Episode 4: THE ONE WHO NEVER
UNDERSTAND
Seoul,
Korea Selatan, 16 Maret 2013.
PIP..
PIP.. PIP.. PIP.. !! Tulilit.. tulilit...~
Seketika
pintu apartemen itu terbuka. Tampak seorang wanita muda dari balik pintu
tersebut. Wanita itu terlihat sangat lelah, tampak dari raut wajahnya dan dari
lingkar hitam dimatanya yang mulai terlihat jelas.
Dia
langsung membuka sepatu dan long coatnya,
kemudian langsung menggantungkannya dilemari jaket tepat disamping pintu. Ia
lantas berjalan masuk kedalam apartemen itu dengan langkah yang sedikit
lunglai.
Ketika
melintasi ruang tamu, terlihat seorang lelaki paruh baya sedang duduk di sofa
diruang tamu mengikuti langkahnya dengan tatapan tajam. Wanita itu hanya
melihat lelaki itu sekilas lalu berjalan menuju ruang makan. Dia langsung mengambil
gelas dan langsung menuangkan air ke dalamnya.
Dalam
sekejap dia langsung menghabiskan air dalam gelas itu dan langsung menuangkan
air ke gelasnya lagi tapi hanya setengahnya saja. Dia lantas langsung membawa
gelas yang berisi setengah itu menuju sebuah ruangan yang terlihat seperti
kamarnya.
Ketika
hendak menuju kamarnya, dia melewati lagi ruang tamu dimana masih terlihat
seorang lelaki paruh baya tadi yang masih tetap pada posisinya di atas sofa.
Tapi bedanya, kali ini wanita itu tidak sama sekali melihat bahkan melirik
kearah lelaki tersebut.
Ketika
dia hendak membuka pintunya. Terdengarlah suara lelaki yang sedang duduk itu.
“YA..
YA.. YA....”
(Kata “YA” disini bukan maksudnya
“IYA” tapi merupakan panggilan dalam bahasa Korea (Informal) dari orang yang
lebih tua kepada orang yang lebih muda atau bisa juga disampaikan antar teman.)
Seketika
dia menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan datar, lalu mengembalikan
pandangannya ke arah pintu dan hendak membukanya.
“YA...
Kenapa kau pulang?”
Seketika,
wanita itu menghentikan membuka pintu yang sudah terbuka sebagian.
“YA...
KENAPA KAU PULANG HAH !!!?”
Wanita
itu langsung menoleh ke arah lelaki itu, lagi-lagi tanpa ekspresi sambil
menyeruput air minumnya.
“Kenapa?
Ini rumahku.”
Lelaki
itu mulai bangkit dari tempat duduknya dengan wajah merah padam.
“Rumahmu?
3 hari kau tidak dipulang, tanpa kabar sedikitpun. Dan baru sekarang sekarang
kau pulang? Darimana kau memangnya? Selain itu, apa kau tau ini jam berapa? JAM
3 PAGI KAU TAU !!!”
Wanita
itu hanya diam, sambil tetap memandang ke arah laki-laki itu, masih dengan raut
wajahnya yang datar.
“Aku
baru pulang. Aku kerja. Dan saat ini aku sangat lelah.” Jawabnya dengan lesu. “Apa
kau lupa aku ini seorang Program Director (PD).”
Wajah
lelaki itu mulai terlihat sangat memerah.
“Mau
kau itu seorang PD, Bos, atau Presiden sekalipun, aku tidak peduli. Setidaknya,
kau harus memberikan kabar kepadaku. Beritahu aku kau ada dimana, sedang apa
dan dengan siapa. Bukannya malah menghilang begitu saja dan pulang seenaknya.”
Balasnya dengan nada yang mulai meninggi. Dia itu pun mulai menghampiri wanita
yang sedang didepan pintu itu.
“Lagipula,
sudah kubilang kan, untuk tidak menjadi seorang PD. Tidak usahlah bekerja yang
seperti ini. Aku sudah menawarimu bekerja ditempatku tapi kau tolak
mentah-mentah. Pekerjaan ini tidak ada masa depannya asal kau tau.”
Wanita
itu hanya terdiam. Dia mulai menujukkan ekspresi marah. Tangannya yang sedang
memegang cangkir itu mulai bertambah erat. Dia mengambil nafas panjang dan mencoba
menenangkan diri.
“Sudahlah,
aku capek. Aku ingin istirahat.”
“Apa?
Capek? Aku jauh lebih capek. Menungguimu pulang tiap malam. Menunggu kabarmu
tiap malam. Hanya sekedar ingin tau apa kau baik-baik saja.”
PRANG
....!!!
Seketika
wanita itu melemparkan gelas yang ada ditangannya tepat dibawah kaki lelaki
itu.
“Sudah
kubilang kan, tidak perlu untuk mengurusi hidupku. Lagian Ayah juga tidak tau
apa-apa tentang pekerjaanku. Urusi saja urusan Ayah sendiri.”
PLAKK
!!
Tiba-tiba
sebuah tamparan mendarat di pipi kirinya.
“Apa
katamu? Yoora, aku ini Ayahmu, jadi aku berhak untuk mengurusi segala urusanmu.
Aku ini masih bertanggung jawab atas hidupmu. 23 tahun aku menghidupimu dan ini
balasanmu? Aku sudah mengerahkan semuanya. Uang, keringat, tenaga bahkan
seluruh waktuku kuserahkan padamu.”
Yoora
sontak langsung memegang pipi kirinya yang mulai berwarna merah. Matanya mulai
terlihat berkaca-kaca. Ayah Yoora lantas berjalan menuju ke arah kursi tempat
dia duduk sebelumnya dan berdiri membelakangi Yoora.
“Kau
itu tidak pernah tau betapa susahnya hidupku ini setelah Ibumu pergi. Bukan
hanya kau yang menderita tanpa Ibumu. Mengerti kau?”
Yoora
hanya bisa terdiam mendengar perkataan Ayahnya. Sambil menahan tangis dan juga
menahan sakit dipipinya, dia hanya bisa terdiam.
Tiba-tiba,
sepi mengelilingi ruangan keluarga ini.
“AAAAAAKKKKK....!!!”
Yoora
berteriak sejadi-jadinya. Dia langsung membanting pintu kamarnya dan langsung
berjalan menuju pintu keluar. Dia langsung memakai lagi jaket dan sepatunya dan
langsung membuka pintu keluar. Dan ketika pintu terbuka, Yoora terdiam dan
terpaku didepan pintu.
Ayahnya
yang daritadi membelakangi Yoora, hanya tertunduk lesu. Pria yang sudah berusia
55 tahun itu terlihat seperti sedang menahan sesuatu dihatinya sambil tetap
menundukkan kepalanya diiringi suara nafas yang berat.
Tiba-tiba...
“AYAH..!!
AKU BENCI PADAMU..!!!”
PAAAAKKK....!!!
Yoora
membanting pintu itu. Suara keras dari pintu tersebut seketika langsung mengisi
seluruh isi apartemen itu. Bahkan ada beberapa tetangga yang tinggal disebelah
rumah mereka langsung keluar penasaran karena kerasnya suara pintu tersebut.
Sang
Ayah sedikit terkejut mendengar suara dari bantingan pintu dan seketika dia
terisak menangis. Sang Ayah langsung berlutut ke arah kursi yang ada didepannya
dan langsung menangis sejadi-jadinya.
“Arrgghh... Maafkan Ayah Yoora. Ayah
menyayangimu. Sangat menyayangimu.” Isaknya.
“Eunbi,
kenapa kau pergi? Kenapa kau meninggalkan kami? Kenapa kau meninggalkan Yoora
sendirian? Apakah kau tau betapa tersiksanya Yoora tanpa kehadiranmu? Aaaarrrggghhh.” Teriaknya penuh isak
memenuhi seisi apartemen itu.
Yoora
yang ternyata masih dibalik pintu, langsung menangis sejadi-jadinya mendengar
ratapan Ayahnya. Dengan diiringi tangisan dipipinya sambil tangannya yang masih
di pipi kirinya, dia langsung pergi meninggalkan apartemen itu dan Ayahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar