Senin, 28 Desember 2015

One More Week Episode 5: YOU LOST IT WHEN YOU HAVE IT

Yoora, wanita dengan nama panjang Ahn Yoora ini adalah anak satu-satunya dari pasangan Ahn Kyung Hoon dan Kim Eun Bi. Ayahnya, Ahn Kyung Hoon, bekerja sebagai manajer suatu perusahaan periklanan yang cukup besar di kota Seoul. Sedangkan Ibunya, Kim Eun Bi, merupakan seorang kepala perawat di suatu rumah sakit sebelum akhirnya mengundurkan diri karena menikah.

Keluarga kecil ini merupakan keluarga yang sangat harmonis. Kebahagiaan selalu terpancar dari keluarga ini. Mereka sering melakukan kegiatan bersama. Mulai dari sekedar jalan-jalan ataupun piknik keluarga. Seolah-olah, kebahagiaan merupakan bagian yang memang menempel pada keluarga ini.


Namun, kebahagiaan keluarga ini seakan sirna ketika sang Ibu, Kim Eun Bi, harus meninggalkan Yoora dan suaminya setelah harus takluk dari serangan kanker yang sudah diidapnya sejak lama. Dia dengan terpaksa harus meninggalkan Yoora yang saat itu masih berusia 7 tahun. Dan setelah kejadian itu, senyum cantik Yoora, mulai perlahan menghilang.

Sang Ayah yang kini seorang single parent seringkali harus meninggalkan Yoora karena harus bekerja pada saat yang bersamaan. Ketika sekolah pun, Yoora juga seringkali menunggu lama bahkan sampai larut malam menunggu Ayahnya menjemput.

Yoora merupakan anak yang pintar bisa dibilang dia ini jenius. Sewaktu sekolah pun dia merupakan siswa dengan segudang prestasi. Dia sering mengikuti lomba-lomba akademis dan selalu dimenangkannya. Tapi walaupun banyaknya piala, piagam bahkan plakat sang juara itu tidak mengembalikan senyum Yoora lagi. Pada waktu penyerahan hadiah pun ketika dia diminta untuk memberikan kata sambutan, biasanya dia hanya berkata, “Terima kasih”, sudah hanya itu saja.

Namun ada suatu ketika, ketika Yoora mendapatkan suatu penghargaan siswa berprestasi dari pemerintah. Kepala sekolah Yoora, meminta Yoora untuk memberikan kata sambutan yang sedikit lebih panjang daripada hanya sekedar mengucapkan “Terima kasih” saja. Lantas, kepala sekolah Yoora ini langsung memberikan sebuah catatan akan apa yang harus dia katakan ketika memberikan kata sambutan nanti.

Dan ketika Yoora maju ke depan podium untuk memberikan kata sambutan, dia hanya terdiam. Melihat sekeliling yang ada didepannya berulang kali. Sang kepala sekolah yang ada dibawah panggung pun langsung memberikan kode kepada Yoora untuk segera membaca catatan yang diberikannya tadi. Yoora hanya diam saja melihat kepala sekolahnya itu memberikan kode untuk melakukan sambutan lalu mulai membuka catatan yang diberikan kepala sekolahnya tadi.

“Selamat siang.”

Setelah mengucapkan itu, Yoora hanya diam saja. Tanpa ekspresi dan sekali lagi sambil melihat sekeliling kearah penonton. Sang kepala sekolah yang melihat itupun hanya bisa menggaruk-garuk dahi menunjukkan tanda frustasinya.

Seketika pandangan Yoora langsung menuju ke arah kepala sekolah. “Kepala sekolah yang saya hormati, tolong jangan minta saya untuk melakukan sesuatu yang saya tidak sukai.” Ucapnya.

“Terima kasih.”

Dia langsung melipat catatan itu, membungkukkan badannya dan langsung meninggalkan panggung. Semua penonton hanya terdiam melihat dan mendengar hal itu. Dan seketika pembawa acara yang juga ikut terbengong, langsung sadar dan mencoba kembali menghidupkan suasana.

“Y-y-y-y-y-y-yaaaa.... beri tepuk tangan buat Nona Ahn Yoora.”

Penonton seketika tersadarkan dan mulai bertepuk tangan.

Begitu kerasnya kepribadian Yoora, membuat dia sangat disegani oleh teman-temannya. Mereka lebih suka menghindar daripada berhadapan dengannya. Yoora juga lebih suka menyendiri mengelilingi kota Seoul, mencari-cari sesuatu yang baru yang kira-kira bisa mengembalikan kehidupan lamanya lagi.

Pada akhirnya, secara perlahan kehidupan Yoora berubah. Dia mulai tersenyum lagi. Bukan lelaki, bukan teman tetapi sesuatu yang sangat berbeda, yaitu dunia perfilm-an dan pertelevisi-an. Dia jatuh cinta pada film yaitu ketika dia melihat tanpa sengaja ketika sedang berkeliling kota yang berjudul, ”My Sassy Girl.” Film yang dibintangin oleh Jeon Ji Hyun dan Cha Tae Hyun dan rilis tahun 2002 itu langsung menarik perhatiannya. Dia saat itu tidak sengaja ketika berkeliling kota dan mampir disebuah cafe untuk membeli minuman. Disitulah, tanpa sengaja dia melihat film yang sedang diputarkan oleh cafe tersebut.

Sejak saat itu, dia mulai tertarik dengan dunia perfilm-an dan dunia pertelevisian. Dia mulai banyak menonton film yang tiap hari dia beli di toko kaset dan juga duduk didepan TV dirumahnya hanya untuk menyaksikan berbagai acara televisi, mulai dari acara selebritis, dunia idol, infotainment, sampai akhirnya, dia menemukan genre favoritenya, yaitu variety show.

Seketika, Yoora sangat tertarik pada dunia perfilm-an dan pertelevisi-an. Dia mulai menonton film dari seluruh genre. Action, horror, thriller, romance sampai film animasi pun dia tonton. Dia juga menonton semua acara yang ada di TV terutama drama dan variety show, mulai dari Running Man, Infinity Challenge, 2 Days 1 Night dan lain sebagainya. Dan pada akhirnya, dia semakin bertekat untuk membuat sebuah film, drama ataupun variety show karyanya sendiri.
Ketika dia selesai SMA, dia langsung memutuskan untuk masuk ke Seoul Art Institute, dimana banyak artis-artis dan pelakon seni Korea Selatan banyak dihasilkan. Dia mengikuti tes di Institusi itu dan tesnya adalah membuat sebuah project film sederhana. Yoora sendiri membuat sebuah film Dokumenter tentang sekitaran kota Seoul dan karena karyanya itu ditambah pengetahuannya yang luar biasa akan kota Seoul, dia langsung diterima ke perguruan tinggi itu. Dan setelah mendengar kabar gembira itu, senyum Yoora perlahan kembali. Dia seakan menemukan kehidupan aslinya lagi.

Setelah mendapatkan surat mengenai kelulusannya, dia langsung bergegas pulang kerumah. Disepanjang perjalanan Yoora hanya bisa tersenyum bahagia dan tak sabar untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada Ayahnya.

Setengah jam diperjalanan, tibalah dia di rumahnya sekitar jam setengah 6 sore. Dia langsung menyiapkan segala sesuatu. Meja kursi dia rapikan. Seisi rumah dia rapikan demi menyambut Ayahnya pulang dari kantor dengan diiringi senyuman yang seakan tak mau hilang dari wajahnya.

Setelah 1 jam dia merapikan rumah, dia langsung duduk disofa dan menunggu kepulangan Ayahnya dengan tidak sabarnya. Sambil menunggu, dia juga membuatkan es lemon tea dalam gelas besar untuknya dan Ayahnya yang walaupun pada akhirnya, dia jugalah yang menghabiskan kedua cangkir es itu.

Tak lama....

PIP PIP PIP PIP !! Tulilit tulilit...~

Terdengar suara pintu terbuka. Yoora yang mendengar itu langsung bangkit dan menuju pintu untuk menyambut ayahnya. Melihat hal itu, sang Ayah terkejut dengan perubahan dari anak satu-satunya ini. Sudah lama sekali sejak dia melihat Yoora tersenyum dan kelihatan senang sekali. Melihat hal itu, diapun langsung senang dan ikut tersenyum.

“Ayah, cepat cepat masuk.”

Tarik Yoora sambil menggandeng tangan Ayahnya.

“Iya iya sabar. Kan ayah lagi buka sepatu.”

Setelah melepas sepatunya, Yoora langsung menarik Ayahnya untuk duduk di sofa yang dia rapikan tadi.           

“Ada apa nih. Tiba-tiba sekali seperti ini.”

“Hehehe... Ayah tunggu sebentar ya.”

Yoora langsung berlari menuju kamarnya untuk mengambil surat kelulusannya.
Dalam seketika, dia langsung kembali ke ayahnya dan langsung menyerahkan surat kelulusan itu.

“Ini nih Yah. Hehehe.”

Ayahnya lalu membuka surat itu. Yoora pun hanya bisa senyum saja ketika Ayahnya membuka surat itu, “Ini apa?” katanya.

Pertama, Ayahnya masih tampak mengeluarkan ekspresi senang diwajahnya. Namun, semakin dia melihat penjelasan didalam surat itu, perlahan senyumnya menghilang. Sang Ayah terlihat tidak terlalu senang dengan isi surat itu.

“Bagaimana ayah? Keren kan? Hehehe~ aku lulus dengan kemampuanku sendiri loh. Dan juga coba Ayah lihat proyek untuk tes ku. Untung dulu aku sering jalan-jalan keliling kota. Hahahaha.”

Sang Ayah hanya melihat ke arah Yoora yang sedang bangga akan dirinya namun tidak memberikan ekspresi apapun.

“Tidak, Ayah tidak setuju.”

Sontak, Yoora yang sedang tersenyum pun langsung terdiam mendengar perkataan ayahnya itu.

“Apa? Apa maksud Ayah?”

“Iya, Ayah tidak setuju kalau kamu kuliah disini. Mau jadi apa kamu? Tidak, Ayah tidak setuju.”

“Tapi Ayah, untuk kuliah disitu, itu adalah mimpiku. Itu adalah keinginanku sendiri.....”

“Tidak ! Bagaimanapun dengan cara apapun, Ayah tidak mengizinkanmu. Ayah akan memasukkanmu ke Universitas ternama dan kau akan kuliah Komunikasi sehingga kau bisa bekerja bersamaku.” Potongnya. Dia lalu bangkit dari sofa itu dan langsung menuju ruang makan untuk mengambil minum.
 
Mendengar pernyataan Ayahnya, Yoora hanya bisa terdiam. Dia terlihat shock dan tidak bisa berkata apa-apa. Seakan dia kembali ke diri Yoora sebelumnya ketika ditinggal Ibunya meninggal.

Setelah beberapa lama terdiam, Yoora langsung bangkit dari tempat duduknya dan langsung berjalan kearah kamarnya. Dan tepat didepan kamarnya yang dimana pintunya sudah dibukanya sebagian, dia berhenti.

“Dengan atau tanpa restu Ayah, aku akan tetap kuliah disana. Ayah cukup tanda tangani surat itu dan sisanya akan kuurus sendirian. Ayah tidak tahu betapa berharganya hal itu bagi diriku. Ayah benar-benar orang yang menyebalkan.”

Dia lantas langsung membuka pintu kamarnya dan langsung membanting pintu. Sang Ayah yang mendengar suara bantingan pintu itu langsung terkejut dan langsung menghampiri kamar anaknya itu dan mulai mengetuknya.

“PERGILAH !!!”

Teriak Yoora dari dalam kamarnya. Ayahpun tetap mengetuk pintu dan memanggil Yoora.

“Yoora, dengarkan Ayah. Ini untuk kebaikanmu juga. Bukan kebaikan Ayah. Ayolah ikuti apa perkataan Ayah sekali saja.”.

“KUBILANG PERGILAH !!! AKU BENCI AYAH...!!”

Mendengar hal itu, sang Ayah hanya bisa terdiam. Dia langsung menuju ke ruang tamu, mengambil surat kelulusan Yoora dan langsung menandatangani surat itu.

“Eunbi, aku tak tau lagi. Semoga saja yang aku lakukan ini benar.” Batinnya sambil menghela nafas panjangnya.

“Kalau kau ada disini, kau pasti tau apa yang harus kau lakukan.” Sambungnya diikuti helaan nafas yang lebih panjang.

Setelah itu menandatangani surat itu, sang Ayah langsung menuju kamar Yoora. Ketika didepan pintunya, dia hanya mendengar suara isakan tangis Yoora. Dia juga hendak mengetuk pintu kamarnya, namun diurungkan niatnya. Sambil menghela nafas panjang, dia berjalan menuju kamarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar