Minggu, 06 Desember 2015

One More Week Episode 1: IT’S DIFFERENT, BUT IT’S GOOD

Episode 1: IT’S DIFFERENT, BUT IT’S GOOD

Jakarta, 12 Maret 2015

Jakarta, kota yang identik dengan macet, asap dan debu disana sini, banyaknya PKL yang berjualan, ditambah tingginya mobilitas penduduk Jakarta maupun yang dari luar Jakarta,  bekerja mengais rejeki dan mencoba peruntungan di ranah ibukota, kini terlihat lebih lengang daripada biasanya. Sesuatu yang sangatlah jarang terjadi di ranah betawi ini.

Di salah satu sudut kota Jakarta, terdapat sebuah bank swasta yang namanya cukup terkenal di Indonesia. Bank yang merupakan salah satu cabang dari kantor pusat ini selalu ramai didatangi oleh nasabah untuk melakukan transaksi. Tak sedikit pula orang dengan kendaraan mewah dan pakaian yang serba wah terlihat datang untuk melakukan transaksi besar di bank ini.

Sore itu jam 4 lewat 50 menit. 10 menit lagi menuju jam tutup bank. Para nasabah pun sudah tidak terlihat lagi untuk melakukan transaksi. Hanya terlihat beberapa karyawan karyawan sedang sibuk membereskan dan merapikan meja kerja mereka, bersiap untuk pulang.

Karyawan bagian administrasi yang ada di lantai 3 pun sama. Mereka tampak sudah bersiap-siap pulang. Beberapa karyawan terlihat ada yang sedang bercanda antar sesama partner kerja ataupun hanya bermain handphone.

“Woi Ndri..” Panggil seseorang. Dia adalah Yudi, salah satu staff Administrasi memanggil rekan kerjanya, Andri, yang kebetulan berada satu baris meja yang sama dengannya.

Andri yang saat itu sedang memainkan handphonenya sambil memegang segelas kopi yang sudah tinggal setengah itu, langsung menoleh ke arah Yudi yang ada di sebelah kanannya. Dia menoleh sejenak ke arah Yudi,

“Kenape?”

“Asik bener kayaknya tu main handphone. Liat apaan?” Tanya Yudi sambil mencoba memanjangkan lehernya ke arah Andri yang sedang memegang handphone namun usahanya sia-sia karena layar hp dari Andri yang gelap.

“Lu liat yang jorok-jorok ya?” sambungnya sambil memainkan kedua alisnya.

Andri lalu menaruh handphone dan cangkirnya.

“Enak aja. Lu kali tu handphone lu penuh sama yang jorok-jorok. Hahahaha.”

Mendengar itu, Yudi langsung sewot dan langsung membuang pandangannya dari Andri

“Elu kali noh ngoleksi.”

Andri hanya bisa tersenyum nyinyir kearah Yudi yang sedang membuang pandangannya dari dirinya.

Tak lama, Yudi langsung mengembalikan pandangannya kearah Andri. Dan ketika dia mengembalikan pandangannya ke arah Andri, dia langsung kaget melihat Andri yang sedang menarik hidungnya keatas.

Astaghfirullah... Sialan lu ya. Gua sumpahin jadi babi ngempret lu.”

“Bodok... Wekk. Hehehe ” Ejek Andri sambil mengeluarkan lidahnya.

Yudi makin kesal dengan kelakuan Andri. Sementara Andri hanya bisa tertawa kecil.

“Eh iya, gua mau curhit eh curhat nih.”

Yudi membuka pembicaraan sambil memberikan pandangan super serius ke arah Andri.

“Mata oi mata... Biasa aja. Gua colok tuh mata lama-lama. Sok serius lu. Huuu.”

Andri lantas langsung mengambil handphonenya kembali. “Curhat apaan? Kalo lu mau curhat soal utang lu yang udah numpuk di kantin dan pengen mencoba merayu gue buat ngerelain ngebayarin elu, jujur gua gak mau.” Sambungnya dengan tatapan yang tetap ke arah handphonenya.

“Enak aja lu. Eh tapi boleh juga tuh. Mau ya lu bayarin utang gua di kantin.” Jawabnya sambil memberikan mata genitnya ke Andri.

Andri yang melihat mata genit Yudi langsung terkejut dan langsung meremukkan kertas tak terpakai yang ada dimeja kerjanya dan melemparkannya ke arah Yudi. Tapi sayangnya kertas itu berhasil ditangkap oleh Yudi dengan satu tangan. Usut punya usut, Yudi merupakan Kiper tim Futsal kantor yang bisa dibilang cukup hebat.

“Lu lupe apa gua kiper futsal tim kantor. Hahahahah ” Lagak Yudi.

Seketika Andri langsung membuat sipit matanya ke arah Yudi lalu langsung mengembalikan pandangannya ke handphonenya.

“Eh beneran gua mau curhat.” Kata Yudi sambil melempar bola kertas itu ke arah tong sampah yang ada di dekat kakinya, walaupun tidak masuk.

”Ini soal cewek bro.” Dengan nada serius.

“Iye apaan? Gua bantu sebisa gua yak.” Jawab Andri.

“Gini Ndri, lu tau si Veny, pacar gue, anak gedung sebelah kan....”

“iye kenape? Lu putus sama die?” potong Andri.

“Enak aja lu.” Yudi langsung sedikit menaikkan nada bicaranya.

“Yaelah, kan gua cuma nanya Yud.” Kata Andri enteng. “Perasaan lu kan udah lama pacaran sama dia. Terus problemnya apaan?” Sambung Andri serius.

“Iye, kite kan udah pacaran tu ada mau 2 tahun nih. Tapi kenapa ya akhir-akhir ini gua ngerasa bosen gitu. Rasanya mau putus tapi gak mau. Padahal awalnya gua yakin dia itu bakal jadi yang terakhir buat gue, tapi gak tau kenapa akhir-akhir ini gua selalu mikir mau putus sama dia.”

Yudi terlihat sedikit sedih sambil menundukkan kepalanya. Andri pun hanya bisa memandang kasihan kepada temannya ini. Lalu dia mulai menepuk-nepuk punggung Yudi yang sedang tertunduk.

“Bosen kan wajar, bro.  Dalam dunia perpacaran mah, emang ada tuh periode bosen-bosennya pacaran gitu. Jalanin aja dulu lah. Lu juga kan udah lumayan lama pacaran sama dia. Bentar lagi paling juga ilang bosennya.”

“Haeeeeh... Tapi kayaknya ini udah gak ketolong deh Ndri. Kita juga akhir-akhir ini sering berantem, ya gara-gara bosen ini. Padahal dari awal gua udah ngerasa kalau dia itu bener-bener refleksi gue. Semua yang ada di die itu sama kayak gue, terutama di sifat. Bisa dibilang juga kalau dia itu diri gue yang lain. Tapi entah kenapa gitu bisa muncul perasaan gini ya. Padahal kan kata orang-orang ya, kalo kita punya pasangan yang persis sama kayak kita itu, artinya bagus, jodoh gitu, jadi ga usah lagi susah-susah usaha karena sudah sama, jadi kebutuhan batiniah itu terpenuhi gitu dengan mudah. Tapi kenapa ya sekarang gue pengen banget pisah dari die. Hadehhhh.“

Yudi langsung menghela napas panjang. Andri yang mendengar pun hanya bisa terdiam mengamati ekspresi temannya ini sambil mencoba berpikir apa yang ingin disampaikannya untuk membantu temannya ini.

Lalu Andri membuka suara,

“Gini ya Yud, banyak orang berfikir, adanya kesamaan membuat suatu hubungan akan berjalan dengan lancar. Mereka berfikir pula dengan kesamaan itu, maka akan memudahkan dalam membuat langkah suatu hubungan semakin baik.

Bagaimana dengan perbedaan? Manusia kadang berfikir sebaliknya. Adanya perbedaan menjadi penghalang dalam suatu hubungan. Mereka menganggap perbedaan itu tidak baik.

Lalu apakah kesamaan itu baik? Tidak juga. Malah mungkin dengan makin banyaknya kesamaan akan membuat hubungan itu semakin membosankan karena kita sudah tau apa yang diinginkan, apa yang dilakukan, apa yang disukai dari pasangan kita.

Kesamaan ini kebaikannya hanya diawal, karena memang seru kalau banyak kesamaan dengan pasangan kita. Tapi, ketika hubungan itu akan semakin lama, semakin jauhnya perjalanan antara pasangan ini, maka kebosanan pun akan datang. Kebosanan yang seharusnya dihindari, malah datang dengan sendirinya.

Tapi,

Kalau kita menilai dari sisi perbedaan. Pasangan yang memiliki banyak perbedaan inilah yang pastinya akan lebih baik. Mereka bukan bertentangan satu sama lain, tetapi saling melengkapi. Ini yang kadang kita tidak sadar bahwa setiap perbedaan itu baik.

Sangat jauh berbeda dengan banyaknya kesamaan dalam menjalani hubungan, banyaknya perbedaan justru membuat suatu hubungan itu menjadi menarik dan tidak membosankan. Akan banyak kejutan dari setiap momen-momen dalam menjalin hubungan ini. Tentu saja, kalau kita bisa menyikapi perbedaan itu dengan baik, maka hasilnya akan jadi luar biasa.

Perbedaan itu bukanlah penghalang dalam menjalani hubungan. Tapi, menjadi suatu alat untuk melengkapi satu sama lainnya. Misalkan si pria minum kopi dan si wanita minum teh, lantas itu menjadi penghalang? Tentu saja tidak. Perbedaan kecil inilah yang membuat hubungan ini menjadi menarik karena mereka saling melengkapi tanpa harus mencari kesamaan satu sama lain.”

Andri langsung memberikan senyuman hangat dan kasihannya kepada Yudi. Dia lalu kembali menyeruput kopi hitamnya yang tinggal sekali hisapan. Sementara Yudi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kagum dan bertepuk tangan kecil setelah mendengarkan kuliah singkat dari Andri.

“Buset dah, panjang amat penjelasan lu Ndri. Gua berasa kuliah lagi. Tapi ya, Ndri...”

“Ahh sedap banget nih kopi. Numero uno, tiada duano. Mbak Nanik memang jago banget buat kopi ya. Bisa sedap gini rasanya.” Potong Andri sambil memejamkan matanya dan menyandarkan seluruh badannya ke kursi kerjanya.

“Yaelah lu Ndri, orang baru aja mau ngomong, udah lu potong aje. Hadeeehh.”

Yudi langsung memberikan senyuman masamnya lalu mendorong kursi kerjanya ke meja kerjanya dan langsung meraih cangkir minumnya.

“Hahahaha abis enak beneran Yud. Cobain dah kalo lu gak klepek-klepek nih minumnya.”

Andri langsung mendorong kursinya kearah Yudi yang ada di sebelahnya sampai menabrak Yudi. Dan karena tabrakan dengan Andri, Yudi yang sedang memegang cangkirnya hampir saja menjatuhkan cangkirnya walaupun hampir setengah airnya tumpah ke lantai.

“Buset dah lu, sampe tumpah semua minum gua. Mana nih baju ngikut basah. Asem bener lu Ndri.”

“Hehehe sori bro, kagak sengaja gua. Elu sih, badan lu tipis bener. Gua kira kertas HVS lu. Lebih tepatnya kertas HVS yang kesirem tinta item....keseluruh bagian kertasnya.”
Andri lantas tertawa terbahak-bahak tak tertahankan.

Lalu,

PRAKK!!

”Hadaooowww.”

Dia terjatuh dari kursi yang dia duduki. Karyawan lain yang ada di ruangan itu langsung menoleh ke arah sumber suara mencari tahu apa yang sedang terjadi.

“Hahahahaha. Sukurin lu kena batunya kan langsung.”

Ejek Yudi sambil menyeruput minumnya yang langsung dia habiskan dalam sekali isapan.

“Elu dah, temen jatoh malah diketawain.” Andri sembari beranjak dari lantai. “Gilak, sakit bener pantat gua. Hadeeh mana basah lagi kena minum lo yang jatoh Yud.” Keluhnya sambil mencoba mengusapkan tisu ke celananya yang basah. “Hadeeeh apes bener dah gua. Bisa masuk angin nih”

“Makan tuh, udah jatoh ketiban genteng lu. Huuuuuu.” Ejek Yudi.

Selesai mengelap celananya dengan tisu, dia langsung mengembalikan posisi kursinya. Tak lupa Andri juga memberikan isyarat tangan seperti ingin memukul ke arah Yudi.

Sialan lu.”

Yudi pun langsung membuat mode bertahan dengan mengangkat kedua tangannya disertai kakinya yang juga ikut terangkat dan hanya tertawa melihat hal itu.

“Eh tapi Ndri, kok lu pakem bener sih soal kesamaan dan perbedaan dalam hubungan gitu. Dari gaya lu ngomong tadi aja udah kayak dosen gua pas Kuliah dulu. Pro-pe-si-o-nal bener. Pengalaman ya lu? Ato cuma baca dari internet?” Sambung Yudi lepas tertawa dengan penuh penasaran.

Andri hanya memberikan pandangan sekilas ke arah Yudi sambil membuang tisu tadi ke arah kotak sampah yang ada di bawah mejanya.

“Hmm... gimana ya.”

Tiba-tiba ruangan terasa sunyi. Yudi mencoba memandang Andri yang ada di sebelah kirinya sambil memegang cangkir kosong bekas minumnya. Cukup lama Andri terdiam, seakan memikirkan sesuatu.

“Gini ya Yud, sebenernya....”

Lalu tiba-tiba,

“Yak, temen-temen udah jam 5 sore ini. Yuk pulang yuk.” Potong Pak Dodi, sang Manajer sambil berdiri didepan pintu ruangannya.

Semua orang mulai bersiap pulang termasuk Pak Dodi. Begitu juga dengan Andri dan Yudi yang segera meninggalkan meja kerja mereka.

“Kita pulang duluan ya, Pak.” Kata Andri kepada Pak Dodi ketika mereka melewati ruangan Pak Dodi. Pak Dodi yang kebetulan sedang berdiri didepan pintu ruangannya sambil membenarkan kaos rompinya yang berwarna cokelat dan abu abu dengan kemeja warna merah muda pada bagian dalamya terlihat agak terkejut dan menghentikan kegiatannya.

“Oh ya silahkan.” Katanya dengan ramah.

“Hati-hati dijalan yah kalian berdua.” Sambunganya sambil memberikan senyuman kepada Andri dan Yudi. Andri dan Yudi pun hanya membalas senyuman ke arah Pak Dodi.
Setibanya di luar kantor, Andri dan Yudi langsung segera ke parkiran motor yang ada didepan kantor mereka.

Yudi yang merasa belum mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tadi kembali menanyakan kepada Andri. Dia lalu mendekati Andri sambil memegang helmnya.

“Jadi gimana tadi Ndri?”

“Gimana apanya?” Tanya balik Andri sambil memasang helmnya.

“Yaelah elu mah cepet banget lupanya. Kayak engkong gua lu.” Keluh Yudi sambil memasang helmya dengan muka manyun.

“Soal perbedaan dan persamaan yang lu jelasin tadi Ndri. Kan belum kelar tadi lu ngomong, udah dipotong sama si Dodi.” Cerocos Yudi. Dia lalu melihat ke arah sekitar siapa tau Pak Dodi sedang didekat mereka.

“Jadi gua itu harus gimana, Ndri?” sambungnya ditambah ekspresi sedihnya sambil membenarkan posisi helmnya.

Andri lalu membuka handphonenya dan mengotak-atiknya.

“Ya kalau menurut gua sih, elu kalo bisa jangan terlalu terpaku sama kesamaan yang kalian punya gitu. Cari titik lemah masing-masing, dan coba untuk isi kelemahan itu. Pasti ada kok.” Jawabnya sambil tetap terpaku pada handphonenya.

Andri lalu mengubah arah pandangnya dari handphone ke arah Yudi dengan wajah penuh kasihan.

“Gini loh Yud. Orang menjalin suatu hubungan itu untuk saling melengkapi, bukan saling menyamakan.”

“Oh gitu ya. Okedeh gua bakal coba.” Yudi hanya bisa terdiam lalu memberikan senyuman semampunya ke arah Andri yang langsung dibalas dengan senyuman

“Dan lu juga harus ngomongin soal bosen ini ke pacar lu, jadi kalian itu bisa masing-masing ngasih kelemahan kalian dan bisa ngisi kelemahan itu. Dan kalau bisa, lu bedua harus mulai belajar untuk bisa saling ngerti satu sama lain. Berantem itu boleh, tapi kalau bisa, diselesaikan langsung saat itu juga.” Sambung Andri sambil memasukkan handphonenya ke dalam kantongnya.

“Okahaay.” Jawab Yudi dengan senyuman. “Eh lu kok pakem banget soal beginian. Dapet darimana? Film ato pengalaman pribadi?” Sambungnya.

Sebenernya sih, gua punya pengalaman soal perbedaan dan kesamaan itu. 2 tahun yang lalu sih sebenernya kejadiannya.”

Yudi lalu melingkarkan tangannya ke pundak kiri Andri.

“Ya terus ceritanya gimana?”

Andri langsung menyingkirkan tangan Yudi dari bahunya.

“Ya gak gimana-gimana. Udah ah, males gua cerita soal masalah itu. Biarkanlah menjadi masa lalu. Gua duluan ya bro.”

Andri langsung menyalakan motornya dan langsung tancap gas dengan motor maticnya.

“WOI NDRI !”

Teriak Yudi ketika Andri dan motornya berlalu.

“Yaelah tuh anak langsung nyelonong aja macem soangnya Kong Juki. Udah ah mending gua langsung nemuin Veny. Terus makan nasi goreng Kang Udin bareng deh. Yihii.” Dia lalu langsung menuju gedung yang ada disebelah kantornya dengan riang gembira.
Dalam perjalanan pulang, kali ini perjalanan Andri terlihat berat sekali. Bukan karena dia membawa sesuatu, seperti kulkas atau lemari, tetapi perasaannya yang terasa sangat berat. Andri langsung kembali teringat kisah yang diceritakan oleh Yudi mengenai keadaan hubungannya. Dia juga terpikir kembali mengenai penjelasannya kepada Yudi soal persamaan dan perbedaan dalam hubungan. Di jalan pun ia terlihat sedikit melamun dan kembali mencoba mengingat apa yang terjadi 2 tahun dulu. Ketika memory itu mulai memenuhi lamunannya...

TIN...!!! TI~N...!!!

Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Andri.

“Woi Mas, udah lampu ijo tu Mas. Maju cepet. Saya buru-buru.”

Teriak seorang lelaki paruh baya dari dalam sebuah mobil bak terbuka. Andri yang kaget mendengar suara klakson tersebut langsung gelagapan dan hampir saja terjatuh dari motornya. Dengan sigap, ia langsung membenarkan posisi motornya lagi.

“Oh iya Bang, maaf maaf...”

Pedagang koran dan asongan yang ada dilampu merah tersebut terlihat tertawa sembunyi melihat tingkah ceroboh Andri. Dengan wajah malu, dia langsung menutup kaca helmnya dan segera menggas motornya melewati perempatan lampu merah tersebut. Di sepanjang jalan, Andri tidak lagi memikirkan tentang apa yang terjadi 2 tahun sebelumnya. Dia fokus ke jalan hingga sampai kerumahnya.

Sekitar 15 menit setelah kejadian di lampu merah, tibalah Andri di depan sebuah rumah yang tidak terlalu besar didalam komplek perumahan dengan cat warna krem dan warna cokelat pada kayu pintu dan jendelanya. Andri segera turun lalu membuka pagar rumah tersebut. Segera setelah pagar terbuka, ia lantas langsung memasukkan motornya kedalam garasi rumahnya, tepat disebelah mobil sedan mewah warna hitam dan segera memasuki rumahnya.


1 komentar: