Jam
didalam pesawat sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore. Dan setelah 5 jam
setengah di atas pesawat, Andri pun bangun dari tidurnya setelah dibangunkan
oleh pramugari.
“Oh
iya, terima kasih.”
“Bisa
tolong saya untuk membangunkan orang yang di sebelah anda?”
Andri
langsung melihat ke arah kanannya dan melihat Kwung Hwan sedang tertidur pulas
dengan mulut terbuka.
“Nanti
biar saya saja mbak yang membangunkannya.”
“Terima
kasih.” Ucap pramugari itu sambil meninggalkan dia untuk membangunkan penumpang
lain yang sedang tidur.
Andri
hanya membalas pramugari itu dengan senyumannya. Pramugari itu lalu menuju ke
kursi belakang untuk membangunkan penumpang yang lain. Andri sempat mengikuti
langkah pramugari itu sebelum akhirnya pandangannya terhenti pada wanita yang
ada disebelah kirinya.
Wanita
itu tampak sedang membuka topinya dan merapikan rambut cokelat kemerahannya.
Melihat itu, Andri hanya bisa terdiam sambil melihat wanita itu. Karena selama
6 jam di atas pesawat, baru kali ini dia melihat wajah wanita itu. Wajahnya
putih bersih dengan hidung yang mancung dan mata yang indah. Kalaupun wanita
itu bilang dia adalah seorang artis ataupun salah satu personel girl grup, pasti dia percaya.
Setelah
merapikan rambutnya dengan tangannya, lalu wanita itu langsung memasang kembali
topi yang dia kenakan. Dia lalu menoleh ke arah kanan tepat ke arah Andri.
Andri yang saat itu hanya terdiam sambil memandang wanita itu, langsung
terkejut dan memindahkan pandangannya ke depan ketika wanita itu menoleh ke
arah dirinya.
Cukup
lama wanita itu melihat ke arah Andri, lalu kemudian, dia mulai membuka lagi
lembaran kertas yang digulungnya itu, membalikkan beberapa lembar kertas dan
membacanya. Andri yang hanya bisa melihat ke arah depan pun, mencoba melirik ke
arah wanita itu. Dan ketika dia mendapati wanita itu sudah tidak melihatnya
lagi, dia langsung menarik nafas panjang dan langsung menoleh ke arah Kyung
Hwan dan langsung membangunkannya.
Pesawat
pun akhirnya mendarat di Incheon International Airport. Dan semua penumpang pun
langsung bersiap-siap untuk turun dari pesawat. Andri sendiripun sambil
mengobrol kecil dengan Kyung Hwan, langsung mengeluarkan barang bawaannya dari
dalam bagasi atas. Sambil mengeluarkan tasnya, dia melihat ke arah wanita itu
yang langsung berjalan menuju pintu keluar sambil hanya membawa tas kecil yang
di selempangkannya dan juga kertas yang di baca tadi yang sudah digulung
ditangan kirinya.
Melihat
Andri terus menoleh kearah wanita itu, Kyung Hwan langsung menepuk bahu Andri
dan seketika Andri langsung menoleh ke arah Kyung Hwan sejenak dan kemudian
langsung menurunkan tasnya dari dalam bagasi tersebut dan langsung menuju pintu
keluar.
Sesampainya
didalam bandara, Andri yang ditemani Kyung Hwan langsung menuju ke Imigrasi.
Beruntunglah Andri bisa berkenalan dengan Kyung Hwan, jadi dia tidak
payah-payah lagi mengurusi sesuatunya didalam bandara itu. Dan tak sampai 15
menit, semua urusan Andripun sudah
selesai dan mereka berdua melangkah ke arah luar bandara.
“Habis
ini kau mau kemana lagi?”
“Mau
makan sih sebenernya. Tapi ke hotel dulu deh kayaknya.”
“Ada
alamatnya? Siapa tahu aku bisa bantu kau buat kesana.”
Andri
lalu mengeluarkan handphone-nya dan membuka catatan yang ada di handphonenya
itu. Lantas dia langsung menyodorkan alamat itu kepada Kyung Hwan.
“Ini
nih alamatnya.”
Andri
langsung menyodorkan layar Hpnya.
“2F
112 Myeonryun 2ga, Jongrogu, Seoul, Korea, 110-532. Kalau dari sini harus naik
apa? Bisa kau tolong aku?”
“Sebentar
ya. Aku ingat-ingat dulu.”
Kyung
Hwan pun mencoba mengingat alamat yang diberikan kepada Andri.
Dan
ketika sedang mencoba mengingat alamat itu, tiba-tiba HP Kyung Hwan berbunyi.
“Oh
maaf.”
Kyung
Hwan mulai berbicara dengan orang di telepon tersebut dengan bahasa Korea. Dan
Andri sendiri hanya bisa terbengong-bengong melihat itu. Sambil menunggu Kyung
Hwan yang sedang menelpon, dia lalu mencoba melihat-lihat sekitar bandara. Lalu
tiba-tiba pandangannya terhenti ke wanita yang tadi duduk disebelahnya. Wanita itu
tampak sedang melihat Kyung Hwan yang sedang menelpon sambil memegang kertas
yang sedang terbuka itu. Cukup lama Andri melihat ke arah wanita itu.
Tak
lama, Kyung Hwan selesai dengan urusannya di telepon. Dia lalu berjalan menuju
Andri yang sedang melihat wanita itu. Melihat itu, Kyung Hwan menoleh sedikit
ke arah wanita itu lalu langsung menegur Andri.
“Hoi!
Ngeliatin mulu. Udahlah ah.”
“Apaan
sih.” Elak Andri.
“Jadi
gimana? Bisa tidak nunjukkin lokasinya?”
“Haduh
gimana ya. Ini tadi barusan aku dapat telpon dari kantor, disuruh kesana
langsung untuk megang acara, soalnya ada PD yang gak bisa hadir.”
“Yaudah
deh kalau begitu. Biar nanti aku cari sendiri aja.” Jawab Andri dengan diiringi
senyum ramahnya.
Melihat
senyum Andri, Kyung Hwan menjadi tidak enak.
“Eh
nanti dulu. Bagusnya sih naik taksi sih biar langsung sampai. Tapi masih perlu
jalan lagi buat ke lokasinya. Mana malam, agak susah takutnya kalau nyari
sendirian. Bentar ya, saya pikirin dulu solusinya.”
Setelah
beberapa saat berpikir...
“Oh
iya. Yuk ikut sebentar.”
Mereka
lalu berjalan menuju ke arah wanita itu yang saat itu sedang membaca kertas
itu.
“Kau
tunggu disini sebentar ya.”
Lalu,
Kyung Hwan menuju wanita itu dan memanggilnya sedangkan Andri pun dari jarak
beberapa meter hanya bisa melihat saja mereka yang sedang berbicara dengan
bahasa Korea.
Tampak
dari ekspresi yang terlihat dari pembicaraan Kyung Hwan dan wanita itu. Kyung
Hwan tampak sedikit panik dan cemas ketika berbicara kepada wanita itu sambil
beberapa kali melirik ke arah Andri. Sedang wanita itu tampak kesal dan hanya
melihat sekali ke arah Andri. Dan setelah perdebatan panjang Kyung Hwan dan
wanita itu, lalu mereka berdua hanya bisa terdiam. Wajah Kyung Hwan tampak
lebih cemas dari sebelumnya dan wanita itu hanya bisa dia sambil beberapa kali
melihat ke arah Andri.
Dan
setelah beberapa lama terdiam, akhirnya wanita itu berbicara kepada Kyung Hwan
sambil menganggukan kepalanya dan Kyung Hwan sendiri tampak senang dan segera
menghampiri Andri.
“Andri,
jadi gini. Nanti kau bakal ditemani oleh dia. Ikutin aja arahannya. Dia fasih
juga bahasa Inggrisnya. Okeh?” Jelas Kyung Hwan kepada Andri dengan wajah
sumringah.
Andri
pun agak sedikit kebingungan.
“Bener
nih?”
“Beneran.
Cepet samperin dia. Aku mau ke kantor dulu ya. Sudah terlambat ini.”
Kyung
Hwan langsung berlari menuju parkiran mobil.
“KALAU
SUDAH SAMPAI JANGAN LUPA UNTUK MENGHUBUNGI AKU!”
Andri
hanya diam melihat ke arah Kyung Hwan berlari. Lalu dia langsung menghampiri
wanita itu sambil beberapa kali melirik ke arah lari Kyung Hwan. Wanita itu
tampak sedang membaca kertas yang dibawanya itu.
“Eng....
Anu.... Tadi Kyung Hwan bilang...”
“I know. Follow me. (Aku tahu. Ikuti
aku)” Potong wanita itu tanpa melihat ke arah Andri lalu langsung berjalan
menuju ke pangkalan taksi.
Andri
pun hanya bisa mengikuti wanita itu dari belakang. Andri hanya melangkah
dibelakang wanita itu tanpa mengatakan apa-apa sampai ke pangkalan taksi. Lalu,
wanita itu langsung masuk ke dalam taksi itu. Andri hanya bisa diam. Dia hanya
berdiri didepan pintu.
Melihat
hal itu, wanita itu lalu menghentikan kegiatan membaca kertasnya dan melihat
keluar.
“Ayo
cepat masuk.”
“Oh
iya iya maaf.”
Andri
langsung masuk kedalam taksi itu.
Lalu
tiba-tiba suasana menjadi sunyi.
“Eodilo gasimnikka?”
Tanya
sang supir sambil melihat ke arah kaca spion di atasnya.
“Eng...?!”
Jawab Andri dengan penuh kebingungan.
“I don’t speak Korean. (Aku tidak bisa
bahasa korea)”
“Eng...?!”
Jawab supir tak kalah bingungnya.
Andri
hanya bisa menggelengkan kepalanya karena bingung. Dia tidak tau apa yang harus
dilakukan. Sementara wanita yang ada disebelahnya hanya diam sambil membaca dan
membolak-balik kertas yang ada ditangannya.
Andri
mencoba untuk berbicara dengan wanita yang ada disebelahnya ini. Tetapi karena
takut, dia tidak punya keberanian untuk melakukannya. Dan tiba-tiba suasana
didalam mobil itu menjadi sunyi ditengah kebingunan antara Andri yang tidak tau
harus bagaimana dan sang supir yang juga kebingungan melihat tingkah Andri.
“Dia
bertanya kau mau pergi kemana.”
Kata
wanita yang ada disebelah Andri sambil tetap tertunduk membaca memecah
kesunyian di taksi itu.
“Oh,
oke oke.”
Andri
lalu langsung merogoh handphonenya yang ada di kantongnya lalu mencari alamat
yang sudah dia catat disana.
“Oh
ini dia. Saya mau pergi ke 2F 112 Myeongryun 29a, Jongrogu, Seoul, 110-532.”
Setelah
membaca alamat yang dicarinya ditambah menunjukkan alamat yang ada di
handphonenya kepada sang supir, akhirnya taksi itu mulai melaju.
“Sigani eolmana geollijyo? (Berapa lama
sampai tiba disana?)” Tanya wanita itu kepada sang supir.
“Sam sip bunieyo. (30 menit)” Jawab sang
supir singkat.
Andri
yang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan hanya bisa diam saja. Sedangkan
wanita itu, setelah mendapatkan jawabannya, dia langsung kembali membaca
kembali kertas itu sambil membolak baliknya.
Setelah
15 menit, taksi itu mulai memasuki kawasan perkotaan. Dia tampak terkagum-kagum
melihat keadaan kota Seoul yang sangat berbeda dari Jakarta. Dia hanya bisa terkagum sambil menpotret apa
yang dilihatnya dari balik jendela. Dan ketika dia sedang melihat-lihat
pemandangan kota, dia mencoba melirik wanita yang ada disebelahnya. Pelan namun
pasti, dia mulai melirik wanita itu. Tampak wanita itu sudah tidak membaca
kertas yang ada ditangannya dan hanya melihat keluar jendela taksi masih dengan
tanpa ekspresinya.
“Eng,
Anu... Ini... Maaf, apa... apa... kau lapar?”
Tanya
Andri kepada wanita itu dengan terbata-bata saking berhati-hatinya sambil
memberikan senyumannya.
Wanita
yang sedang menghadap ke arah luar jendela, langsung memindahkan arah
menghadapnya ke arah Andri ketika dia mendengar suara Andri masih dengan diam
tanpa ekspresinya, lalu mengembalikan lagi pandangannya ke arah luar jendela.
Melihat
sikap itu, Andri hanya bisa tersenyum masam. Dia makin tidak tau dengan apa
yang harus dia lakukan. Dia hanya bisa diam panik sambil melihat kesana-kemari.
Dan tak lama dari itu, dia kembali mencoba bertanya kepada wanita itu.
“Anu...
Ini... Gimana ya... Eng... Maaf... Nona maaf... Apa... apa... kau lapar?
Nanti... Nanti... aku yang traktir gi... gimana?”
Tanya
Andri terbata-bata. Jantungnya berdegup sangat kencang hanya untuk mencoba
berbicara dengan wanita itu. Pikirannya pun sudah berkecamuk entah kemana-mana.
Dia bahkan sudah berpikir untuk membuka jendela taksi itu lalu lompat
keluar. Matanya masih tetap melihat ke arah wanita itu yang masih memandang ke
arah luar jendela.
“Tidak,
aku tidak lapar.” Jawab wanita itu singkat.
“Oh..
O...Okelah kalau begitu.”
Andri
dengan canggungnya sambil mengembalikan pandangannya ke arah depan.
Sang
sopir yang melihat kejadian itu dari spion hanya bisa tersenyum. Walaupun dia
tidak mengerti apa yang mereka berdua katakan, tapi tampaknya dengan melihat
tingkah dari Andri, dia tau apa yang terjadi.
Suasana
didalam taksi berubah menjadi sunyi. Andri hanya bisa memandang kedepan sambil
sesekali melihat ke arah jendela untuk melihat keadaan diluar. Sedang wanita
itu masih tetap memandang ke arah luar jendela.
KRUYUK
KRUYUK !!!
Tiba-tiba
suara perut memecahkan keheningan didalam taksi itu. Sang supir yang mendengar
suara itu langsung menoleh kearah spion. Sedang wanita yang sedang memandang
keluar jendela, langsung memindahkan pandangannya ke arah Andri.
“Ma..
ma... maaf.” Kata Andri dengan suara kecil sambil memegang perutnya.
Wanita
yang sedang melihat ke arah Andri ini tetap diam, sambil melihat Andri yang
sedang panik dan malu dari atas ke bawah. Sedang Andri hanya bisa menundukkan
kepalanya malu sambil tetap memegang perutnya.
Wanita
itu lalu memegang bahu sang supir.
“Gisanim,
sikdang ga juseyo. (Pak supir, tolong antarkan ke rumah makan)”
“Ne.
(Iya)”
Dan
tak lama dari itu, taksi itu berhenti di pinggir jalan. Andri yang kebingungan
hanya bisa melongo saja. Wanita itu pun langsung membuka pintu dan keluar dari
taksi itu. Pikirannya sudah kemana-mana. Dia bahkan sudah berpikir kalau dia
akan ditinggalkan ditengah jalan. Andri yang kebingungan pun hanya bisa terdiam
didalam taksi.
“Cepat turun.” Ucap wanita itu
sambil menundukkan kepalanya ke arah dalam taksi.
Andri
pun langsung membayar taksi itu dan langsung turun dari taksi itu. Dan setelah
Andri turun, taksi itu langsung pergi. Andri pun hanya bisa mengikuti kemana
arah taksi itu pergi sambil terdiam. Lalu sebuah tangan menepuk tangannya.
“Ikuti aku.”
Andri
tetap berdiri ditempatnya dengan bingung.
“Kita mau kemana?”
Wanita
itu lalu memalingkan wajahnya ke arah Andri.
“Ikuti saja aku.”
Andri
hanya bisa terdiam tidak bergerak. Di sepenuhnya sudah bingung apa yang sedang
terjadi dinegeri orang. Dia hanya bisa memandang wanita itu yang sudah
memalingkan pandangan darinya.
“Cepatlah. Disini dingin.” Kata
wanita itu sambil kembali menghadap kearah Andri dengan tanpa ekspresi
diwajahnya dan dengan nada suara yang datar.
Wanita
itu lantas langsung berjalan masuk ke arah sebuah bangunan. Andri pun hanya
bisa mengikuti langkah wanita itu masuk
kedalam bangunan itu. Dan ternyata bangunan itu adalah sebuah restoran.
Mereka
lalu memilih duduk di agak belakang dari restoran tersebut. Andri dan wanita
itu duduk saling berhadapan.
“Samgyetang
hanage juseyo.
“Ne.”
“Ah,
Kkopi tto hanage juseyo.”
Andri
hanya bisa diam saja. Disamping dia tidak mengerti apa yang sedang mereka
bicarakan, dia juga bingung dan juga masih belum berani untuk berbicara dengan
wanita ini.
Dan
sambil menunggu pesanan, Andri mencoba menyibukkan diri. Dia mulai melihat
kekanan kekiri, melihat orang lain yang sedang makan, membolak balikkan menu
yang ada didepannya dan tak habis-habisnya minum air putih yang disediakan.
Saat
Andri sedang melihat-lihat seisi restoran itu, pandangannya terhenti kepada
wanita yang ada didepannya itu. Wanita itu tampak hanya memainkan handphonenya,
sedangkan kertas yang sedaritadi dibacanya itu hanya diletakkan diatas meja
disamping tangan kanannya. Cukup lama Andri melihat wanita itu. Mencoba menebak
apa yang sedang dilihat wanita itu di dalam handphonenya. Wanita itu juga
tampak sedang berchatting ria, hanya saja dia tidak mengeluarkan ekspresi sama
sekali.
Saat
Andri sedang melihat wanita itu dengan fokus-fokusnya, tiba-tiba wanita itu
menghentikan kegiatan di handphonenya. Sambil handphonenya tetap dipegang, dia
tiba-tiba melihat kearah Andri yang daritadi sedang memperhatikannya. Melihat
hal itu, Andri langsung gelagapan. Dia langsung menuangkan air kedalam
cangkirnya. Saking gugupnya, dia sampai menumpahkan air itu. Dan ketika cangkir
itu sudah terisi, langsung dia minum secepat kilat sampai-sampai dia tersedak.
“Uhuk uhuk uhuk...!” Batuk Andri
sambil menepuk-nepuk dadanya.
“Ma...ma... maaf..” Sambungnya
dengan suara yang parau sambil tetap menepuk dadanya dengan tangan kanan dan
mencoba meraih sapu tangan yang ada dikantongnya.
Wanita
itu hanya memandangnya tanpa ekspresi. Kali ini, gantian wanita itu yang
menatapi Andri. Dia menatapi Andri dengan tajam. Tanpa bergerak bahkan berubah
posisinya. Masih dengan tangan diatas meja sambil tetap memegang handphonenya.
Melihat hal itu, Andri hanya bisa diam saja. Pandangannya kesana kemari. Dia
tidak berani melihat langsung ke arah
wanita itu. Hanya beberapa kali dia melirik kearah wanita itu, tetapi ketika
menyadari wanita itu masih dilihatnya, dia langsung melemparkan pandangannya ke
tempat lain.
Setelah
15 menit menunggu, pesanan pun datang.
Ketika pesanan datang, wanita itu langsung berhenti memandangi Andri. Dia
langsung mengembalikan pandangannya ke handphonenya. Dan ketika kopi datang,
dia langsung menyambut kopi itu.
“Matshigedeuseyo.
(Selamat menikmati)” Ucap wanita penjual itu ketika menaruh seporsi Samgyetang (Sup ayam dengan gingseng) dan
diikuti secangkir kopi hitam dihadapan Andri dan wanita itu.
“Ne..
(Baiklah)” Jawab wanita itu singkat. Dan wanita penjual itu langsung pergi
meninggalkan mereka.
“Makanlah.”
Andri
hanya melihat-lihat hidangan ayam yang dimasak sup tapi sangat berbeda dengan
sup ayam yang sering dibuat Mamanya.
“Ini apa?”
“Ini namanya Samgyetang atau artinya Sup Ayam dengan gingseng. Makanan ini bagus
di keadaan yang dingin seperti ini.”
Wanita
itu lalu menyeruput kopi hitamnya.
Andri
masih terlihat ragu-ragu untuk makan hidangan yang ada didepannya itu dan wanita
itupun menyadarinya.
“Makanlah cepat. Aku tidak mau
menunggu selamanya hanya untuk melihat kau makan saja.”
“Ba... ba... baiklah.”
Andri
langsung mengambil sumpitnya dan dengan ekspresi wajah yang ragu-ragu ditambah
rasa takut mendengar perkataan wanita yang ada didepannya ini.
Dia
akhirnya menyicipi makanan itu. Dia pertama ambil daging ayam itu dengan
sumpitnya dan langsung disambung dengan menghirup kuah dari makanan itu. Dan
ketika menghirup kuahnya, dia langsung seperti tersengat listrik.
“Emmmm.....”
Cuma
itu kata-kata yang keluar dari mulut Andri. dia langsung melahap Samgyetang itu. Potong demi potong daging
ayam sampai menghirup kuah yang hanya biasa dilakukan orang Indonesia.
Wanita
itu hanya bisa memandangi Andri yang sedang makan dengan lahapnya dengan tangan
kanan pada telinga cangkir kopinya dan tangan kirinya pada handphonenya. Dia
memandangi Andri yang kelihatan sekali sangat lapar dan juga menikmati makanan
itu. Dan tanpa sadar, dia sedikit tersenyum kecil melihat Andri yang sedang makan.
Ketika menyadari dia tersenyum, wanita itu seperti tersontak. Seperti ada
sesuatu yang langsung memenuhi pikirannya. Dia langsung menghilangkan
senyumannya dan hanya bisa memandang kosong ke arah Andri yang sedang makan.
Dan
setelah pembantaian terhadap ayam itu, akhirnya Andri selesai makan.
“Eeerrggggg.... Hahahaha ”
Suara
sendawa mulut Andri yang diiringi dengan tertawa puas langsung memenuhi
restoran itu. Orang lain yang sedang duduk dimeja lainpun langsung menoleh
sejenak kearah Andri. Sedang wanita itu seperti langsung tersadar dari
lamunannya. Dia langsung melihat Andri yang sedang mengelus-elus perutnya.
“Woaaah enaknya. Hahaha. Kalau mama
masak yang kayak ginian dirumah, udah gak bakal pernah lagi keluar buat nyari
makan. Eeeerrrggg..”
Racaunya
dalam bahasa Indonesia yang diikuti suara sendawanya sambil tetap mengelus
perutnya. Dan ketika sedang asiknya bersendawa, pandangannya langsung terhenti
ke arah wanita yang ada didepannya yang sedang memandangi dirinya.
“I
am sorry. I speak bahasa before and I don’t said something bad, believe me.
But, you know what, this food is crazy. This food is awesome. Woaahhh Daebak
hahaha. (Maafkan saya. Saya tadi berbicara bahasa sebelumnya dan percayalah
kalau saya tidak mengatakan hal yang buruk. Tapi, kalau kau mau tau, makanan
ini sangatlah gila. Makanan ini sangatlah luar biasa. Woaahhh hebat sekali
hahaha).”
Jelas
Andri sambil melemparkan senyuman kearah wanita itu sambil mengacungkan dua
jempolnya.
Wanita
itu hanya melihat kearah Andri dengan tatapan tanpa ekspresi. Melihat itu,
Andri langsung menurunkan tangannya dengan canggung dan dengan rasa penuh malu
dan langsung tertunduk.
“Apa kau sudah selesai?”
“Iya, aku sudah selesai.”
“Yasudah, segera bayar makananmu
dikasir dan kita langsung pergi dari sini.”
“Okay.”
Andri
lalu beranjak dari kursinya dan langsung menenteng ransel.
Selesainya
dia membayar, Andri langsung keluar ke arah luar restoran dimana wanita itu
sudah menunggunya.
“So,
sekarang apa?”
Wanita
itu hanya memandang Andri beberapa saat.
“Aku akan mengantarkanmu ke
penginapanmu. Lokasinya tidak terlalu jauh dari sini, jadi kita akan berjalan
saja.”
Jawab
wanita itu sambil melangkah berjalan dengan tangan dilipat dan dengan salah
satu tangannya memegang kertas yang sudah digulungnya itu.
“Baiklah.”
Andri
lalu mengikuti langkah wanita itu berjalan.
Cukup
lama mereka berjalan. Andri sekali lagi ingin mencoba untuk berinteraksi dengan
wanita itu layaknya dia dengan orang lainnya. Dia memulainya dengan merubah
tempat dia berjalan yang awalnya ada dibelakang wanita itu, kini berpindah
kesampingnya. Dan ketika dia sudah disamping wanita itu, dia langsung
melemparkan senyuman kearah wanita itu dan wanita itu yang menyadari
berpindahnya lokasi Andri pun hanya bisa membalas senyuman Andri dengan tatapan
tanpa ekspresi dan langsung mengembalikan lagi pandangannya kearah jalan.
Melihat
reaksi wanita itu, Andri hanya bisa tersenyum masam. Dia tiba-tiba menjadi
canggung dan tidak tau harus berkata apa.
“Suasananya bagus ya.”
Andri
membuka pembicaraan dan wanita itu tidak menoleh bahkan menjawab pertanyaan
Andri.
Andri
tidak berhenti sampai situ saja.
“Wah kalau tinggal disini mah pasti
seru. Suasananya bagus, bersih juga. Beda sekali sama Jakarta. Udah macet, debu
juga. Kadang-kadang sampah terbang-terbangan.”
Wanita
itupun mulai menoleh kearah Andri sekilas dan Andri masih memandang kedepan.
“Pernah tuh suatu waktu, waktu lagi
bawa motor, eh kantong nimpuk dimuka. Asem bener. Untung aja gak nabrak.”
Wanita
itu lalu menoleh kearah Andri.
“Emang di Jakarta tidak ada kotak
sampah?
“Ada kok, banyak malah. Yang
ngebuang sampahnya ke kotak sampah aja yang gak ada.” Jawab Andri sambil tetap
memandang kedepan.
“Disini juga gak ada gitu yang jual
asongan pas lampu merah. Jadi keliatan banget teraturnya.”
“Jual asongan?”
“Ya, orang yang jual permen, rokok,
minuman. Kadang juga ada yang suka jual tissue.”
Jelas
Andri yang kali ini sambil menoleh kearah wanita itu sekilas. Dan ketika
pandangan mereka bertemu, mereka langsung merubah arah pandangan mereka.
“Di Jakarta juga ya, kalau ada lampu
merah, juga suka ada yang jual koran. Anak kecil gitu biasanya. Ada juga orang
yang lebih tua.”
“Anak kecil? Emang orang tuanya
kemana?”
“Entahlah. Pingsan kali. Hahahaha.”
Wanita
itu hanya diam saja melihat Andri tertawa.
“Pernah juga tuh ya, ada kejadian
lucu sama tukang koran akunya.”
“Pernah tuh pas lagi nunggu lampu
hijau gitu, saya kan naik motor ya habis pulang dari kantor. Eh tiba-tiba ada
anak nyamperin sambil bawa koran. Ngomong enggak apa-apa enggak, tiba-tiba dia
langsung naruh korannya di motorku.”
Wanita
itu mulai tersenyum kecil.
“Terus?”
Andri
menoleh sebentar ke arah wanita itu.
“Ya terus aku panggil lah anak kecil
itu. Aku tanya kan, ‘dek, ini korannya kenapa?’ dan langsung tuh anak kecil itu
balik lagi. Trus dia bilang, ‘bang, tolong beli dong korannya.’ Karena kasihan
kan, trus aku tanya gitu harganya, ‘berapaan?’ sambil aku ngeluarin uang 3 ribu
rupiah kalo gak salah. Itu sekitar 300
won lah kira-kira.”
Andri
lalu menoleh kearah wanita itu. Wanita itu masih memandangi dan mengikuti
cerita Andri sambil tersenyum kecil.
“Dan pas aku ngeluarin 3000 rupiah
tuh dan itu satu-satunya uang yang ada dikantongku kan, karena paginya aku lupa
bawa dompet gitu ya, anak kecil itu langsung bilang, ‘5000 ribu bang korannya.’
Itu sekitar 500 won lah gitu. Hahaha.”
“Kamu bayangin aja, aku cuma ada
uang 3000 rupiah dan anak kecil itu bilang harganya 5000 rupiah. Dan ngedenger
hal itu, kaget aku kan. Mana koran udah ditangan lagi kan. Terus aku bilang
gini, ‘Abang Cuma ada 3000 rupiah. Gak ada lagi. Kalau mau ayo, kalau enggak
yasudah.’ Aku bilang gitu kan sama dia.” Sambung Andri dengan seriusnya.
“Terus kamu tau apa yang dia bilang.
Aku langsung speechless pas dia bilang itu. Hahaha.”
“Apa-apa? Anak itu bilang apa?”
Wanita
itu tak kalah semangatnya sambil dipenuhi rasa penasaran.
“Dia tarik tuh koran dari tangan
aku, terus dia bilang, ‘dasar cowok kere. Gak punya duit.’ HAHAHAHA sialan
bener.”
Wanita
itu ikut tertawa mendengar ujung cerita dari Andri. Andri melihat ke arah
wanita itu yang sedang tertawa dan hanya bisa tersenyum. Dan ketika berhenti
tertawa, wanita itu langsung melihat kearah Andri. Dan ketika dia melihat ke
arah Andri, dia langsung terdiam dan langsung merubah arah pandangannya.
“Kau tahu, setelah seharian ini,
baru kali ini aku melihat kamu tersenyum gitu.” Ucap Andri sambil tersenyum.
“Kau jauh lebih cantik loh kalau
kamu senyum seperti gitu.”
Wanita
itu hanya bisa terdiam malu sambil mengubah-ubah arah pandangannya.
Cukup
lama mereka terdiam. Dan tak lama, sampailah mereka ke penginapan Andri.
Wanita
itu lalu berhenti dan langsung menunjuk sebuah bangunan yang ada didalam lorong
jalan.
“Ini kita sudah sampai.”.
Andripun
langsung melihat foto penginapan yang dia dapat dari internet untuk memastikan
tempatnya.
“Wah bener nih ini tempatnya.”
“Silahkan masuk.”
“Baiklah.”
Andri
lalu berjalan menuju bangunan itu. Wanita itu hanya melihat Andri dari
belakang. Dan setelah beberapa langkah Andri berhenti dan berbalik.
“Eh, kamu bagaimana? Apa tidak
apa-apa pulang sendirian?”
“Tidak apa-apa kok. Aku sudah
biasa. Lagian apartemenku ada didekat sini.”
“Good bye.”
Wanita itu lalu berbalik berjalan.
“Oh iya, terima kasih ya emmm...
siapa namamu?”
Mendengar
itu, wanita itu langsung berbalik dan terdiam sejenak.
“Namaku Yoora, Ahn Yoora. Kamu bisa
panggil aku Yoora saja.” Jawabnya sambil tetap tersenyum kecil kepada Andri.
Andri
pun langsung membalas senyuman wanita itu.
“Yoora, terima kasih ya.”
“Tidak, aku yang terima kasih. Daah.
Selamat beristirahat.” Ucap wanita itu sambil tersenyum lalu langsung berbalik
sambil berjalan.
Andripun
hanya bisa tersenyum. Dan setelah wanita itu menghilang di persimpangan, dia
langsung berbalik menghadap rumah penginapannya. Dengan tarikan nafas panjang
dan senyuman lebar, dia langsung masuk ke penginapannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar