan juga.” Jawab Pan yang kala itu sudah selesai merapikan barangnya.
“Wah enaknya. Sambil kerja sambil
jalan-jalan. Iri saya.”
“Bagaimana denganmu?” Tanya Pan.
“Saya disini murni jalan-jalan saja. Ini
baru kali pertama saya disini. Oh iya, saya berasal dari Indonesia.”
“Wah sama dong seperti saya. Ini baru
pertama kalinya saya ke Korea.” Ucap Nicholas.
“Saya sudah 3 kali sama yang sekarang.”
Pamer Pan.
“3 kali? Kamu udah kemana aja Pan.”
“Udah keliling-keliling Korea malah. Seru
bener tempatnya. Pasar tradisionalnya, tempat bersejarahnya. Tapi yang paling
utama, hiburan malamnya. Hahahaha.” Jawab Pan sambil tersenyum. Nicholas yang
mendengar itu juga hanya bisa tersenyum pamer kepada Andri.
“Emm dah sialan dasar kalian. Pamer aja
terus. Hahahaha. Udah ah saya mau beres-beres dulu terus mandi.”
Andri
lantas beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke berangkas. Dan setelah
memasukkan tasnya kedalam berangkas, dia langsung menuju kamar mandi untuk
membersihkan badannya setelah seharian di perjalanan.
Setelah
20 menit, Andri menyelesaikan kegiatan mandinya. Sesudah berganti pakaian, dia
langsung menuju ke lobby hanya untuk sekedar bersantai. Dia menyempatkan diri
untuk mengobrol sedikit dengan beberapa tamu disana. Dan setelah beberapa saat
mengobrol, dia langsung menuju kursi santai yang ada di lobby dan langsung
membuka handphonenya dan mulai menelpon seseorang.
TUUUT...
TUUUUT....TUUU...
“Hallo.” Jawab seseorang diseberang
telepon.
“Hallo.” Jawab Andri yang diikuti dengan
senyumannya.
“Udah sampai?” Tanya orang diseberang
telepon.
“Sudah, baru aja. Ini juga sudah didalem
penginepan kok.”
“Iya? Perjalanannya lancar gak?”
“Lancar kok. Ada delay aja 1 jam pas di Singapura. Hanya saja gak berasa nungguinnya
soalnya sambil ngobrol-ngobrol sama pasangan kakek nenek gitu. Seru banget
mereka.”
“Bagus deh kalau begitu.”
“Mama, perjalanannya lancar?” Tanya
Andri.
Ternyata
orang yang ditelpon Andri adalah Mamanya sendiri.
“Lancar kok. Hanya saja si Ratna,
hahaha.”
Terdengar
cekikikan Mama dari seberang telepon.
“Kenapa? Ratna kenapa?”
“Ada-ada aja adik kamu itu. Pas sampai di
Jogja kan, Om kamu yang jemput kita. Sambil Mama dorong si koper ini dan udah
mulai deket pintu keluar. Langsung aja Mama bilang, ‘itu noh Om kamu. Gih
samperin sana.’ Gitu kata Mama kan ke dia sambil mama tunjuk orang didepan
pintu.”
“Terus?”
“Terus dia nanya, ‘yang mana Ma?’
Maklumlah, terakhir kita ke Jogja kan udah lama dan waktu itu adik kamu masih
kecil gitu. Jadi Mama bilang aja, ‘itu yang pakek jaket kulit itu.’ Pas denger
itu, dia langsung lari kedepan, langsung menuju ketempat orang nunggu. Dia
langsung lari ke arah Om kamu dan langsung cium tangan”
Andri
pun langsung tertawa.
“Hahahaha... Mama sampe depan, Om kamu
langsung masang muka asem gitu.”
“Lah kenapa gitu Ma?”
“Ya gimana gak mau asem gitu, lah orang
yang Ratna cium tangan itu bukan Om mu loh toh. Hahahaha. Ternyata dia cium
tangan orang yang ada disebelah Om-mu itu yang kebetulah dia juga makek jaket
kulit.”
“HAHAHAHAHAH....”
Seketika
tawa Andri pecah memenuhi lobby Hotel tersebut. Semua orang yang ada di lobby
tersebut langsung melihat ke arah Andri penuh penasaran yang saat itu sedang
tertawa kencang.
Mama
pun dari seberang telepon juga langsung tertawa.
“Pas dia tau itu bukan Om-nya, Ratna
langsung malu, langsung cium tangan Om kamu, terus langsung kabur kebelakang
Mama.”
“Hahahahaha ada-ada aja tuh anak. Dasar
emang gesrek dia itu Ma hahahahaha.”
“Haaaaa adik kamu itu. Lucu bener emang.”
Mama
lalu menenangkan diri.
“Kamu gimana, ada cerita gak?”
“Ada. Banyak malah. Hehe.”
“Coba cerita. Penasaran Mama.”
“Gini loh Ma, pas dari Jakarta ke
Singapura kan, Aku kan sama pasangan kakeknenek gitu kan. Romantis banget loh Ma mereka hahaha. Mereka
itu orang Indonesia, tapi mau ke Korea buat nemuin anaknya yang kebetulan kerja
di kedutaan Indonesia yang ada di Korea. Mereka udah nganggep Andri anak mereka
malah saking kitanya betigaan mulu. Hahahaha. Jadi inget Mama sama Papa gitu
pas liat mereka.”
Mendengar
hal itu, Mama hanya bisa terdiam saja. Tidak menjawab.
“Halo? Ma? Mati kah teleponnya?”
Setelah
beberapa saat, Mama pun merespon.
“Mama tadi bengong. Maaf.”
“Kenapa? Inget Papa? Udahlah mah. Andri
juga udah ikhlas kok. Itu kan sudah kehendak yang diatas, kita mah ga bisa
apa-apa kalau yang diatas udah gitu. Kakak kemarin itu kaget aja, soalnya
mendadak. Tapi setelah beberapa saat dan ngeliat pasangan kakek nenek tadi,
Andri jadinya mulai sadar dan ngerti dan harus bisa ngeikhlasin. Gapapa kok. Selama kita inget, Papa bakal selalu ada.”
Mama
yang diseberang telepon pun hanya bisa terdiam dan mulai meneteskan air matanya
“Kamu udah dewasa ternyata. Syukurlah
kalau begitu ya.” Jawab Mama sambil mengusap air matanya.
“Yaelah Ma. Jadi Mama selama itu selalu
nganggep Kakak anak kecil gitu?”
“Yaaaaa begitulah. Hahahahahaha”
Keduanya
lantas saling tertawa.
“Ada cerita yang lain gak?”
Oh
iya ada lagi. Pas dari Singapura ke sini kan pisah tuh duduknya sama pasangan
kakek nenek tadi, terus Kakak sebelahan gitu sama orang Korea asli yang
kerjanya di TV Korea gitu.”
“Wah keren dong kerja di TV.”
“Asli mah, keren banget hahaha. Ada 2
orang tuh kan yang duduk disebelah aku. Cewek sama cowok gitu. Nah yang cowok
ini, orangnya enak banget, jadi aku cepet gitu deket sama tuh orang. Nah yang
jadi cerita itu, soal cewek yang duduk disebelah aku mah.”
“Lah, kenapa tuh?” Tanya Mama.
“Serem bener mah. Senyum aja enggak.
Ekspresinya itu datar aja. Untung aja napak. Cantik sih, tapi kalau ga ada
ekspresi gitu, ya.. jadinya serem Ma. Wah heran aja gitu ya, ada orang kayak
gitu. Temennya yang cowok itu aja gak berani sama dia Ma.”
“Mirip Tante Nani dong?”
“Lebih parah Ma. Kalau Tante Nani kan
biasanya jadi gitu karena ada maunya, nah kalau yang ini, gatau karena apa,
gitu aja pokoknya”
“Wah serem bener ya orang yang seperti
itu.”
“Makanya Ma. Kakak aja takut buat ngeliat
dia. Padahal kalau dia senyum, cantik bener Ma.”
“Oh iya ya” Jawab Mama singkat.
“Oh iya, Ma, udah dulu ya. Mau istirahat
dulu. Disini udah jam 10 soalnya.”
“Yaudah istirahat aja sana.” Kata Mama.
“Jadi, rencana kamu mau ngapain aja
disana?”
“Rencananya mau jalan-jalan. Terus kata
temen sekamarku, disini kehidupan malamnya seru loh Ma. Boleh kali ya. Hehehe.”
“Jangan coba-coba ya.” Kata Mama dengan
nada yang mulai naik.
“No Drinking, No Smoking, No Dugem. Oke?
Kalau ada apa-apa, telepon Mama ya. Dan Inget, minggu depan pulang, jangan
enggak. Soalnya kita kan mau ziarah ke makam Papa sekalian mau ke Jogja.”
“Siap Bos.”
“Yaudah istirahat sana. Have fun ya.”
“Oke. Daaah.” Jawab Andri sambil menutup
teleponnya.
Telepon
pun ditutup. Setelah ditutup, Andri sempat ngobrol sebentar dengan pegawai
hotel yang bertanya kenapa dia tadi sampai tertawa terbahak sebelum akhirnya
menuju ke kamarnya. Didalam kamarnya terlihat Nicholas yang sedang mengerjakan
sesuatu dilaptopnya. Sedangkan Pan sedang membaca buku. Andri segera naik ke
kasurnya, memasang selimutnya dan langsung tidur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar