Senin, 14 Desember 2015

One More Week Episode 2: I HATE TO SEE YOUR HEART BREAK

Episode 2: I HATE TO SEE YOUR HEART BREAK

Melewati ruang tamu, dia melihat Mamanya yang sedang menjahit pesanan baju disudut ruangan. Terlihat sedikit letih diwajahnya, tetapi sang Mama tetap fokus dalam melakukan pekerjaannya. Dia juga melihat adiknya, Ratna, seorang gadis berumur 13 tahun yang sedang menonton TV sambil berbaring di sofa yang berada tepat didepan televisi tersebut.

Ketika Andri berjalan melewati ruang tengah. Mama yang sedang menjahit pun langsung menghentikan kegiatannya sejenak.

“Udah pulang, kak ?” Mama langsung menyambung kembali kegiatan menjahitnya. “Mau mama buatin kopi untuk kamu?”

Andri menoleh ke arah Mama sejenak.

“Gak usah Ma. Tadi udah ngopi kok di kantor.”

Dia lantas menuju ke meja makan lalu mengambil cangkir dan langsung menuangkan air kedalamnya dan langsung membawanya menuju arah televisi.

“Nanti malem jangan lupa temenin Mama nganterin baju pesanannya Bu Desi ya, kak” pinta sang Mama sambil tetap terpaku pada mesin jahitnya.

“Jam berapa?”

Andri mulai menyeruput air yang ada ditangannya sembari berdiri didepan televisi menonton acara yang ditonton adiknya, Ratna.

“Ba’da Isya’. Bisa kan?” Tanya Mama sambil menghentikan jahitannya untuk menggaruk kakinya yang gatal digigit nyamuk.

“Oke.” Jawabnya sambil menaruh gelas minumnya ke meja didepan Ratna yang sedang berbaring. Andri lalu menengok ke arah Ratna yang sedang berbaring di sofa.

“Ratna, beliin kakak gorengan dong ditempatnya Ce Mumun.”

Ratna yang sedang terpaku ke televisi langsung menoleh ke arah kakaknya sejenak sebelum akhirnya mengembalikan pandangannya ke arah Televisi.

“Males ah, Kak. Udah pewe nih, acaranya juga lagi seru.” Jawab Ratna sambil menggonta-ganti saluran TV dengan remote. Andri langsung menjitak kepala Ratna setelah mendengar jawabnnya.

“Seru apaan. Kamu aja gonta-ganti acaranya. Kakak kasih upah nih. Gimana?”

Ratna langsung memegangi kepalanya yang habis dijitak Andri.

“Ma, lihat kakak ni, main jitak-jitak kepala aku.” Adu si Ratna ke Mamanya yang sedang menjahit. Mama menghentikan sejenak kegiatan menjahitnya lalu tersenyum melihat kelakuan kedua anaknya tersebut dan kembali melanjutkan kegiatan menjahitnya.

“Hayuklah beliin lah. Tadi kakak gak lewat warungnya Ce Mumun pas balik. Capek bener kakak kalo mau keluar lagi. Kakak kasih dua rebu nih gimana?” Andri mencoba menggoda Ratna dengan jurus sogoknya.

Ratna langsung memanyunkan bibirnya ke arah Andri.

“Gilak dua rebu dapet apaan kak. Isiin pulsa Ratna aja gimana? Sepuluh rebu doang kak. Yah yah yah.”

Andri lantas langsung mentoyor kepala Ratna dengan jari telunjuknya.

“Ebuset...!! Kakak aja cuma minta beliin gorengan lima rebu dan lu minta upahnya sepuluh rebu. Rugi bandar kita.”

“Yaudah kalo gak mau.” Jawab Ratna enteng sambil kembali menggonta-ganti saluran TV.

“Nih anak mata duitan bener.” Andri hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adiknya ini. Lalu dia mengambil dompet dari kantong belakang celananya dan mengeluarkan uang lima puluh ribu dan langsung menyodorkan ke arah adiknya.

“Nih duitnye. Beli sono cepet.”

Melihat ada uang didepannya, Ratna lantas langsung mengambil uang itu dengan secepat kilat dan langsung beranjak keluar untuk membeli gorengan seperti yang dipesankan kakaknya. Andripun langsung mencari posisi duduk di sofa yang tadi ditempati oleh Ratna. Dan belum sempat pantatnya menyentuh sofa, Ratna kembali lagi ke dalam rumah.

“Kak, nanti kembaliannya buat aku semua ya..”

“CABENYA YANG BANYAK.” Teriak Andri dari dalam rumah.

Mama yang mendengar kedua percakapan kedua anaknya, menghentikan jahitannya lalu menggeleng sambil tersenyum melihat kelakuan anaknya tersebut. Dan tak lama, Mama pun bangkit dari kursi jahitnya dan langsung berjalan menuju ke arah dapur hendak mengambil minum.

“Oh iya Ma, ini duit dari Mamanya Doni hasil pesanan kemaren.” Andri langsung membuka dompetnya dan mengeluarkan 4 lembar uang seratus ribuan.

“Ah iya. Mana?”

           “Ini Ma.”

Mama langsung merubah rutenya menuju kearah televisi untuk menerima uang dari Andri dan langsung menuju ke arah dapur segera setelah dia menerima uangnya.

Andri sendiri langsung mengambil posisi santai didepan TV dan terlihat sedang menggonta-ganti saluran TV untuk mencari saluran yang menurutnya menarik. Setelah berputar-putar channel TV, akhirnya dia menghentikan di saluran salah satu stasiun TV Swasta sore hari yang sedang menayangkan acara infotainment selebriti. Dia lalu membesarkan volume TV tersebut lalu menaruh kembali remote TV-nya ke atas meja tepat disebelah cangkir minumnya.

Cukup lama Andri terpaku pada acara infotainment tersebut. Ada sesuatu didalam acara infotainment tersebut yang sangat menarik perhatian Andri. Mama yang sedang minum didapur pun melihat Andri yang sedang nampak serius melihat TV. Mama yang penasaran pun segera menuju ruang TV untuk melihat apa yang terjadi.

Dengan penasaran, Mama yang masih memegang minum dengan air yang tinggal setengah pun segera melihat Andri yang matanya mulai berkaca-kaca melihat berita di acara infotainment sore hari tersebut. Padahal, saat itu sedang menayangkan beberapa orang yang sedang melakukan konferensi pers. Mama pun merasa kalau memang ada pernyataan mengenai perpisahan atau sesuatu apapun yang dikiranya memang sangatlah menyedihkan. Dia pun segera melihat ke arah TV dan tidak menemukan sesuatu yang sangat menyedihkan dan dimana orang-orang yang sedang melakukan konferesi pers tersebut tampak memberikan senyum yang lebar. Yang membingungkan sang Mama adalah kenapa anak tertuanya ini sedih melihat acara infotainment tersebut.

Andri tampaknya masih tidak menyadari kehadiran sang Mama yang sedang memperhatikan dirinya dari belakang sofa--tempat Ratna, adiknya berbaring sebelumnya--dengan tatapan penuh penasaran dan rasa ingin tahu yang besar.

Mama yang saat itu sedang menggunakan syal warna merah, mulai merapikan letak syalnya lalu memasang kacamatanya yang menggantung di lehernya. Beliau lalu melihat acara yang ada di TV dan mencoba mengamati apa yang terjadi. Mama terus mengamati setiap pernyataan yang disampaikan menggunakan bahasa Inggris dan di subtitle-kan kedalam bahasa Indonesia itu dan mencoba mengenali orang-orang yang sedang melakukan konferensi pers tersebut.

Di konferensi pers tersebut tampak 7 orang sedang duduk dibelakang meja. Mama mencoba mengenali orang-orang tersebut satu persatu. Dimulai dari seorang 2 laki-laki tampan umur 20-an yang ada disebelah kanan dan diikuti oleh 3 orang wanita cantik yang kira-kira seumuran dengan 2 laki-laki tersebut.

Dan disebelah 3 wanita itu masih terdapat 2 orang lagi yaitu terlihat seorang laki-laki yang kira-kira umurnya 35-an tampak sedang berbicara melalui microphone. Dan yang terakhir di ujung kiri, terlihat seorang wanita yang sedang duduk sambil menyilangkan tangannya dan menggunakan topi yang hampir menutupi matanya.

Sambil Mama menghirup air minum yang tinggal setengah gelas, Mama tiba-tiba terhenyak. Dia seakan mengingat sesuatu. Pandangannya terhenti pada wanita misterius yang memakai topi ini.

“Ah bukan ini. Apa ya?” batin sang Mama.

Mama mencoba meraba-raba kembali ingatannya sambil melihat sekitar rumah. Pandangan Mama terhenti ketika wanita bertopi itu membuka topinya sambil merapikan rambutnya. Dan saat itu pandangannya langsung berpindah ke arah anaknya, Andri yang terlihat agak terkejut dan matanya mulai berkaca-kaca menyaksikan konferensi pers di TV. Ditangannya, tampak Andri masih memegang dompetnya setelah dia tadi mengeluarkan uang Mamanya. Dia memegang erat dompet warna hitam pekatnya yang masih terbuka dan terdapat foto seorang wanita dan dirinya sedang berpose sambil tersenyum lebar tepat didalam bagian transparan dompetnya.

Melihat hal itu, seketika Mama terhenyak kembali dan segera dengan cepat menyambar remote TV dan segera mematikan TV. Andri langsung tersadar dan langsung mengusap matanya.

“Ganti baju, terus mandi.”

“Mama, apaan sih ma.”

Andri setengah kaget mendengar ucapan Mamanya.

“Kamu, Kak, ganti baju terus mandi sana. Kan seharian kamu kerja. Biar ilang tuh penatnya. Cepat sana. Nanti malam juga kan mau nemenin Mama ketempatnya Bu Desi.”.

Setelah mengambil nafas panjang, Andri segera berangkat dari sofa tempat dia duduk sambil menarik dasi yang masih menggantung di lehernya. Dia langsung menutup dompetnya yang terbuka di atas meja tersebut.

“Siap boss.” Jawab Andri pendek sambil menuju kamar mandi.

Melihat anaknya yang seperti itu, Mama pun tiba-tiba merasa sedih. Sambil melihat Andri berjalan kekamar mandi, mata Mama pun terlihat berkaca-kaca. Ia tampaknya menyadari kesedihan anaknya. Dan dengan menarik nafas panjang, Mama pun kembali menuju meja jahitnya untuk melanjutnya jahitannya.

Tak lama, Ratna pulang dengan membawa sekantong gorengan dan langsung dia letakkan diatas meja sambil sambil merebahkan dirinya kembali keatas sofa mencari posisi senyaman mungkin. Dia pun langsung menyambar remote TV dan langsung menyalakannya.

“Ma, kakak kemana?”

“Mandi.” Jawab Mama enteng sambil melanjutkan menjahitnya.

“Oohh...”

Ratna lalu menarik nafas dalam lalu mengarahkan pandangannya ke arah kamar mandi.

“KAK, GORENGANMU UDAH SIAP !!! KEMBALIANNYA BUAT AKU YA...!!! NANTI AKU TABUNG KOK..!!!”

Ratna pun kembali mengalihkan pandangannya ke TV yang sedang menayangkan acara Infotainment yang sebelumnya ditonton Andri. Dia pun langsung membesarkan volumenya sambil merogoh gorengan yang ada di dalam kantong tepat dimeja didepannya. Mama yang mendengar suara TV pun menghentikan kegiatan menjahitnya lalu melirik kearah TV.

Tiba-tiba...

“Ini siapa coba yang nonton acara kayak gini? Mana bahasa Inggris semua lagi.”

Gerutu Ratna sambil mengganti remote TV ke acara Anime Naruto yang sedang tayang.

“Ini nih baru tontonan. Bahahahaha.” Sambungnya sambil membesarkan kembali volumenya.

Melihat hal itu, Mama seketika tersenyum kecil sambil melanjutkan menjahitnya lagi. Disitu terlihat sikap Mama yang senang karena tingkah Ratna yang kekanakan dan sedikit khawatir melihat Andri yang sebelumnya sedikit sedih akan kejadian yang dilihatnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi 2 tahun yang lalu? Apakah itu sebegitu besarnya? Apakah itu sebegitu bagusnya? Entahlah. Hanya Tuhan. Andri dan Mama sajalah yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kalau dilihat dari respon Andri sebelumnya, sepertinya kenangan 2 tahun lalu lebih banyak sakitnya.”

Setelah lebih dari 15 menit Andri mandi, akhirnya Andri keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan celana pendek putih bergaris hijau tipis, tanpa baju, dan sambil mengalungkan handuk warna merah miliknya. Ketika dia hendak menuju kamarnya, ternyata melewati ruang TV. Dia melihat adiknya yang masih asyik menonton Naruto sambil memasukkan potongan terakhir pisang molen ke dalam mulutnya.

“Ratna, gorengan kakak mana?” kata Andri ketika melewati depan TV sambil mengusap rambutnya dengan handuk yang ada dilehernya.

“Itu noh diatas meja.”

Ratna bangun dari sofa dan langsung mengambil minum yang ada dimeja depannya tanpa memalingkan wajahnya dari TV.

Seketika Andri langsung mengecek kantong plastik warna hitam yang “diklaim” Ratna sebuah gorengan pesanan Andri. Dia mengecek berkali-kali kantong kresek itu dan tidak menemukan apa-apa didalamnya kecuali tiga buah cabe rawit didalamnya.

“Mana? Ini?” tanyanya pada Ratna sambil mengangkat kantong plastik warna hitam tersebut. “Kosong ini dek. Tinggal rawit doang noh tiga biji pula.” Sambung Andri sambil menunjukkan cabe tersebut ke Ratna.

Ratna yang kaget dengan pengakuan kakaknya ini mulai sedikit kebingungan.

“Lah gak ada kak? Perasaan Ratna tadi cuma makan tiga biji.”

Ratna menggaruk-garuk kepalanya kebingungan. Diapun langsung melihat-lihat kesekeliling rumah.

“Dibawa kucing kali kak.”

Andri hanya bisa menarik nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya melihat kelakuan adiknya ini.

“Mana ada kucing disekitar sini. Yaudah kamu beli lagi dah sono cepet.”

“Yaaaaa udah abis kak. Tadi aja itu sebelumnya ngambil pesenannya Buk Nanik” Jawab Ratna sambil kembali tiduran disofa yang dia duduki.

Andri lalu duduk disebelah Ratna yang sedang berbaring.

“Yaudah kembaliannya mana? Biar kakak beli sendiri ajalah nanti diluar.”

“Yah kakak bilang kan kembaliannya buat aku. Ya jadi aku tadi udah beliin pulsa dua puluh rebu sama sisanya udah aku masukin ke celengan aku. Hehehehe.”

Andri langsung mengasah jari penjitaknya.

“Nih anak kayaknya mau kena jitak nih kayaknya ya.”

Melihat hal itu, Ratna langsung berdiri dan melarikan diri menuju ke arah Mama dan berlindung  kebelakang Mama yang sedang menjahit. Andri pun langsung mengejar Ratna yang berlari dengan kecepatan kilat tersebut ke arah Mama yang sedang menjahit. Melihat hal itu, Mama langsung menghentikan kegiatan menjahitnya.

“Ma, liat tuh kakak mau jitak aku.”

Adu Ratna kepada Mama yang sedang duduk didepannya sambil terus memberikan tanda ejekan kepada Andri.

“Enggak kok, Ma. Andri cuma mau memberikan elusan kasih sayang ke Ratna. Ya kan, dek?” Bela Andri dengan senyuman seramnya.

Melihat itu, Mama yang memperhatikan mereka berdua sedang bercanda pun tersenyum dan tertawa kecil.

“Lah, Mama kok ketawa sih? Belain Ratna dong Ma.” Bingung Ratna yang berada dibelakang Mama sambil menggaruk kepalanya kebingungan.

“Udah-udah ah. Udah gede juga masih aja main jitak-jitakan. Kalian berdua mau Mama jitak, hah?” Mama langsung mengasah jari jitaknya.

Seketika Ratna yang berada dibelakang Mama langsung melarikan diri diikuti oleh Andri yang juga ikut melarikan diri ke arah sofa yang ada diruang TV tempat Ratna tiduran tadi diiringin tawa oleh ketiganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar