Episode 3: FILL-IN WHAT MISSING
Andri
adalah seorang pemuda berusia 27 tahun dengan tinggi 183 cm dan dengan
perawakan yang bisa dibilang ganteng. Dia bekerja disebuah bank swasta di kota
Jakarta. Sebenarnya baru satu setengah tahun Andri bekerja disana dan
sebenarnya tujuannya untuk bekerja di suatu bank itu adalah karena dia hanya
tidak ingin melanjutkan pekerjaannya sebelumnya sebagai Manajer sebuah Restoran
ternama di kota Jakarta yang kebetulan adalah milik Papanya.
Iya,
Papa Andri adalah salah seorang pengusaha restoran terkenal di kota Jakarta.
Dan Andri sendiri bekerja direstoran tersebut seusai menyelesaikan kuliahnya di
Universitas Indonesia ketika berumur 21 tahun. Dia langsung dipromosikan Papanya
untuk menjadi Manajer restoran miliknya demi mengasah dan menambah pengalaman
anaknya, walau sebelumnya Andri sempat kerja sampingan di restoran ini ketika duduk
di bangku kuliah.
Andri
termasuk anak yang pintar. Pada waktu SMP dia menjadi wakil sekolahnya untuk
mengikuti lomba debat bahasa inggris dan berhasil mendapatkan juara ke dua.
Tentu dia ingin sekali mendapatkan juara pertama, tapi apa daya, lawannya saat
itu memiliki materi yang jauh lebih kuat darinya walaupun bahasa Inggrisnya
masih jauh kalah dibandingkan Andri.
Dan
dari sifat sendiri, Andri merupakan orang yang sangat ceria, sederhana dan tipe
orang yang banyak tersenyum. Banyak orang yang senang berteman dengan Andri.
Andri pun bukan termasuk orang yang suka pilih-pilih teman karena dia mengikuti
nasihat Papanya yang mengatakan kalau suatu saat temanlah yang bakal membantu
kita di masa depan kelak.
Untuk
dari penampilan, Andri lebih memilih penampilan yang santai tanpa harus banyak
aksesoris. Karena menurutnya, berpakaian itu haruslah yang membuat dirinya
sendiri nyaman tanpa harus memperhatikan apa yang dibicarakan orang lain.
Kebanyakan pakaiannya adalah kaos oblong dan juga kemeja polos warna putih dan
biru muda yang biasa digunakannya untuk pergi bekerja. Walaupun dia sendiri
bilang yang penting adalah kenyamanan kalau menyangkut penampilan, dengan
perawakannya, dia sebenarnya cocok menggunakan pakaian apapun.
Keluarga
Andri sendiri merupakan keluarga yang dikenal masyarakat sekitar sebagai
keluarga yang ramah dan penuh kebahagiaan. Keluarga yang tediri dari Sang Papa
yang seorang pengusaha yang bisa dianggap sukses dengan cabang restorannya
tersebar di sekitar daerah Jabodetabek, Jawa Barat, beberapa kota di Jawa
Tengah dan Jawa Timur, serta beberapa kota besar di pulau Sumatera dan
Sulawesi. Dan juga sudah mulai merambah daerah Asia dan Eropa. Sang Mama
merupakan ibu rumah tangga biasa yang memiliki hobi menjahit semasa masih muda.
Mama Andri juga memiliki garis keturunan seorang bangsawan Kesultanan
Yogyakarta. Tetapi, dia lebih memilih untuk tidak terlalu membuka soal itu dan
lebih memilih untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik. Serta ada Andri
dan sang Adik, Ratna.
Keluarga
Andri ini adalah gambaran dari keluarga yang sangat harmonis. Mereka selalu
makan malam bersama. Masing-masing anggota keluarga sangat dianjurkan untuk
pulang tepat waktu. Mereka juga kadang melakukan gotong royong membersihkan
rumah bersama-sama. Walaupun mereka memiliki asisten rumah tangga, tetapi
karena asisten rumah tangga mereka tidak menginap dirumah, maka kalau hari
gotong royong, biasanya mereka memberikan libur kepada sang Asisten Rumah
Tangga, mbak Ani.
Tetapi,
ada pepatah mengatakan, “Ketika kita
mendapatkan sesuatu, maka bersiaplah untuk kehilangan sesuatu.” Dan dimana
ada kebahagiaan, disitu pula terdapat kesedihan. Bagaikan dua kutub magnet yang
pasti ada, utara dan selatan. Dan seperti tersambar petir disiang bolong yang
disertai hujan badai yang maha dahsyat, kebahagiaan itu seolah lenyap dari
keluarga Andri ketika Papanya dikabarkan sudah tiada.
Dua
setengah tahun yang lalu, tepatnya 17 September 2012, pada saat itu sang Papa
sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah. Karena Papa saat itu ada meeting
dengan partner kerjanya membahas tentang kerjasama untuk pembukaan cabang di
Eropa, dia jadi pulang terlambat. Papa yang membawa sendiri mobilpun mengalami
kecelakan di Jalan M.H. Thamrin. Sebuah bus kopaja menabrak sang Papa dari
jalur berlawanan ketika dia sedang mencoba memotong mobil yang ada didepannya.
Karena ada aturan dirumah yang mengharuskan untuk pulang tepat waktu, dia pun
menjadi terburu-buru, lalu terjadilah kejadian tersebut. Mobil hancur parah dan
dia meninggal dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
Kebahagiaan
dan tawa yang selalu hadir dalam keluarga tersebut, perlahan hilang seiring
bertambahnya hari meninggalnya sang Papa. Keluarga Andri menjadi pemurung dan
cenderung tertutup. Andri menjadi takut untuk membawa mobil karena trauma
dengan kejadian Papanya dan dia lebih memilih untuk membawa motor kalau pergi
kemana-mana. Dia juga memutuskan untuk resign
dari pekerjaannya sebagai manajer restoran Papanya dan sementara ini restoran
itu dipegang oleh adik sang Papa, Om Subagyo.
Kurang
lebih enam bulan keluarga Andri menutup diri. Mereka hampir tidak keluar rumah
kemanapun karena masih berkabung atas meninggalnya Papa. Apabila mereka ingin
membeli sesuatu diluar, mereka biasanya menyuruh Asisten Rumah tangga mereka,
mbak Ani, untuk melakukannya.
Dan
tepat bulan keenam kepergian Papa, pukul 14.15.
Saat
itu Mama sedang menjahit pesanan baju temannya. Andri sedang menonton TV sambil
ngemil sebuah cemilan dari dalam toples. Ratna belum pulang dari sekolah.
Melihat anaknya yang sedang menonton TV, Mama tau apa yang dirasakan Andri.
Mama lalu menghentikan kegiatan menjahitnya lalu melihat ke arah Andri yang
masih menonton TV sambil menghela nafas panjang.
“Kak,
keluar gih sana kemana gitu. Cari udara seger, ketemu temen-temen kamu gitu.”
Mendengar
hal itu, Andri diam saja sambil melanjutkan menonton TV-nya sambil melanjutkan
ngemil makanan yang ada ditangan kirinya.
“Kakak.”
“Apa
Mama?”
Andri
tetap tidak mengalihkan pandangannya dari TV dan terus melanjutkan makannya.
“Keluar
sana. Cari udara seger, ketemu temen-temen kamu gitu. Jalan-jalan kek kemana.”
Kata Mama yang kali ini melanjutkan kegiatan menjahitnya.
Seketika
Andri menghentikan makannya dan langsung mencari remote TV untuk mengganti
channel.
“Mau
kemana emang, Ma? Enakan juga dirumah. Males mau keluar-keluar. Ga ada yang
menarik.”
“Ya
terserah kamu mau kemana. Yang penting keluar. Daripada kamu dirumah kan.
Lama-lama bisa dipenuhi sarang laba-laba tuh badan kamu.” Mama sedikit tertawa
disela-sela menjahitnya.
“Apaan
coba.”
Ketika
Andri mencari-cari channel, pilihannya terhenti pada liputan artis yang sedang
melakukan jalan-jalan keluar negeri. Andri membesarkan volume TV sambil
diliputi rasa penasaran. Di TV terlihat sebuah pemandangan sebuah kota yang
sangat modern, bersih, banyak ruang hijau dan kebetulan saat itu sedang musim
dingin.
Ya,
artis yang dilihatnya di TV itu sedang melakukan peliputan sambil jalan-jalan
ke Negara Gingseng, Korea Selatan. Melihat peliputan dan keadaan kota Seoul
yang jauh lebih tenang dibanding Jakarta menarik perhatian Andri. Pikirannya
pun melayang bila dia berada disana. Senyum pun keluar dari bibirnya setelah
sekian lama sempat menghilang dari wajahnya.
“MA!!”
Mama
pun kaget mendengar suara Andri.
“Astaghfirullahaladzim...”
Hampir saja jahitan yang dia buat menjadi salah arah.
“Kamu
apaan sih, kak? Tiba-tiba teriak gitu. Hampir aja rusak nih baju orang.”
Mama
memeriksa kembali jahitannya apakah ada yang rusak atau tidak.
“Ma,
kalau Andri keluarnya itu keluar negeri boleh gak, Ma? Boleh ya boleh ya.”
Pinta Andri dengan mata yang berbinar binar sambil menatap Mamanya dari balik
sofa tempat dia duduk.
Melihat
hal itu, Mamapun tersenyum. Senyuman yang hilang cukup lama dari keluarga
itupun kembali. Senyuman Andri yang mirip sekali sama sang Papa hampir saja
membuat Mama meneteskan air mata. Dia mencoba menarik nafas dalam dan membalas
pandangan mata anaknya dengan senyuman.
“Memangnya
kamu mau kemana? Sama siapa?” tanya sang mama sambil menatap mata sang anak
dalam.
“Mau
kesono, Ma” jawab Andri sambil menunjuk ke arah TV. “Maunya pergi sendirian aja
sih. Boleh ya, Ma?” pinta Andri.
Mama
lantas membenarkan letak kacamatanya dan mencoba melihat ke arah TV yang
ditunjukkan oleh Andri. “Itu dimana, Kak? Ga keliatan Mama.” Mama sambil
memicingkan matanya.
“Itu
Seoul, Ma. Korea Korea. Keren kan kotanya. Kayaknya seru deh kalo liburan
kesana. Mana lagi musim dingin, Ma. Siapa tau bisa bawa pulang salju hehehe.”
Mama
yang kembali melanjutkan kegiatan menjahitnya.
“Bener
kamu mau kesana?”
“Beneran,
Ma. Kan Mama tadi bilang kalo boleh keluar cari udara seger. Seminggu aja ma,
gak usah lama-lama nih beneran.” Andri mencoba meyakinkan sang mama.
Lalu
suasana menjadi tenang. Hanya terdengar suara wanita yang sedang berbicara di
TV dan suara mesin jahit sang Mama.
“Yaudah
deh boleh.” Kata Mama dengan tenang sambil melanjutkan kegiatannya.
“YEAY
!!!”
Andri
bersorak kegirangan mendengar jawaban Mamanya sambil melompat-lompat diatas
sofa tempat dia duduk.
Melihat
hal itu, Mama menghentikan kegiatan menjahitnya untuk melihat reaksi Andri yang
sangat lucu. Terlihat senyum mama yang makin lebar. Melihat Andri yang begitu
senang, pecahlah tawa sang Mama. Lalu, Mama pun membatin,
”Pa,
makasih karena Papa ternyata gak ninggalin kami disini.”
Melihat
Andri yang kegirangan, lalu melompat-lompat menjadi-jadi, Mama pun langsung
memasang muka cemberut.
“Kak?”
Tak
terdengar jawaban.
“KAK
!!!”
Andri
yang sedang melompat-lompat pun terkejut mendengar teriakan Mamanya. Hampir
saja dia terjatuh dari sofa yang dia lompati kalau tidak memegang ujung dari
sofa tersebut.
“Apaan
sih, Ma?”
“Kamu
lompat-lompat kayak anak Kangguru aja. Awas jebol noh tu sofa. Cuma
satu-satunya itu sofa didunia ini. Mana adik kamu si Ratna kan suka tiduran
disitu.” Mama lalu melanjutkan kegiatan menjahitnya.
“Lagian
kamu juga udah besar masih aja lompat-lompat kayak anak kecil. Gak habis pikir
Mama.”
Mendengar
hal itu, Andri seketika menjadi malu dan langsung turun dari sofa yang
dilompati. Dia segera mengambil langkah seribu menuju kamarnya.
“YIIHHIIW...
!!!”
Didalam
kamar terdengan suara Andri yang berteriak kegirangan. Mendengar itu, Mama
hanya bisa melanjutkan kegiatannya sambil tersenyum lebar.
Seminggu
sebelum keberangkatan, Andri melakukan riset mengenai Korea Selatan dan segala
tempat wisata yang ada disana. Mulai dari Itaewon yang merupakan surganya dari
para pelancong yang ada diseluruh dunia,
ada juga Jongro Gwangjang Market yang merupakan tempat dari seluruh
makanan tradisional Korea Selatan, lalu berlanjut ke N Seoul Tower yang
merupakan tempat nomor satu yang pasti dikunjungi oleh para wisatawan dan dapat
juga melihat seluruh kota Seoul dalam sekali lihat, hingga Gwanghwamoon Hangul
Gaon Road yang merupakan jalan dimana pusat wisata kebudayaan Korea Selatan ada
disana.
Andri
langsung memesan sebuah kamar hotel di tengah kota Seoul. Sebuah hotel
sederhana khusus para backpacker tetapi nyaman sekali. Andri memilih hotel itu
karena melihat suasana hotel yang terasa nyaman serta terlihat sekilas seperti
kamarnya. Dia juga melihat menu makanan yang disajikan di hotel tersebut,
sesuai dengan perut Indonesianya. Disamping itu, harga hotel khusus para
backpacker yaitu hotel Inside Backpacker juga menawarkan harga 16.000 won per
malam atau sekitar 186.120 rupiah (Kurs 1KRW = 11,62IDR) pun dirasanya sangatlah
murah untuk layanan yang ditawarkan.
Andri
begitu mengagumi dengan apa yang dilihatnya di internet dan membuatnya semakin
bersemangat ingin segera berangkat ke Seoul. Dia juga membayangkan berada
ditempat yang dia cari dan perasaan itu selalu terbayang dalam lamunannya
sebelum tidur dan berharap kalau hari keberangkatannya bisa dipercepat.
H-1,
Andri mulai berkemas barang-barang hingga pakaian apa yang akan dipakainya. Dia
juga menambahkan jaket tebal musim dingin serta banyak syal buatan Mamanya
karena dia mendapat info kalau di Seoul sendiri sedang musim dingin. Tak lupa
dia juga membawa obat-obatan yang diperlukan dan beberapa minyak angin
takut-takut kalau dia masuk angin karena cuaca yang dingin. Andri pun banyak
menerima wejangan dari sang Mama tentang apa yang akan dan harus dilakukan
maupun dihindari ketika dia berada di Seoul.
Hari
H pun tiba, tepat tanggal 19 Maret 2013, Andri langsung menelpon jasa Taksi.
Dia pergi ke bandara ditemani Mama dan Ratna, yang rencananya juga akan
mengambil pesawat menuju Jogjakarta selama Andri pergi.
Pesawat
Andri berangkat pukul 12.00 WIB sedangkan pesawat menuju Jogja berangkat pukul
14.00 WIB. Sesampainya dibandara, tepat
pukul 11.40 WIB, Andri mendapatkan lagi wejangan dari sang Mama sebelum
keberangkatannya. Dia juga sempat bermain dan bercanda bersama Ratna.
Pukul 11.45 WIB panggilan pesawat menuju Seoul
terdengar. Andri segera pamit ke Mama dengan mencium tangan dan juga kening Mama.
Dia juga mendapatkan ciuman kening dari Mama. Tak lupa juga dia mencium kening
Ratna.
Dan
setelah mendapat restu, dia segera melangkah dengan pasti menuju pesawat.
Diiringi senyum bahagia, serta perasaan yang senang sambil membayangkan apa yang
akan dia lakukan serta tempat–tempat wisata yang akan dikunjunginya nanti
seperti riset yang dia lakukan.
Pukul
12.00 WIB pas, pesawat Andri mulai melesat menuju menuju Angkasa. Dengan cepat
pun pesawat segera meninggalkan landasan dan segera terbang membelah langit
indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar