Sabtu, 26 Desember 2015

One More Week Episode 4: THE ONE WHO NEVER UNDERSTAND

Episode 4: THE ONE WHO NEVER UNDERSTAND

Seoul, Korea Selatan, 16 Maret 2013.

PIP.. PIP.. PIP.. PIP.. !! Tulilit.. tulilit...~

Seketika pintu apartemen itu terbuka. Tampak seorang wanita muda dari balik pintu tersebut. Wanita itu terlihat sangat lelah, tampak dari raut wajahnya dan dari lingkar hitam dimatanya yang mulai terlihat jelas.

Dia langsung membuka sepatu dan long coatnya, kemudian langsung menggantungkannya dilemari jaket tepat disamping pintu. Ia lantas berjalan masuk kedalam apartemen itu dengan langkah yang sedikit lunglai.

Ketika melintasi ruang tamu, terlihat seorang lelaki paruh baya sedang duduk di sofa diruang tamu mengikuti langkahnya dengan tatapan tajam. Wanita itu hanya melihat lelaki itu sekilas lalu berjalan menuju ruang makan. Dia langsung mengambil gelas dan langsung menuangkan air ke dalamnya.

Dalam sekejap dia langsung menghabiskan air dalam gelas itu dan langsung menuangkan air ke gelasnya lagi tapi hanya setengahnya saja. Dia lantas langsung membawa gelas yang berisi setengah itu menuju sebuah ruangan yang terlihat seperti kamarnya.

Ketika hendak menuju kamarnya, dia melewati lagi ruang tamu dimana masih terlihat seorang lelaki paruh baya tadi yang masih tetap pada posisinya di atas sofa. Tapi bedanya, kali ini wanita itu tidak sama sekali melihat bahkan melirik kearah lelaki tersebut.

Ketika dia hendak membuka pintunya. Terdengarlah suara lelaki yang sedang duduk itu.

“YA.. YA.. YA....”
(Kata “YA” disini bukan maksudnya “IYA” tapi merupakan panggilan dalam bahasa Korea (Informal) dari orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda atau bisa juga disampaikan antar teman.)

Seketika dia menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan datar, lalu mengembalikan pandangannya ke arah pintu dan hendak membukanya.

“YA... Kenapa kau pulang?”

Seketika, wanita itu menghentikan membuka pintu yang sudah terbuka sebagian.

“YA... KENAPA  KAU PULANG HAH !!!?”

Wanita itu langsung menoleh ke arah lelaki itu, lagi-lagi tanpa ekspresi sambil menyeruput air minumnya.

“Kenapa? Ini rumahku.”

Lelaki itu mulai bangkit dari tempat duduknya dengan wajah merah padam.

“Rumahmu? 3 hari kau tidak dipulang, tanpa kabar sedikitpun. Dan baru sekarang sekarang kau pulang? Darimana kau memangnya? Selain itu, apa kau tau ini jam berapa? JAM 3 PAGI KAU TAU !!!”

Wanita itu hanya diam, sambil tetap memandang ke arah laki-laki itu, masih dengan raut wajahnya yang datar.

“Aku baru pulang. Aku kerja. Dan saat ini aku sangat lelah.” Jawabnya dengan lesu. “Apa kau lupa aku ini seorang Program Director (PD).”

Wajah lelaki itu mulai terlihat sangat memerah.

“Mau kau itu seorang PD, Bos, atau Presiden sekalipun, aku tidak peduli. Setidaknya, kau harus memberikan kabar kepadaku. Beritahu aku kau ada dimana, sedang apa dan dengan siapa. Bukannya malah menghilang begitu saja dan pulang seenaknya.” Balasnya dengan nada yang mulai meninggi. Dia itu pun mulai menghampiri wanita yang sedang didepan pintu itu.

“Lagipula, sudah kubilang kan, untuk tidak menjadi seorang PD. Tidak usahlah bekerja yang seperti ini. Aku sudah menawarimu bekerja ditempatku tapi kau tolak mentah-mentah. Pekerjaan ini tidak ada masa depannya asal kau tau.”

Wanita itu hanya terdiam. Dia mulai menujukkan ekspresi marah. Tangannya yang sedang memegang cangkir itu mulai bertambah erat. Dia mengambil nafas panjang dan mencoba menenangkan diri.

“Sudahlah, aku capek. Aku ingin istirahat.”

“Apa? Capek? Aku jauh lebih capek. Menungguimu pulang tiap malam. Menunggu kabarmu tiap malam. Hanya sekedar ingin tau apa kau baik-baik saja.”

PRANG ....!!!

Seketika wanita itu melemparkan gelas yang ada ditangannya tepat dibawah kaki lelaki itu.

“Sudah kubilang kan, tidak perlu untuk mengurusi hidupku. Lagian Ayah juga tidak tau apa-apa tentang pekerjaanku. Urusi saja urusan Ayah sendiri.”

PLAKK !!

Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipi kirinya.

“Apa katamu? Yoora, aku ini Ayahmu, jadi aku berhak untuk mengurusi segala urusanmu. Aku ini masih bertanggung jawab atas hidupmu. 23 tahun aku menghidupimu dan ini balasanmu? Aku sudah mengerahkan semuanya. Uang, keringat, tenaga bahkan seluruh waktuku kuserahkan padamu.”

Yoora sontak langsung memegang pipi kirinya yang mulai berwarna merah. Matanya mulai terlihat berkaca-kaca. Ayah Yoora lantas berjalan menuju ke arah kursi tempat dia duduk sebelumnya dan berdiri membelakangi Yoora.

“Kau itu tidak pernah tau betapa susahnya hidupku ini setelah Ibumu pergi. Bukan hanya kau yang menderita tanpa Ibumu. Mengerti kau?”

Yoora hanya bisa terdiam mendengar perkataan Ayahnya. Sambil menahan tangis dan juga menahan sakit dipipinya, dia hanya bisa terdiam.

Tiba-tiba, sepi mengelilingi ruangan keluarga ini.

“AAAAAAKKKKK....!!!”

Yoora berteriak sejadi-jadinya. Dia langsung membanting pintu kamarnya dan langsung berjalan menuju pintu keluar. Dia langsung memakai lagi jaket dan sepatunya dan langsung membuka pintu keluar. Dan ketika pintu terbuka, Yoora terdiam dan terpaku didepan pintu.
Ayahnya yang daritadi membelakangi Yoora, hanya tertunduk lesu. Pria yang sudah berusia 55 tahun itu terlihat seperti sedang menahan sesuatu dihatinya sambil tetap menundukkan kepalanya diiringi suara nafas yang berat.

Tiba-tiba...

“AYAH..!! AKU BENCI PADAMU..!!!”

PAAAAKKK....!!!

Yoora membanting pintu itu. Suara keras dari pintu tersebut seketika langsung mengisi seluruh isi apartemen itu. Bahkan ada beberapa tetangga yang tinggal disebelah rumah mereka langsung keluar penasaran karena kerasnya suara pintu tersebut.

Sang Ayah sedikit terkejut mendengar suara dari bantingan pintu dan seketika dia terisak menangis. Sang Ayah langsung berlutut ke arah kursi yang ada didepannya dan langsung menangis sejadi-jadinya.

Arrgghh... Maafkan Ayah Yoora. Ayah menyayangimu. Sangat menyayangimu.” Isaknya.

“Eunbi, kenapa kau pergi? Kenapa kau meninggalkan kami? Kenapa kau meninggalkan Yoora sendirian? Apakah kau tau betapa tersiksanya Yoora tanpa kehadiranmu? Aaaarrrggghhh.” Teriaknya penuh isak memenuhi seisi apartemen itu.

Yoora yang ternyata masih dibalik pintu, langsung menangis sejadi-jadinya mendengar ratapan Ayahnya. Dengan diiringi tangisan dipipinya sambil tangannya yang masih di pipi kirinya, dia langsung pergi meninggalkan apartemen itu dan Ayahnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar