Senin, 04 Januari 2016

One More Week Episode 7: THANK YOU

Jam didalam pesawat sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore. Dan setelah 5 jam setengah di atas pesawat, Andri pun bangun dari tidurnya setelah dibangunkan oleh pramugari.

“Maaf pak, kita sebentar lagi sampai.”

“Oh iya, terima kasih.”

“Bisa tolong saya untuk membangunkan orang yang di sebelah anda?”

Andri langsung melihat ke arah kanannya dan melihat Kwung Hwan sedang tertidur pulas dengan mulut terbuka.

“Nanti biar saya saja mbak yang membangunkannya.”

“Terima kasih.” Ucap pramugari itu sambil meninggalkan dia untuk membangunkan penumpang lain yang sedang tidur.

Andri hanya membalas pramugari itu dengan senyumannya. Pramugari itu lalu menuju ke kursi belakang untuk membangunkan penumpang yang lain. Andri sempat mengikuti langkah pramugari itu sebelum akhirnya pandangannya terhenti pada wanita yang ada disebelah kirinya.

Wanita itu tampak sedang membuka topinya dan merapikan rambut cokelat kemerahannya. Melihat itu, Andri hanya bisa terdiam sambil melihat wanita itu. Karena selama 6 jam di atas pesawat, baru kali ini dia melihat wajah wanita itu. Wajahnya putih bersih dengan hidung yang mancung dan mata yang indah. Kalaupun wanita itu bilang dia adalah seorang artis ataupun salah satu personel girl grup, pasti dia percaya.

Setelah merapikan rambutnya dengan tangannya, lalu wanita itu langsung memasang kembali topi yang dia kenakan. Dia lalu menoleh ke arah kanan tepat ke arah Andri. Andri yang saat itu hanya terdiam sambil memandang wanita itu, langsung terkejut dan memindahkan pandangannya ke depan ketika wanita itu menoleh ke arah dirinya.

Cukup lama wanita itu melihat ke arah Andri, lalu kemudian, dia mulai membuka lagi lembaran kertas yang digulungnya itu, membalikkan beberapa lembar kertas dan membacanya. Andri yang hanya bisa melihat ke arah depan pun, mencoba melirik ke arah wanita itu. Dan ketika dia mendapati wanita itu sudah tidak melihatnya lagi, dia langsung menarik nafas panjang dan langsung menoleh ke arah Kyung Hwan dan langsung membangunkannya.

Pesawat pun akhirnya mendarat di Incheon International Airport. Dan semua penumpang pun langsung bersiap-siap untuk turun dari pesawat. Andri sendiripun sambil mengobrol kecil dengan Kyung Hwan, langsung mengeluarkan barang bawaannya dari dalam bagasi atas. Sambil mengeluarkan tasnya, dia melihat ke arah wanita itu yang langsung berjalan menuju pintu keluar sambil hanya membawa tas kecil yang di selempangkannya dan juga kertas yang di baca tadi yang sudah digulung ditangan kirinya.

Melihat Andri terus menoleh kearah wanita itu, Kyung Hwan langsung menepuk bahu Andri dan seketika Andri langsung menoleh ke arah Kyung Hwan sejenak dan kemudian langsung menurunkan tasnya dari dalam bagasi tersebut dan langsung menuju pintu keluar.

Sesampainya didalam bandara, Andri yang ditemani Kyung Hwan langsung menuju ke Imigrasi. Beruntunglah Andri bisa berkenalan dengan Kyung Hwan, jadi dia tidak payah-payah lagi mengurusi sesuatunya didalam bandara itu. Dan tak sampai 15 menit, semua urusan Andripun  sudah selesai dan mereka berdua melangkah ke arah luar bandara.

“Habis ini kau mau kemana lagi?”

“Mau makan sih sebenernya. Tapi ke hotel dulu deh kayaknya.”

“Ada alamatnya? Siapa tahu aku bisa bantu kau buat kesana.”

Andri lalu mengeluarkan handphone-nya dan membuka catatan yang ada di handphonenya itu. Lantas dia langsung menyodorkan alamat itu kepada Kyung Hwan.

“Ini nih alamatnya.”

Andri langsung menyodorkan layar Hpnya.

“2F 112 Myeonryun 2ga, Jongrogu, Seoul, Korea, 110-532. Kalau dari sini harus naik apa? Bisa kau tolong aku?”

“Sebentar ya. Aku ingat-ingat dulu.”

Kyung Hwan pun mencoba mengingat alamat yang diberikan kepada Andri.

Dan ketika sedang mencoba mengingat alamat itu, tiba-tiba HP Kyung Hwan berbunyi.

“Oh maaf.”

Kyung Hwan mulai berbicara dengan orang di telepon tersebut dengan bahasa Korea. Dan Andri sendiri hanya bisa terbengong-bengong melihat itu. Sambil menunggu Kyung Hwan yang sedang menelpon, dia lalu mencoba melihat-lihat sekitar bandara. Lalu tiba-tiba pandangannya terhenti ke wanita yang tadi duduk disebelahnya. Wanita itu tampak sedang melihat Kyung Hwan yang sedang menelpon sambil memegang kertas yang sedang terbuka itu. Cukup lama Andri melihat ke arah wanita itu.

Tak lama, Kyung Hwan selesai dengan urusannya di telepon. Dia lalu berjalan menuju Andri yang sedang melihat wanita itu. Melihat itu, Kyung Hwan menoleh sedikit ke arah wanita itu lalu langsung menegur Andri.

“Hoi! Ngeliatin mulu. Udahlah ah.”

“Apaan sih.” Elak Andri.

“Jadi gimana? Bisa tidak nunjukkin lokasinya?”

“Haduh gimana ya. Ini tadi barusan aku dapat telpon dari kantor, disuruh kesana langsung untuk megang acara, soalnya ada PD yang gak bisa hadir.”

“Yaudah deh kalau begitu. Biar nanti aku cari sendiri aja.” Jawab Andri dengan diiringi senyum ramahnya.

Melihat senyum Andri, Kyung Hwan menjadi tidak enak.

“Eh nanti dulu. Bagusnya sih naik taksi sih biar langsung sampai. Tapi masih perlu jalan lagi buat ke lokasinya. Mana malam, agak susah takutnya kalau nyari sendirian. Bentar ya, saya pikirin dulu solusinya.”

Setelah beberapa saat berpikir...

“Oh iya. Yuk ikut sebentar.”

Mereka lalu berjalan menuju ke arah wanita itu yang saat itu sedang membaca kertas itu.

“Kau tunggu disini sebentar ya.”

Lalu, Kyung Hwan menuju wanita itu dan memanggilnya sedangkan Andri pun dari jarak beberapa meter hanya bisa melihat saja mereka yang sedang berbicara dengan bahasa Korea.
Tampak dari ekspresi yang terlihat dari pembicaraan Kyung Hwan dan wanita itu. Kyung Hwan tampak sedikit panik dan cemas ketika berbicara kepada wanita itu sambil beberapa kali melirik ke arah Andri. Sedang wanita itu tampak kesal dan hanya melihat sekali ke arah Andri. Dan setelah perdebatan panjang Kyung Hwan dan wanita itu, lalu mereka berdua hanya bisa terdiam. Wajah Kyung Hwan tampak lebih cemas dari sebelumnya dan wanita itu hanya bisa dia sambil beberapa kali melihat ke arah Andri.

Dan setelah beberapa lama terdiam, akhirnya wanita itu berbicara kepada Kyung Hwan sambil menganggukan kepalanya dan Kyung Hwan sendiri tampak senang dan segera menghampiri Andri.

“Andri, jadi gini. Nanti kau bakal ditemani oleh dia. Ikutin aja arahannya. Dia fasih juga bahasa Inggrisnya. Okeh?” Jelas Kyung Hwan kepada Andri dengan wajah sumringah.
Andri pun agak sedikit kebingungan.

“Bener nih?”

“Beneran. Cepet samperin dia. Aku mau ke kantor dulu ya. Sudah terlambat ini.”

Kyung Hwan langsung berlari menuju parkiran mobil.

“KALAU SUDAH SAMPAI JANGAN LUPA UNTUK MENGHUBUNGI AKU!”

Andri hanya diam melihat ke arah Kyung Hwan berlari. Lalu dia langsung menghampiri wanita itu sambil beberapa kali melirik ke arah lari Kyung Hwan. Wanita itu tampak sedang membaca kertas yang dibawanya itu.

“Eng.... Anu.... Tadi Kyung Hwan bilang...”

I know. Follow me. (Aku tahu. Ikuti aku)” Potong wanita itu tanpa melihat ke arah Andri lalu langsung berjalan menuju ke pangkalan taksi.

Andri pun hanya bisa mengikuti wanita itu dari belakang. Andri hanya melangkah dibelakang wanita itu tanpa mengatakan apa-apa sampai ke pangkalan taksi. Lalu, wanita itu langsung masuk ke dalam taksi itu. Andri hanya bisa diam. Dia hanya berdiri didepan pintu.
Melihat hal itu, wanita itu lalu menghentikan kegiatan membaca kertasnya dan melihat keluar.

“Ayo cepat masuk.”

“Oh iya iya maaf.”

Andri langsung masuk kedalam taksi itu.

Lalu tiba-tiba suasana menjadi sunyi.

Eodilo gasimnikka?”

Tanya sang supir sambil melihat ke arah kaca spion di atasnya.

“Eng...?!” Jawab Andri dengan penuh kebingungan.

I don’t speak Korean. (Aku tidak bisa bahasa korea)”

“Eng...?!” Jawab supir tak kalah bingungnya.

Andri hanya bisa menggelengkan kepalanya karena bingung. Dia tidak tau apa yang harus dilakukan. Sementara wanita yang ada disebelahnya hanya diam sambil membaca dan membolak-balik kertas yang ada ditangannya.

Andri mencoba untuk berbicara dengan wanita yang ada disebelahnya ini. Tetapi karena takut, dia tidak punya keberanian untuk melakukannya. Dan tiba-tiba suasana didalam mobil itu menjadi sunyi ditengah kebingunan antara Andri yang tidak tau harus bagaimana dan sang supir yang juga kebingungan melihat tingkah Andri.

“Dia bertanya kau mau pergi kemana.”

Kata wanita yang ada disebelah Andri sambil tetap tertunduk membaca memecah kesunyian di taksi itu.

“Oh, oke oke.”

Andri lalu langsung merogoh handphonenya yang ada di kantongnya lalu mencari alamat yang sudah dia catat disana.

“Oh ini dia. Saya mau pergi ke 2F 112 Myeongryun 29a, Jongrogu, Seoul, 110-532.”

Setelah membaca alamat yang dicarinya ditambah menunjukkan alamat yang ada di handphonenya kepada sang supir, akhirnya taksi itu mulai melaju.

Sigani eolmana geollijyo? (Berapa lama sampai tiba disana?)” Tanya wanita itu kepada sang supir.

Sam sip bunieyo. (30 menit)” Jawab sang supir singkat.

Andri yang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan hanya bisa diam saja. Sedangkan wanita itu, setelah mendapatkan jawabannya, dia langsung kembali membaca kembali kertas itu sambil membolak baliknya.

Setelah 15 menit, taksi itu mulai memasuki kawasan perkotaan. Dia tampak terkagum-kagum melihat keadaan kota Seoul yang sangat berbeda dari Jakarta.  Dia hanya bisa terkagum sambil menpotret apa yang dilihatnya dari balik jendela. Dan ketika dia sedang melihat-lihat pemandangan kota, dia mencoba melirik wanita yang ada disebelahnya. Pelan namun pasti, dia mulai melirik wanita itu. Tampak wanita itu sudah tidak membaca kertas yang ada ditangannya dan hanya melihat keluar jendela taksi masih dengan tanpa ekspresinya.

“Eng, Anu... Ini... Maaf, apa... apa... kau lapar?”

Tanya Andri kepada wanita itu dengan terbata-bata saking berhati-hatinya sambil memberikan senyumannya.

Wanita yang sedang menghadap ke arah luar jendela, langsung memindahkan arah menghadapnya ke arah Andri ketika dia mendengar suara Andri masih dengan diam tanpa ekspresinya, lalu mengembalikan lagi pandangannya ke arah luar jendela.

Melihat sikap itu, Andri hanya bisa tersenyum masam. Dia makin tidak tau dengan apa yang harus dia lakukan. Dia hanya bisa diam panik sambil melihat kesana-kemari. Dan tak lama dari itu, dia kembali mencoba bertanya kepada wanita itu.

“Anu... Ini... Gimana ya... Eng... Maaf... Nona maaf... Apa... apa... kau lapar? Nanti... Nanti... aku yang traktir gi... gimana?”

Tanya Andri terbata-bata. Jantungnya berdegup sangat kencang hanya untuk mencoba berbicara dengan wanita itu. Pikirannya pun sudah berkecamuk entah kemana-mana. Dia bahka­­­­­­­n sudah berpikir untuk membuka jendela taksi itu lalu lompat keluar. Matanya masih tetap melihat ke arah wanita itu yang masih memandang ke arah luar jendela.

“Tidak, aku tidak lapar.” Jawab wanita itu singkat.

“Oh.. O...Okelah kalau begitu.”

Andri dengan canggungnya sambil mengembalikan pandangannya ke arah depan.

Sang sopir yang melihat kejadian itu dari spion hanya bisa tersenyum. Walaupun dia tidak mengerti apa yang mereka berdua katakan, tapi tampaknya dengan melihat tingkah dari Andri, dia tau apa yang terjadi.

Suasana didalam taksi berubah menjadi sunyi. Andri hanya bisa memandang kedepan sambil sesekali melihat ke arah jendela untuk melihat keadaan diluar. Sedang wanita itu masih tetap memandang ke arah luar jendela.

KRUYUK KRUYUK !!!

Tiba-tiba suara perut memecahkan keheningan didalam taksi itu. Sang supir yang mendengar suara itu langsung menoleh kearah spion. Sedang wanita yang sedang memandang keluar jendela, langsung memindahkan pandangannya ke arah Andri.

“Ma.. ma... maaf.” Kata Andri dengan suara kecil sambil memegang perutnya.

Wanita yang sedang melihat ke arah Andri ini tetap diam, sambil melihat Andri yang sedang panik dan malu dari atas ke bawah. Sedang Andri hanya bisa menundukkan kepalanya malu sambil tetap memegang perutnya.

Wanita itu lalu memegang bahu sang supir.

            “Gisanim, sikdang ga juseyo. (Pak supir, tolong antarkan ke rumah makan)”

            “Ne. (Iya)”

Dan tak lama dari itu, taksi itu berhenti di pinggir jalan. Andri yang kebingungan hanya bisa melongo saja. Wanita itu pun langsung membuka pintu dan keluar dari taksi itu. Pikirannya sudah kemana-mana. Dia bahkan sudah berpikir kalau dia akan ditinggalkan ditengah jalan. Andri yang kebingungan pun hanya bisa terdiam didalam taksi.

            “Cepat turun.” Ucap wanita itu sambil menundukkan kepalanya ke arah dalam taksi.
Andri pun langsung membayar taksi itu dan langsung turun dari taksi itu. Dan setelah Andri turun, taksi itu langsung pergi. Andri pun hanya bisa mengikuti kemana arah taksi itu pergi sambil terdiam. Lalu sebuah tangan menepuk tangannya.

            “Ikuti aku.”

Andri tetap berdiri ditempatnya dengan bingung.

            “Kita mau kemana?”

Wanita itu lalu memalingkan wajahnya ke arah Andri.

            “Ikuti saja aku.”

Andri hanya bisa terdiam tidak bergerak. Di sepenuhnya sudah bingung apa yang sedang terjadi dinegeri orang. Dia hanya bisa memandang wanita itu yang sudah memalingkan pandangan darinya.

            “Cepatlah. Disini dingin.” Kata wanita itu sambil kembali menghadap kearah Andri dengan tanpa ekspresi diwajahnya dan dengan nada suara yang datar.

Wanita itu lantas langsung berjalan masuk ke arah sebuah bangunan. Andri pun hanya bisa mengikuti  langkah wanita itu masuk kedalam bangunan itu. Dan ternyata bangunan itu adalah sebuah restoran.

Mereka lalu memilih duduk di agak belakang dari restoran tersebut. Andri dan wanita itu duduk saling berhadapan.

            “Samgyetang hanage juseyo.

            “Ne.

            “Ah, Kkopi tto hanage juseyo.”

Andri hanya bisa diam saja. Disamping dia tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, dia juga bingung dan juga masih belum berani untuk berbicara dengan wanita ini.

Dan sambil menunggu pesanan, Andri mencoba menyibukkan diri. Dia mulai melihat kekanan kekiri, melihat orang lain yang sedang makan, membolak balikkan menu yang ada didepannya dan tak habis-habisnya minum air putih yang disediakan.

Saat Andri sedang melihat-lihat seisi restoran itu, pandangannya terhenti kepada wanita yang ada didepannya itu. Wanita itu tampak hanya memainkan handphonenya, sedangkan kertas yang sedaritadi dibacanya itu hanya diletakkan diatas meja disamping tangan kanannya. Cukup lama Andri melihat wanita itu. Mencoba menebak apa yang sedang dilihat wanita itu di dalam handphonenya. Wanita itu juga tampak sedang berchatting ria, hanya saja dia tidak mengeluarkan ekspresi sama sekali.

Saat Andri sedang melihat wanita itu dengan fokus-fokusnya, tiba-tiba wanita itu menghentikan kegiatan di handphonenya. Sambil handphonenya tetap dipegang, dia tiba-tiba melihat kearah Andri yang daritadi sedang memperhatikannya. Melihat hal itu, Andri langsung gelagapan. Dia langsung menuangkan air kedalam cangkirnya. Saking gugupnya, dia sampai menumpahkan air itu. Dan ketika cangkir itu sudah terisi, langsung dia minum secepat kilat sampai-sampai dia tersedak.

            “Uhuk uhuk uhuk...!” Batuk Andri sambil menepuk-nepuk dadanya.
      “Ma...ma... maaf..” Sambungnya dengan suara yang parau sambil tetap menepuk dadanya dengan tangan kanan dan mencoba meraih sapu tangan yang ada dikantongnya.

Wanita itu hanya memandangnya tanpa ekspresi. Kali ini, gantian wanita itu yang menatapi Andri. Dia menatapi Andri dengan tajam. Tanpa bergerak bahkan berubah posisinya. Masih dengan tangan diatas meja sambil tetap memegang handphonenya. Melihat hal itu, Andri hanya bisa diam saja. Pandangannya kesana kemari. Dia tidak berani  melihat langsung ke arah wanita itu. Hanya beberapa kali dia melirik kearah wanita itu, tetapi ketika menyadari wanita itu masih dilihatnya, dia langsung melemparkan pandangannya ke tempat lain.

Setelah 15 menit menunggu, pesanan pun  datang. Ketika pesanan datang, wanita itu langsung berhenti memandangi Andri. Dia langsung mengembalikan pandangannya ke handphonenya. Dan ketika kopi datang, dia langsung menyambut kopi itu.

            “Matshigedeuseyo. (Selamat menikmati)” Ucap wanita penjual itu ketika menaruh seporsi Samgyetang (Sup ayam dengan gingseng) dan diikuti secangkir kopi hitam dihadapan Andri dan wanita itu.

            “Ne.. (Baiklah)” Jawab wanita itu singkat. Dan wanita penjual itu langsung pergi meninggalkan mereka.

            “Makanlah.”

Andri hanya melihat-lihat hidangan ayam yang dimasak sup tapi sangat berbeda dengan sup ayam yang sering dibuat Mamanya.

              “Ini apa?”

            “Ini namanya Samgyetang atau artinya Sup Ayam dengan gingseng. Makanan ini bagus di keadaan yang dingin seperti ini.”

Wanita itu lalu menyeruput kopi hitamnya.

Andri masih terlihat ragu-ragu untuk makan hidangan yang ada didepannya itu dan wanita itupun menyadarinya.

            “Makanlah cepat. Aku tidak mau menunggu selamanya hanya untuk melihat kau makan saja.”

            “Ba... ba... baiklah.”

Andri langsung mengambil sumpitnya dan dengan ekspresi wajah yang ragu-ragu ditambah rasa takut mendengar perkataan wanita yang ada didepannya ini.

Dia akhirnya menyicipi makanan itu. Dia pertama ambil daging ayam itu dengan sumpitnya dan langsung disambung dengan menghirup kuah dari makanan itu. Dan ketika menghirup kuahnya, dia langsung seperti tersengat listrik.
            
           “Emmmm.....”

Cuma itu kata-kata yang keluar dari mulut Andri. dia langsung melahap Samgyetang itu. Potong demi potong daging ayam sampai menghirup kuah yang hanya biasa dilakukan orang Indonesia.

Wanita itu hanya bisa memandangi Andri yang sedang makan dengan lahapnya dengan tangan kanan pada telinga cangkir kopinya dan tangan kirinya pada handphonenya. Dia memandangi Andri yang kelihatan sekali sangat lapar dan juga menikmati makanan itu. Dan tanpa sadar, dia sedikit tersenyum kecil melihat Andri yang sedang makan. Ketika menyadari dia tersenyum, wanita itu seperti tersontak. Seperti ada sesuatu yang langsung memenuhi pikirannya. Dia langsung menghilangkan senyumannya dan hanya bisa memandang kosong ke arah Andri yang sedang makan.

Dan setelah pembantaian terhadap ayam itu, akhirnya Andri selesai makan.

            “Eeerrggggg.... Hahahaha ”

Suara sendawa mulut Andri yang diiringi dengan tertawa puas langsung memenuhi restoran itu. Orang lain yang sedang duduk dimeja lainpun langsung menoleh sejenak kearah Andri. Sedang wanita itu seperti langsung tersadar dari lamunannya. Dia langsung melihat Andri yang sedang mengelus-elus perutnya.

            “Woaaah enaknya. Hahaha. Kalau mama masak yang kayak ginian dirumah, udah gak bakal pernah lagi keluar buat nyari makan. Eeeerrrggg..”

Racaunya dalam bahasa Indonesia yang diikuti suara sendawanya sambil tetap mengelus perutnya. Dan ketika sedang asiknya bersendawa, pandangannya langsung terhenti ke arah wanita yang ada didepannya yang sedang memandangi dirinya.

            “I am sorry. I speak bahasa before and I don’t said something bad, believe me. But, you know what, this food is crazy. This food is awesome. Woaahhh Daebak hahaha. (Maafkan saya. Saya tadi berbicara bahasa sebelumnya dan percayalah kalau saya tidak mengatakan hal yang buruk. Tapi, kalau kau mau tau, makanan ini sangatlah gila. Makanan ini sangatlah luar biasa. Woaahhh hebat sekali hahaha).”

Jelas Andri sambil melemparkan senyuman kearah wanita itu sambil mengacungkan dua jempolnya.

Wanita itu hanya melihat kearah Andri dengan tatapan tanpa ekspresi. Melihat itu, Andri langsung menurunkan tangannya dengan canggung dan dengan rasa penuh malu dan langsung tertunduk.

            “Apa kau sudah selesai?”

            “Iya, aku sudah selesai.”

            “Yasudah, segera bayar makananmu dikasir dan kita langsung pergi dari sini.”

            “Okay.”

Andri lalu beranjak dari kursinya dan langsung menenteng ransel.

Selesainya dia membayar, Andri langsung keluar ke arah luar restoran dimana wanita itu sudah menunggunya.

            “So, sekarang apa?”

Wanita itu hanya memandang Andri beberapa saat.

            “Aku akan mengantarkanmu ke penginapanmu. Lokasinya tidak terlalu jauh dari sini, jadi kita akan berjalan saja.”

Jawab wanita itu sambil melangkah berjalan dengan tangan dilipat dan dengan salah satu tangannya memegang kertas yang sudah digulungnya itu.

            “Baiklah.”

Andri lalu mengikuti langkah wanita itu berjalan.

Cukup lama mereka berjalan. Andri sekali lagi ingin mencoba untuk berinteraksi dengan wanita itu layaknya dia dengan orang lainnya. Dia memulainya dengan merubah tempat dia berjalan yang awalnya ada dibelakang wanita itu, kini berpindah kesampingnya. Dan ketika dia sudah disamping wanita itu, dia langsung melemparkan senyuman kearah wanita itu dan wanita itu yang menyadari berpindahnya lokasi Andri pun hanya bisa membalas senyuman Andri dengan tatapan tanpa ekspresi dan langsung mengembalikan lagi pandangannya kearah jalan.

Melihat reaksi wanita itu, Andri hanya bisa tersenyum masam. Dia tiba-tiba menjadi canggung dan tidak tau harus berkata apa.

            “Suasananya bagus ya.”

Andri membuka pembicaraan dan wanita itu tidak menoleh bahkan menjawab pertanyaan Andri.

Andri tidak berhenti sampai situ saja.

            “Wah kalau tinggal disini mah pasti seru. Suasananya bagus, bersih juga. Beda sekali sama Jakarta. Udah macet, debu juga. Kadang-kadang sampah terbang-terbangan.”
Wanita itupun mulai menoleh kearah Andri sekilas dan Andri masih memandang kedepan.

            “Pernah tuh suatu waktu, waktu lagi bawa motor, eh kantong nimpuk dimuka. Asem bener. Untung aja gak nabrak.”

Wanita itu lalu menoleh kearah Andri.

             “Emang di Jakarta tidak ada kotak sampah?
         “Ada kok, banyak malah. Yang ngebuang sampahnya ke kotak sampah aja yang gak ada.” Jawab Andri sambil tetap memandang kedepan.

           “Disini juga gak ada gitu yang jual asongan pas lampu merah. Jadi keliatan banget teraturnya.”

               “Jual asongan?”

          “Ya, orang yang jual permen, rokok, minuman. Kadang juga ada yang suka jual tissue.”
Jelas Andri yang kali ini sambil menoleh kearah wanita itu sekilas. Dan ketika pandangan mereka bertemu, mereka langsung merubah arah pandangan mereka.
            

“Di Jakarta juga ya, kalau ada lampu merah, juga suka ada yang jual koran. Anak kecil gitu biasanya. Ada juga orang yang lebih tua.”

            “Anak kecil? Emang orang tuanya kemana?”

            “Entahlah. Pingsan kali. Hahahaha.”

Wanita itu hanya diam saja melihat Andri tertawa.

            “Pernah juga tuh ya, ada kejadian lucu sama tukang koran akunya.”

           “Pernah tuh pas lagi nunggu lampu hijau gitu, saya kan naik motor ya habis pulang dari kantor. Eh tiba-tiba ada anak nyamperin sambil bawa koran. Ngomong enggak apa-apa enggak, tiba-tiba dia langsung naruh korannya di motorku.”

Wanita itu mulai tersenyum kecil.

            “Terus?”

Andri menoleh sebentar ke arah wanita itu.

            “Ya terus aku panggil lah anak kecil itu. Aku tanya kan, ‘dek, ini korannya kenapa?’ dan langsung tuh anak kecil itu balik lagi. Trus dia bilang, ‘bang, tolong beli dong korannya.’ Karena kasihan kan, trus aku tanya gitu harganya, ‘berapaan?’ sambil aku ngeluarin uang 3 ribu rupiah kalo gak salah. Itu sekitar  300 won lah kira-kira.”

Andri lalu menoleh kearah wanita itu. Wanita itu masih memandangi dan mengikuti cerita Andri sambil tersenyum kecil.

            “Dan pas aku ngeluarin 3000 rupiah tuh dan itu satu-satunya uang yang ada dikantongku kan, karena paginya aku lupa bawa dompet gitu ya, anak kecil itu langsung bilang, ‘5000 ribu bang korannya.’ Itu sekitar 500 won lah gitu. Hahaha.”

            “Kamu bayangin aja, aku cuma ada uang 3000 rupiah dan anak kecil itu bilang harganya 5000 rupiah. Dan ngedenger hal itu, kaget aku kan. Mana koran udah ditangan lagi kan. Terus aku bilang gini, ‘Abang Cuma ada 3000 rupiah. Gak ada lagi. Kalau mau ayo, kalau enggak yasudah.’ Aku bilang gitu kan sama dia.” Sambung Andri dengan seriusnya.

            “Terus kamu tau apa yang dia bilang. Aku langsung speechless pas dia bilang itu. Hahaha.”

            “Apa-apa? Anak itu bilang apa?”

Wanita itu tak kalah semangatnya sambil dipenuhi rasa penasaran.

            “Dia tarik tuh koran dari tangan aku, terus dia bilang, ‘dasar cowok kere. Gak punya duit.’ HAHAHAHA sialan bener.”

Wanita itu ikut tertawa mendengar ujung cerita dari Andri. Andri melihat ke arah wanita itu yang sedang tertawa dan hanya bisa tersenyum. Dan ketika berhenti tertawa, wanita itu langsung melihat kearah Andri. Dan ketika dia melihat ke arah Andri, dia langsung terdiam dan langsung merubah arah pandangannya.

            “Kau tahu, setelah seharian ini, baru kali ini aku melihat kamu tersenyum gitu.” Ucap Andri sambil tersenyum.

            “Kau jauh lebih cantik loh kalau kamu senyum seperti gitu.”

Wanita itu hanya bisa terdiam malu sambil mengubah-ubah arah pandangannya.

Cukup lama mereka terdiam. Dan tak lama, sampailah mereka ke penginapan Andri.

Wanita itu lalu berhenti dan langsung menunjuk sebuah bangunan yang ada didalam lorong jalan.

            “Ini kita sudah sampai.”.

Andripun langsung melihat foto penginapan yang dia dapat dari internet untuk memastikan tempatnya.

            “Wah bener nih ini tempatnya.”

“Silahkan masuk.”

“Baiklah.”

Andri lalu berjalan menuju bangunan itu. Wanita itu hanya melihat Andri dari belakang. Dan setelah beberapa langkah Andri berhenti dan berbalik.

“Eh, kamu bagaimana? Apa tidak apa-apa pulang sendirian?”

“Tidak apa-apa kok. Aku sudah biasa. Lagian apartemenku ada didekat sini.”

“Good bye.”

Wanita itu lalu berbalik berjalan.

“Oh iya, terima kasih ya emmm... siapa namamu?”

Mendengar itu, wanita itu langsung berbalik dan terdiam sejenak.

            “Namaku Yoora, Ahn Yoora. Kamu bisa panggil aku Yoora saja.” Jawabnya sambil tetap tersenyum kecil kepada Andri.

Andri pun langsung membalas senyuman wanita itu.

            “Yoora, terima kasih ya.”

        “Tidak, aku yang terima kasih. Daah. Selamat beristirahat.” Ucap wanita itu sambil tersenyum lalu langsung berbalik sambil berjalan.

Andripun hanya bisa tersenyum. Dan setelah wanita itu menghilang di persimpangan, dia langsung berbalik menghadap rumah penginapannya. Dengan tarikan nafas panjang dan senyuman lebar, dia langsung masuk ke penginapannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar