Episode 2: I HATE TO SEE YOUR HEART
BREAK
Melewati
ruang tamu, dia melihat Mamanya yang sedang menjahit pesanan baju disudut
ruangan. Terlihat sedikit letih diwajahnya, tetapi sang Mama tetap fokus dalam
melakukan pekerjaannya. Dia juga melihat adiknya, Ratna, seorang gadis berumur
13 tahun yang sedang menonton TV sambil berbaring di sofa yang berada tepat
didepan televisi tersebut.
“Udah
pulang, kak ?” Mama langsung menyambung kembali kegiatan menjahitnya. “Mau mama
buatin kopi untuk kamu?”
Andri
menoleh ke arah Mama sejenak.
“Gak
usah Ma. Tadi udah ngopi kok di kantor.”
Dia
lantas menuju ke meja makan lalu mengambil cangkir dan langsung menuangkan air
kedalamnya dan langsung membawanya menuju arah televisi.
“Nanti
malem jangan lupa temenin Mama nganterin baju pesanannya Bu Desi ya, kak” pinta
sang Mama sambil tetap terpaku pada mesin jahitnya.
“Jam
berapa?”
Andri
mulai menyeruput air yang ada ditangannya sembari berdiri didepan televisi
menonton acara yang ditonton adiknya, Ratna.
“Ba’da
Isya’. Bisa kan?” Tanya Mama sambil menghentikan jahitannya untuk menggaruk
kakinya yang gatal digigit nyamuk.
“Oke.”
Jawabnya sambil menaruh gelas minumnya ke meja didepan Ratna yang sedang
berbaring. Andri lalu menengok ke arah Ratna yang sedang berbaring di sofa.
“Ratna,
beliin kakak gorengan dong ditempatnya Ce Mumun.”
Ratna
yang sedang terpaku ke televisi langsung menoleh ke arah kakaknya sejenak sebelum
akhirnya mengembalikan pandangannya ke arah Televisi.
“Males
ah, Kak. Udah pewe nih, acaranya juga lagi seru.” Jawab Ratna sambil
menggonta-ganti saluran TV dengan remote. Andri langsung menjitak kepala Ratna
setelah mendengar jawabnnya.
“Seru
apaan. Kamu aja gonta-ganti acaranya. Kakak kasih upah nih. Gimana?”
Ratna
langsung memegangi kepalanya yang habis dijitak Andri.
“Ma,
lihat kakak ni, main jitak-jitak kepala aku.” Adu si Ratna ke Mamanya yang
sedang menjahit. Mama menghentikan sejenak kegiatan menjahitnya lalu tersenyum
melihat kelakuan kedua anaknya tersebut dan kembali melanjutkan kegiatan
menjahitnya.
“Hayuklah
beliin lah. Tadi kakak gak lewat warungnya Ce Mumun pas balik. Capek bener
kakak kalo mau keluar lagi. Kakak kasih dua rebu nih gimana?” Andri mencoba
menggoda Ratna dengan jurus sogoknya.
Ratna
langsung memanyunkan bibirnya ke arah Andri.
“Gilak
dua rebu dapet apaan kak. Isiin pulsa Ratna aja gimana? Sepuluh rebu doang kak.
Yah yah yah.”
Andri
lantas langsung mentoyor kepala Ratna dengan jari telunjuknya.
“Ebuset...!!
Kakak aja cuma minta beliin gorengan lima rebu dan lu minta upahnya sepuluh
rebu. Rugi bandar kita.”
“Yaudah
kalo gak mau.” Jawab Ratna enteng sambil kembali menggonta-ganti saluran TV.
“Nih
anak mata duitan bener.” Andri hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat
kelakuan adiknya ini. Lalu dia mengambil dompet dari kantong belakang celananya
dan mengeluarkan uang lima puluh ribu dan langsung menyodorkan ke arah adiknya.
“Nih
duitnye. Beli sono cepet.”
Melihat
ada uang didepannya, Ratna lantas langsung mengambil uang itu dengan secepat
kilat dan langsung beranjak keluar untuk membeli gorengan seperti yang
dipesankan kakaknya. Andripun langsung mencari posisi duduk di sofa yang tadi
ditempati oleh Ratna. Dan belum sempat pantatnya menyentuh sofa, Ratna kembali
lagi ke dalam rumah.
“Kak,
nanti kembaliannya buat aku semua ya..”
“CABENYA
YANG BANYAK.” Teriak Andri dari dalam rumah.
Mama
yang mendengar kedua percakapan kedua anaknya, menghentikan jahitannya lalu
menggeleng sambil tersenyum melihat kelakuan anaknya tersebut. Dan tak lama,
Mama pun bangkit dari kursi jahitnya dan langsung berjalan menuju ke arah dapur
hendak mengambil minum.
“Oh
iya Ma, ini duit dari Mamanya Doni hasil pesanan kemaren.” Andri langsung
membuka dompetnya dan mengeluarkan 4 lembar uang seratus ribuan.
“Ah
iya. Mana?”
“Ini Ma.”
Mama
langsung merubah rutenya menuju kearah televisi untuk menerima uang dari Andri
dan langsung menuju ke arah dapur segera setelah dia menerima uangnya.
Andri
sendiri langsung mengambil posisi santai didepan TV dan terlihat sedang
menggonta-ganti saluran TV untuk mencari saluran yang menurutnya menarik.
Setelah berputar-putar channel TV, akhirnya dia menghentikan di saluran salah satu
stasiun TV Swasta sore hari yang sedang menayangkan acara infotainment selebriti. Dia lalu membesarkan volume TV tersebut
lalu menaruh kembali remote TV-nya ke atas meja tepat disebelah cangkir
minumnya.
Cukup
lama Andri terpaku pada acara infotainment
tersebut. Ada sesuatu didalam acara infotainment
tersebut yang sangat menarik perhatian Andri. Mama yang sedang minum didapur
pun melihat Andri yang sedang nampak serius melihat TV. Mama yang penasaran pun
segera menuju ruang TV untuk melihat apa yang terjadi.
Dengan
penasaran, Mama yang masih memegang minum dengan air yang tinggal setengah pun
segera melihat Andri yang matanya mulai berkaca-kaca melihat berita di acara infotainment sore hari tersebut.
Padahal, saat itu sedang menayangkan beberapa orang yang sedang melakukan
konferensi pers. Mama pun merasa kalau memang ada pernyataan mengenai
perpisahan atau sesuatu apapun yang dikiranya memang sangatlah menyedihkan. Dia
pun segera melihat ke arah TV dan tidak menemukan sesuatu yang sangat
menyedihkan dan dimana orang-orang yang sedang melakukan konferesi pers
tersebut tampak memberikan senyum yang lebar. Yang membingungkan sang Mama
adalah kenapa anak tertuanya ini sedih melihat acara infotainment tersebut.
Andri
tampaknya masih tidak menyadari kehadiran sang Mama yang sedang memperhatikan
dirinya dari belakang sofa--tempat Ratna, adiknya berbaring sebelumnya--dengan
tatapan penuh penasaran dan rasa ingin tahu yang besar.
Mama
yang saat itu sedang menggunakan syal warna merah, mulai merapikan letak
syalnya lalu memasang kacamatanya yang menggantung di lehernya. Beliau lalu
melihat acara yang ada di TV dan mencoba mengamati apa yang terjadi. Mama terus
mengamati setiap pernyataan yang disampaikan menggunakan bahasa Inggris dan di subtitle-kan kedalam bahasa Indonesia
itu dan mencoba mengenali orang-orang yang sedang melakukan konferensi pers
tersebut.
Di
konferensi pers tersebut tampak 7 orang sedang duduk dibelakang meja. Mama
mencoba mengenali orang-orang tersebut satu persatu. Dimulai dari seorang 2
laki-laki tampan umur 20-an yang ada disebelah kanan dan diikuti oleh 3 orang
wanita cantik yang kira-kira seumuran dengan 2 laki-laki tersebut.
Dan
disebelah 3 wanita itu masih terdapat 2 orang lagi yaitu terlihat seorang
laki-laki yang kira-kira umurnya 35-an tampak sedang berbicara melalui microphone. Dan yang terakhir di ujung
kiri, terlihat seorang wanita yang sedang duduk sambil menyilangkan tangannya
dan menggunakan topi yang hampir menutupi matanya.
Sambil
Mama menghirup air minum yang tinggal setengah gelas, Mama tiba-tiba terhenyak.
Dia seakan mengingat sesuatu. Pandangannya terhenti pada wanita misterius yang
memakai topi ini.
“Ah
bukan ini. Apa ya?” batin sang Mama.
Mama
mencoba meraba-raba kembali ingatannya sambil melihat sekitar rumah. Pandangan
Mama terhenti ketika wanita bertopi itu membuka topinya sambil merapikan
rambutnya. Dan saat itu pandangannya langsung berpindah ke arah anaknya, Andri
yang terlihat agak terkejut dan matanya mulai berkaca-kaca menyaksikan
konferensi pers di TV. Ditangannya, tampak Andri masih memegang dompetnya
setelah dia tadi mengeluarkan uang Mamanya. Dia memegang erat dompet warna
hitam pekatnya yang masih terbuka dan terdapat foto seorang wanita dan dirinya
sedang berpose sambil tersenyum lebar tepat didalam bagian transparan
dompetnya.
Melihat
hal itu, seketika Mama terhenyak kembali dan segera dengan cepat menyambar
remote TV dan segera mematikan TV. Andri langsung tersadar dan langsung
mengusap matanya.
“Ganti
baju, terus mandi.”
“Mama,
apaan sih ma.”
Andri
setengah kaget mendengar ucapan Mamanya.
“Kamu,
Kak, ganti baju terus mandi sana. Kan seharian kamu kerja. Biar ilang tuh
penatnya. Cepat sana. Nanti malam juga kan mau nemenin Mama ketempatnya Bu
Desi.”.
Setelah
mengambil nafas panjang, Andri segera berangkat dari sofa tempat dia duduk
sambil menarik dasi yang masih menggantung di lehernya. Dia langsung menutup
dompetnya yang terbuka di atas meja tersebut.
“Siap
boss.” Jawab Andri pendek sambil menuju kamar mandi.
Melihat
anaknya yang seperti itu, Mama pun tiba-tiba merasa sedih. Sambil melihat Andri
berjalan kekamar mandi, mata Mama pun terlihat berkaca-kaca. Ia tampaknya
menyadari kesedihan anaknya. Dan dengan menarik nafas panjang, Mama pun kembali
menuju meja jahitnya untuk melanjutnya jahitannya.
Tak
lama, Ratna pulang dengan membawa sekantong gorengan dan langsung dia letakkan
diatas meja sambil sambil merebahkan dirinya kembali keatas sofa mencari posisi
senyaman mungkin. Dia pun langsung menyambar remote TV dan langsung
menyalakannya.
“Ma,
kakak kemana?”
“Mandi.”
Jawab Mama enteng sambil melanjutkan menjahitnya.
“Oohh...”
Ratna
lalu menarik nafas dalam lalu mengarahkan pandangannya ke arah kamar mandi.
“KAK,
GORENGANMU UDAH SIAP !!! KEMBALIANNYA BUAT AKU YA...!!! NANTI AKU TABUNG KOK..!!!”
Ratna
pun kembali mengalihkan pandangannya ke TV yang sedang menayangkan acara Infotainment yang sebelumnya ditonton
Andri. Dia pun langsung membesarkan volumenya sambil merogoh gorengan yang ada
di dalam kantong tepat dimeja didepannya. Mama yang mendengar suara TV pun
menghentikan kegiatan menjahitnya lalu melirik kearah TV.
Tiba-tiba...
“Ini
siapa coba yang nonton acara kayak gini? Mana bahasa Inggris semua lagi.”
Gerutu
Ratna sambil mengganti remote TV ke acara Anime Naruto yang sedang tayang.
“Ini
nih baru tontonan. Bahahahaha.” Sambungnya sambil membesarkan kembali
volumenya.
Melihat
hal itu, Mama seketika tersenyum kecil sambil melanjutkan menjahitnya lagi.
Disitu terlihat sikap Mama yang senang karena tingkah Ratna yang kekanakan dan
sedikit khawatir melihat Andri yang sebelumnya sedikit sedih akan kejadian yang
dilihatnya.
“Apa yang sebenarnya
terjadi 2 tahun yang lalu? Apakah itu sebegitu besarnya? Apakah itu sebegitu
bagusnya? Entahlah. Hanya Tuhan. Andri dan Mama sajalah yang tahu apa yang sebenarnya
terjadi. Tapi kalau dilihat dari respon Andri sebelumnya, sepertinya kenangan 2
tahun lalu lebih banyak sakitnya.”
Setelah
lebih dari 15 menit Andri mandi, akhirnya Andri keluar dari kamar mandi hanya
dengan menggunakan celana pendek putih bergaris hijau tipis, tanpa baju, dan
sambil mengalungkan handuk warna merah miliknya. Ketika dia hendak menuju
kamarnya, ternyata melewati ruang TV. Dia melihat adiknya yang masih asyik
menonton Naruto sambil memasukkan potongan terakhir pisang molen ke dalam mulutnya.
“Ratna,
gorengan kakak mana?” kata Andri ketika melewati depan TV sambil mengusap
rambutnya dengan handuk yang ada dilehernya.
“Itu
noh diatas meja.”
Ratna
bangun dari sofa dan langsung mengambil minum yang ada dimeja depannya tanpa
memalingkan wajahnya dari TV.
Seketika
Andri langsung mengecek kantong plastik warna hitam yang “diklaim” Ratna sebuah
gorengan pesanan Andri. Dia mengecek berkali-kali kantong kresek itu dan tidak
menemukan apa-apa didalamnya kecuali tiga buah cabe rawit didalamnya.
“Mana?
Ini?” tanyanya pada Ratna sambil mengangkat kantong plastik warna hitam
tersebut. “Kosong ini dek. Tinggal rawit doang noh tiga biji pula.” Sambung
Andri sambil menunjukkan cabe tersebut ke Ratna.
Ratna
yang kaget dengan pengakuan kakaknya ini mulai sedikit kebingungan.
“Lah
gak ada kak? Perasaan Ratna tadi cuma makan tiga biji.”
Ratna
menggaruk-garuk kepalanya kebingungan. Diapun langsung melihat-lihat
kesekeliling rumah.
“Dibawa
kucing kali kak.”
Andri
hanya bisa menarik nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya
melihat kelakuan adiknya ini.
“Mana
ada kucing disekitar sini. Yaudah kamu beli lagi dah sono cepet.”
“Yaaaaa
udah abis kak. Tadi aja itu sebelumnya ngambil pesenannya Buk Nanik” Jawab
Ratna sambil kembali tiduran disofa yang dia duduki.
Andri
lalu duduk disebelah Ratna yang sedang berbaring.
“Yaudah
kembaliannya mana? Biar kakak beli sendiri ajalah nanti diluar.”
“Yah
kakak bilang kan kembaliannya buat aku. Ya jadi aku tadi udah beliin pulsa dua
puluh rebu sama sisanya udah aku masukin ke celengan aku. Hehehehe.”
Andri
langsung mengasah jari penjitaknya.
“Nih
anak kayaknya mau kena jitak nih kayaknya ya.”
Melihat
hal itu, Ratna langsung berdiri dan melarikan diri menuju ke arah Mama dan
berlindung kebelakang Mama yang sedang
menjahit. Andri pun langsung mengejar Ratna yang berlari dengan kecepatan kilat
tersebut ke arah Mama yang sedang menjahit. Melihat hal itu, Mama langsung
menghentikan kegiatan menjahitnya.
“Ma,
liat tuh kakak mau jitak aku.”
Adu
Ratna kepada Mama yang sedang duduk didepannya sambil terus memberikan tanda
ejekan kepada Andri.
“Enggak
kok, Ma. Andri cuma mau memberikan elusan kasih sayang ke Ratna. Ya kan, dek?”
Bela Andri dengan senyuman seramnya.
Melihat
itu, Mama yang memperhatikan mereka berdua sedang bercanda pun tersenyum dan
tertawa kecil.
“Lah,
Mama kok ketawa sih? Belain Ratna dong Ma.” Bingung Ratna yang berada
dibelakang Mama sambil menggaruk kepalanya kebingungan.
“Udah-udah
ah. Udah gede juga masih aja main jitak-jitakan. Kalian berdua mau Mama jitak,
hah?” Mama langsung mengasah jari jitaknya.
Seketika
Ratna yang berada dibelakang Mama langsung melarikan diri diikuti oleh Andri
yang juga ikut melarikan diri ke arah sofa yang ada diruang TV tempat Ratna
tiduran tadi diiringin tawa oleh ketiganya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar