Episode 1: IT’S DIFFERENT, BUT IT’S
GOOD
Jakarta,
12 Maret 2015
Jakarta,
kota yang identik dengan macet, asap dan debu disana sini, banyaknya PKL yang
berjualan, ditambah tingginya mobilitas penduduk Jakarta maupun yang dari luar
Jakarta, bekerja mengais rejeki dan
mencoba peruntungan di ranah ibukota, kini terlihat lebih lengang daripada
biasanya. Sesuatu yang sangatlah jarang terjadi di ranah betawi ini.
Di
salah satu sudut kota Jakarta, terdapat sebuah bank swasta yang namanya cukup
terkenal di Indonesia. Bank yang merupakan salah satu cabang dari kantor pusat
ini selalu ramai didatangi oleh nasabah untuk melakukan transaksi. Tak sedikit
pula orang dengan kendaraan mewah dan pakaian yang serba wah terlihat datang untuk melakukan transaksi besar di bank ini.
Sore
itu jam 4 lewat 50 menit. 10 menit lagi menuju jam tutup bank. Para nasabah pun
sudah tidak terlihat lagi untuk melakukan transaksi. Hanya terlihat beberapa
karyawan karyawan sedang sibuk membereskan dan merapikan meja kerja mereka,
bersiap untuk pulang.
Karyawan
bagian administrasi yang ada di lantai 3 pun sama. Mereka tampak sudah
bersiap-siap pulang. Beberapa karyawan terlihat ada yang sedang bercanda antar
sesama partner kerja ataupun hanya bermain
handphone.
“Woi
Ndri..” Panggil seseorang. Dia adalah Yudi, salah satu staff Administrasi
memanggil rekan kerjanya, Andri, yang kebetulan berada satu baris meja yang
sama dengannya.
Andri
yang saat itu sedang memainkan handphonenya
sambil memegang segelas kopi yang sudah tinggal setengah itu, langsung menoleh
ke arah Yudi yang ada di sebelah kanannya. Dia menoleh sejenak ke arah Yudi,
“Kenape?”
“Asik
bener kayaknya tu main handphone.
Liat apaan?” Tanya Yudi sambil mencoba memanjangkan lehernya ke arah Andri yang
sedang memegang handphone namun
usahanya sia-sia karena layar hp dari Andri yang gelap.
“Lu
liat yang jorok-jorok ya?” sambungnya sambil memainkan kedua alisnya.
Andri
lalu menaruh handphone dan
cangkirnya.
“Enak
aja. Lu kali tu handphone lu penuh
sama yang jorok-jorok. Hahahaha.”
Mendengar
itu, Yudi langsung sewot dan langsung membuang pandangannya dari Andri
“Elu
kali noh ngoleksi.”
Andri
hanya bisa tersenyum nyinyir kearah Yudi yang sedang membuang pandangannya dari
dirinya.
Tak
lama, Yudi langsung mengembalikan pandangannya kearah Andri. Dan ketika dia
mengembalikan pandangannya ke arah Andri, dia langsung kaget melihat Andri yang
sedang menarik hidungnya keatas.
“Astaghfirullah... Sialan lu ya. Gua
sumpahin jadi babi ngempret lu.”
“Bodok...
Wekk. Hehehe ” Ejek Andri sambil mengeluarkan lidahnya.
Yudi
makin kesal dengan kelakuan Andri. Sementara Andri hanya bisa tertawa kecil.
“Eh
iya, gua mau curhit eh curhat nih.”
Yudi
membuka pembicaraan sambil memberikan pandangan super serius ke arah Andri.
“Mata
oi mata... Biasa aja. Gua colok tuh mata lama-lama. Sok serius lu. Huuu.”
Andri
lantas langsung mengambil handphonenya
kembali. “Curhat apaan? Kalo lu mau curhat soal utang lu yang udah numpuk di
kantin dan pengen mencoba merayu gue buat ngerelain ngebayarin elu, jujur gua
gak mau.” Sambungnya dengan tatapan yang tetap ke arah handphonenya.
“Enak
aja lu. Eh tapi boleh juga tuh. Mau ya lu bayarin utang gua di kantin.”
Jawabnya sambil memberikan mata genitnya ke Andri.
Andri
yang melihat mata genit Yudi langsung terkejut dan langsung meremukkan kertas
tak terpakai yang ada dimeja kerjanya dan melemparkannya ke arah Yudi. Tapi
sayangnya kertas itu berhasil ditangkap oleh Yudi dengan satu tangan. Usut
punya usut, Yudi merupakan Kiper tim Futsal kantor yang bisa dibilang cukup
hebat.
“Lu
lupe apa gua kiper futsal tim kantor. Hahahahah ” Lagak Yudi.
Seketika
Andri langsung membuat sipit matanya ke arah Yudi lalu langsung mengembalikan
pandangannya ke handphonenya.
“Eh
beneran gua mau curhat.” Kata Yudi sambil melempar bola kertas itu ke arah tong
sampah yang ada di dekat kakinya, walaupun tidak masuk.
”Ini
soal cewek bro.” Dengan nada serius.
“Iye
apaan? Gua bantu sebisa gua yak.” Jawab Andri.
“Gini
Ndri, lu tau si Veny, pacar gue, anak gedung sebelah kan....”
“iye
kenape? Lu putus sama die?” potong Andri.
“Enak
aja lu.” Yudi langsung sedikit menaikkan nada bicaranya.
“Yaelah,
kan gua cuma nanya Yud.” Kata Andri enteng. “Perasaan lu kan udah lama pacaran
sama dia. Terus problemnya apaan?”
Sambung Andri serius.
“Iye,
kite kan udah pacaran tu ada mau 2 tahun nih. Tapi kenapa ya akhir-akhir ini
gua ngerasa bosen gitu. Rasanya mau putus tapi gak mau. Padahal awalnya gua
yakin dia itu bakal jadi yang terakhir buat gue, tapi gak tau kenapa
akhir-akhir ini gua selalu mikir mau putus sama dia.”
Yudi
terlihat sedikit sedih sambil menundukkan kepalanya. Andri pun hanya bisa
memandang kasihan kepada temannya ini. Lalu dia mulai menepuk-nepuk punggung
Yudi yang sedang tertunduk.
“Bosen
kan wajar, bro. Dalam dunia perpacaran
mah, emang ada tuh periode bosen-bosennya pacaran gitu. Jalanin aja dulu lah. Lu
juga kan udah lumayan lama pacaran sama dia. Bentar lagi paling juga ilang
bosennya.”
“Haeeeeh... Tapi kayaknya ini udah gak
ketolong deh Ndri. Kita juga akhir-akhir ini sering berantem, ya gara-gara
bosen ini. Padahal dari awal gua udah ngerasa kalau dia itu bener-bener
refleksi gue. Semua yang ada di die itu sama kayak gue, terutama di sifat. Bisa
dibilang juga kalau dia itu diri gue yang lain. Tapi entah kenapa gitu bisa
muncul perasaan gini ya. Padahal kan kata orang-orang ya, kalo kita punya
pasangan yang persis sama kayak kita itu, artinya bagus, jodoh gitu, jadi ga
usah lagi susah-susah usaha karena sudah sama, jadi kebutuhan batiniah itu
terpenuhi gitu dengan mudah. Tapi kenapa ya sekarang gue pengen banget pisah
dari die. Hadehhhh.“
Yudi
langsung menghela napas panjang. Andri yang mendengar pun hanya bisa terdiam mengamati
ekspresi temannya ini sambil mencoba berpikir apa yang ingin disampaikannya
untuk membantu temannya ini.
Lalu
Andri membuka suara,
“Gini
ya Yud, banyak orang berfikir, adanya kesamaan membuat suatu hubungan akan
berjalan dengan lancar. Mereka berfikir pula dengan kesamaan itu, maka akan
memudahkan dalam membuat langkah suatu hubungan semakin baik.
Bagaimana
dengan perbedaan? Manusia kadang berfikir sebaliknya. Adanya perbedaan menjadi
penghalang dalam suatu hubungan. Mereka menganggap perbedaan itu tidak baik.
Lalu
apakah kesamaan itu baik? Tidak juga. Malah mungkin dengan makin banyaknya
kesamaan akan membuat hubungan itu semakin membosankan karena kita sudah tau
apa yang diinginkan, apa yang dilakukan, apa yang disukai dari pasangan kita.
Kesamaan
ini kebaikannya hanya diawal, karena memang seru kalau banyak kesamaan dengan
pasangan kita. Tapi, ketika hubungan itu akan semakin lama, semakin jauhnya
perjalanan antara pasangan ini, maka kebosanan pun akan datang. Kebosanan yang
seharusnya dihindari, malah datang dengan sendirinya.
Tapi,
Kalau
kita menilai dari sisi perbedaan. Pasangan yang memiliki banyak perbedaan
inilah yang pastinya akan lebih baik. Mereka bukan bertentangan satu sama lain,
tetapi saling melengkapi. Ini yang kadang kita tidak sadar bahwa setiap
perbedaan itu baik.
Sangat
jauh berbeda dengan banyaknya kesamaan dalam menjalani hubungan, banyaknya perbedaan
justru membuat suatu hubungan itu menjadi menarik dan tidak membosankan. Akan
banyak kejutan dari setiap momen-momen dalam menjalin hubungan ini. Tentu saja,
kalau kita bisa menyikapi perbedaan itu dengan baik, maka hasilnya akan jadi
luar biasa.
Perbedaan
itu bukanlah penghalang dalam menjalani hubungan. Tapi, menjadi suatu alat
untuk melengkapi satu sama lainnya. Misalkan si pria minum kopi dan si wanita
minum teh, lantas itu menjadi penghalang? Tentu saja tidak. Perbedaan kecil
inilah yang membuat hubungan ini menjadi menarik karena mereka saling
melengkapi tanpa harus mencari kesamaan satu sama lain.”
Andri
langsung memberikan senyuman hangat dan kasihannya kepada Yudi. Dia lalu
kembali menyeruput kopi hitamnya yang tinggal sekali hisapan. Sementara Yudi
hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kagum dan bertepuk tangan
kecil setelah mendengarkan kuliah singkat dari Andri.
“Buset
dah, panjang amat penjelasan lu Ndri. Gua berasa kuliah lagi. Tapi ya, Ndri...”
“Ahh
sedap banget nih kopi. Numero uno,
tiada duano. Mbak Nanik memang jago banget buat kopi ya. Bisa sedap gini
rasanya.” Potong Andri sambil memejamkan matanya dan menyandarkan seluruh
badannya ke kursi kerjanya.
“Yaelah
lu Ndri, orang baru aja mau ngomong, udah lu potong aje. Hadeeehh.”
Yudi
langsung memberikan senyuman masamnya lalu mendorong kursi kerjanya ke meja
kerjanya dan langsung meraih cangkir minumnya.
“Hahahaha
abis enak beneran Yud. Cobain dah kalo lu gak klepek-klepek nih minumnya.”
Andri
langsung mendorong kursinya kearah Yudi yang ada di sebelahnya sampai menabrak
Yudi. Dan karena tabrakan dengan Andri, Yudi yang sedang memegang cangkirnya
hampir saja menjatuhkan cangkirnya walaupun hampir setengah airnya tumpah ke
lantai.
“Buset
dah lu, sampe tumpah semua minum gua. Mana nih baju ngikut basah. Asem bener lu
Ndri.”
“Hehehe
sori bro, kagak sengaja gua. Elu sih, badan lu tipis bener. Gua kira kertas HVS
lu. Lebih tepatnya kertas HVS yang kesirem tinta item....keseluruh bagian
kertasnya.”
Andri
lantas tertawa terbahak-bahak tak tertahankan.
Lalu,
PRAKK!!
”Hadaooowww.”
Dia
terjatuh dari kursi yang dia duduki. Karyawan lain yang ada di ruangan itu
langsung menoleh ke arah sumber suara mencari tahu apa yang sedang terjadi.
“Hahahahaha.
Sukurin lu kena batunya kan langsung.”
Ejek
Yudi sambil menyeruput minumnya yang langsung dia habiskan dalam sekali isapan.
“Elu
dah, temen jatoh malah diketawain.” Andri sembari beranjak dari lantai. “Gilak,
sakit bener pantat gua. Hadeeh mana basah lagi kena minum lo yang jatoh Yud.” Keluhnya
sambil mencoba mengusapkan tisu ke celananya yang basah. “Hadeeeh apes bener dah
gua. Bisa masuk angin nih”
“Makan
tuh, udah jatoh ketiban genteng lu. Huuuuuu.” Ejek Yudi.
Selesai
mengelap celananya dengan tisu, dia langsung mengembalikan posisi kursinya. Tak
lupa Andri juga memberikan isyarat tangan seperti ingin memukul ke arah Yudi.
“Sialan
lu.”
Yudi
pun langsung membuat mode bertahan dengan mengangkat kedua tangannya disertai
kakinya yang juga ikut terangkat dan hanya tertawa melihat hal itu.
“Eh
tapi Ndri, kok lu pakem bener sih soal kesamaan dan perbedaan dalam hubungan
gitu. Dari gaya lu ngomong tadi aja udah kayak dosen gua pas Kuliah dulu. Pro-pe-si-o-nal
bener. Pengalaman ya lu? Ato cuma baca dari internet?” Sambung Yudi lepas
tertawa dengan penuh penasaran.
Andri
hanya memberikan pandangan sekilas ke arah Yudi sambil membuang tisu tadi ke
arah kotak sampah yang ada di bawah mejanya.
“Hmm...
gimana ya.”
Tiba-tiba
ruangan terasa sunyi. Yudi mencoba memandang Andri yang ada di sebelah kirinya
sambil memegang cangkir kosong bekas minumnya. Cukup lama Andri terdiam, seakan
memikirkan sesuatu.
“Gini
ya Yud, sebenernya....”
Lalu
tiba-tiba,
“Yak,
temen-temen udah jam 5 sore ini. Yuk pulang yuk.” Potong Pak Dodi, sang Manajer
sambil berdiri didepan pintu ruangannya.
Semua
orang mulai bersiap pulang termasuk Pak Dodi. Begitu juga dengan Andri dan Yudi
yang segera meninggalkan meja kerja mereka.
“Kita
pulang duluan ya, Pak.” Kata Andri kepada Pak Dodi ketika mereka melewati
ruangan Pak Dodi. Pak Dodi yang kebetulan sedang berdiri didepan pintu
ruangannya sambil membenarkan kaos rompinya yang berwarna cokelat dan abu abu
dengan kemeja warna merah muda pada bagian dalamya terlihat agak terkejut dan
menghentikan kegiatannya.
“Oh
ya silahkan.” Katanya dengan ramah.
“Hati-hati
dijalan yah kalian berdua.” Sambunganya sambil memberikan senyuman kepada Andri
dan Yudi. Andri dan Yudi pun hanya membalas senyuman ke arah Pak Dodi.
Setibanya
di luar kantor, Andri dan Yudi langsung segera ke parkiran motor yang ada
didepan kantor mereka.
Yudi
yang merasa belum mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tadi kembali
menanyakan kepada Andri. Dia lalu mendekati Andri sambil memegang helmnya.
“Jadi
gimana tadi Ndri?”
“Gimana
apanya?” Tanya balik Andri sambil memasang helmnya.
“Yaelah
elu mah cepet banget lupanya. Kayak engkong gua lu.” Keluh Yudi sambil memasang
helmya dengan muka manyun.
“Soal
perbedaan dan persamaan yang lu jelasin tadi Ndri. Kan belum kelar tadi lu
ngomong, udah dipotong sama si Dodi.” Cerocos Yudi. Dia lalu melihat ke arah
sekitar siapa tau Pak Dodi sedang didekat mereka.
“Jadi
gua itu harus gimana, Ndri?” sambungnya ditambah ekspresi sedihnya sambil
membenarkan posisi helmnya.
Andri
lalu membuka handphonenya dan
mengotak-atiknya.
“Ya
kalau menurut gua sih, elu kalo bisa jangan terlalu terpaku sama kesamaan yang
kalian punya gitu. Cari titik lemah masing-masing, dan coba untuk isi kelemahan
itu. Pasti ada kok.” Jawabnya sambil tetap terpaku pada handphonenya.
Andri
lalu mengubah arah pandangnya dari handphone
ke arah Yudi dengan wajah penuh kasihan.
“Gini
loh Yud. Orang menjalin suatu hubungan itu untuk saling melengkapi, bukan
saling menyamakan.”
“Oh
gitu ya. Okedeh gua bakal coba.” Yudi hanya bisa terdiam lalu memberikan senyuman
semampunya ke arah Andri yang langsung dibalas dengan senyuman
“Dan
lu juga harus ngomongin soal bosen ini ke pacar lu, jadi kalian itu bisa
masing-masing ngasih kelemahan kalian dan bisa ngisi kelemahan itu. Dan kalau
bisa, lu bedua harus mulai belajar untuk bisa saling ngerti satu sama lain.
Berantem itu boleh, tapi kalau bisa, diselesaikan langsung saat itu juga.”
Sambung Andri sambil memasukkan handphonenya ke dalam kantongnya.
“Okahaay.”
Jawab Yudi dengan senyuman. “Eh lu kok pakem banget soal beginian. Dapet
darimana? Film ato pengalaman pribadi?” Sambungnya.
“Sebenernya
sih, gua punya pengalaman soal perbedaan dan kesamaan itu. 2 tahun yang lalu
sih sebenernya kejadiannya.”
Yudi
lalu melingkarkan tangannya ke pundak kiri Andri.
“Ya
terus ceritanya gimana?”
Andri
langsung menyingkirkan tangan Yudi dari bahunya.
“Ya
gak gimana-gimana. Udah ah, males gua cerita soal masalah itu. Biarkanlah
menjadi masa lalu. Gua duluan ya bro.”
Andri
langsung menyalakan motornya dan langsung tancap gas dengan motor maticnya.
“WOI
NDRI !”
Teriak
Yudi ketika Andri dan motornya berlalu.
“Yaelah tuh anak langsung nyelonong aja macem
soangnya Kong Juki. Udah ah mending gua langsung nemuin Veny. Terus makan nasi
goreng Kang Udin bareng deh. Yihii.” Dia lalu langsung menuju gedung yang ada
disebelah kantornya dengan riang gembira.
Dalam
perjalanan pulang, kali ini perjalanan Andri terlihat berat sekali. Bukan
karena dia membawa sesuatu, seperti kulkas atau lemari, tetapi perasaannya yang
terasa sangat berat. Andri langsung kembali teringat kisah yang diceritakan
oleh Yudi mengenai keadaan hubungannya. Dia juga terpikir kembali mengenai
penjelasannya kepada Yudi soal persamaan dan perbedaan dalam hubungan. Di jalan
pun ia terlihat sedikit melamun dan kembali mencoba mengingat apa yang terjadi
2 tahun dulu. Ketika memory itu mulai memenuhi lamunannya...
TIN...!!!
TI~N...!!!
Suara
klakson mobil membuyarkan lamunan Andri.
“Woi
Mas, udah lampu ijo tu Mas. Maju cepet. Saya buru-buru.”
Teriak
seorang lelaki paruh baya dari dalam sebuah mobil bak terbuka. Andri yang kaget
mendengar suara klakson tersebut langsung gelagapan dan hampir saja terjatuh
dari motornya. Dengan sigap, ia langsung membenarkan posisi motornya lagi.
“Oh
iya Bang, maaf maaf...”
Pedagang
koran dan asongan yang ada dilampu merah tersebut terlihat tertawa sembunyi
melihat tingkah ceroboh Andri. Dengan wajah malu, dia langsung menutup kaca
helmnya dan segera menggas motornya melewati perempatan lampu merah tersebut.
Di sepanjang jalan, Andri tidak lagi memikirkan tentang apa yang terjadi 2
tahun sebelumnya. Dia fokus ke jalan hingga sampai kerumahnya.
Sekitar
15 menit setelah kejadian di lampu merah, tibalah Andri di depan sebuah rumah
yang tidak terlalu besar didalam komplek perumahan dengan cat warna krem dan
warna cokelat pada kayu pintu dan jendelanya. Andri segera turun lalu membuka
pagar rumah tersebut. Segera setelah pagar terbuka, ia lantas langsung
memasukkan motornya kedalam garasi rumahnya, tepat disebelah mobil sedan mewah
warna hitam dan segera memasuki rumahnya.
Good lah ...
BalasHapus