Kamis, 31 Desember 2015

One More Week Episode 6: COINCIDENCE

Tepat pukul 12.00 WIB, pesawat Andri tujuan Incheon International Airport, Seoul, Korea Selatan ini langsung melesat membelah langit kota Jakarta dan menuju Changi Airport, Singapura untuk melakukan transit sebelum akhirnya terbang menuju Seoul, Korea Selatan.

Andri sangatlah excited dengan perjalanannya pada kali ini. Dia yang juga pergi berbekal kamera, sudah banyak mengambil gambar mulai dari bandara sampai didalam pesawat. Didalam pesawat juga dia duduk bersama pasangan kakek nenek yang juga hendak menuju ke Seoul.

Setelah 1 jam duduk dipesawat, sampailah dia di Singapura untuk melakukan transit. Dan sambil menunggu transit, Andri bersama pasangan kakek nenek itu mampir ke sebuah cafe didalam airport sambil menunggu penerbangan selanjutnya yang tertunda 1 jam akibat cuaca buruk.

Dengan kepribadian Andri yang sangat baik, ramah, sopan dan friendly ini, membuat dia mudah sekali dekat dengan orang-orang. Andri bahkan tak segan untuk membantu para penumpang lain dalam memasukkan kopernya kedalam bagasi pesawat walaupun dia tidak pernah mengenal orang itu.

Setelah hampir satu jam menunggu jam penerbangan dan sudah banyak sekali Andri dan pasangan kakek nenek itu bercerita dengan serunya, panggilan keberangkatan selanjutnya pun sudah memanggil. Mendengar hal itu, mereka langsung bergegas menuju pesawat mereka.

Sesampainya didalam pesawat, Andri langsung mengantarkan pasangan kakek nenek itu ke kursi mereka terlebih dahulu yang kali ini duduk terpisah darinya. Dan setelah mengantarkan kakek nenek itu, dia langsung menuju ke kursinya yang kali ini dia bersebelahan dengan seorang laki-laki yang kira-kira sedikit lebih tua darinya yang mempunyai wajah Korea dan memakai pakaian kemeja warna biru muda di sebelah kanannya dan seorang wanita yang kira-kira seumuran dengannya yang memiliki wajah putih cantik dan memakai celana jeans yang robek pada lututnya, menggunakan jaket berwarna hijau tua yang tidak di dikancingkan dengan dalaman sweater warna krem yang dihiasi sebuah kalung berbentuk “Y” sebagai hiasannya. Wanita itu juga memakai topi berwarna hitam yang menutupi rambutnya yang berwarna cokelat kemerahan itu. Hanya saja raut wajah wanita itu terlihat sangat lelah dan juga seperti tidak mengeluarkan ekspresi sama sekali sambil membaca sebuah tulisan dibeberapa kertas yang menggunakan kata-kata Hangul (Huruf Korea) yang pastinya sangatlah asing bagi Andri sendiri.

Setelah memasang sabuk pengamannya, Andri langsung mencoba berkenalan dengan orang yang berada disebelahnya. Dengan kepribadiannya dan kemampuan bahasa Inggrisnya yang sangat baik, Andri mencoba untuk menegur laki-laki yang berada disebelah kanannya yang pada saat itu sedang melihat kearah jendela pesawat.

“Hi.”

Lelaki itu tampak kaget mendengar suara Andri dan langsung mengubah arah pandangannya yang awalnya menuju ke arah jendela, berpindah ke arah sang sumber suara, Andri.

Wanita yang duduk disebelah kiri Andri pun yang sedang membaca tulisan yang ada dikertas ditangannya itu langsung menoleh ke arah Andri sekilas, sebelum akhirnya kembali mengembalikan pandangannya ke arah kertas itu.

“O... Hi.” Balas lelaki itu agak sedikit bingung.

Ah, it okay, I’m just traveler. What is your name? (Ah, tidak apa. Saya hanyalah seorang pelancong. Siapa namamu?)” Andri langsung menjulurkan tangannya diiringi senyum dibibirnya.

Oh, My name is Lee Kyung Hwan. And you? (Oh, nama saya Lee Kyung Hwan. Dan kau?)” Balasnya sambil menyambut tangan Andri dan diiringan dengan senyuman.

“Oh, nama saya Andri. Apa kau bisa bahasa Inggris? Karena saya tidak bisa bahasa asing yang lain selain bahasa Inggris.”

“Tentu saja saya bisa. Tenang saja. Selama kau tidak memberikan perkataan yang panjang dan rumit, tidak akan ada masalah hahahaha.” Balas Kyung Hwan sambil tertawa. Andri pun ikut tertawa ketika mendengar perkataannya.

“Tenang saja. Kalau kau tiba-tiba tidak mengerti apa yang aku katakan, cukup melambai saja pada kamera dan berkata ‘aku menyerah’.”

Kata Andri yang diiringi tawa keduanya. Wanita yang berada disebelah kiri Andri pun menghentikan bacaannya dan langsung menoleh ke arah kedua lelaki yang sedang tertawa disebelah kanannya sambil memberikan ekspresi yang tidak senang sebelum akhirnya dia kembali lagi membaca kertas yang ada ditangannya.

“Hahahaha ada-ada saja kamu. Darimana kau berasal? Kalau melihat dari wajahmu, bisa kutebak bahwa kau orang asia tenggara. Apa kau orang Singapura?”

Andripun hanya memberikan senyuman.

“Saya orang Indonesia. Masih tetanggaan sih dengan Singapura.”

Mendengar itu, Kyung Hwan pun langsung malu.

“Oh maafkan aku. Habisnya kau mirip orang Singapura.”

“Ah tenang saja. Kalau kata sejarah, Indonesia sama Singapura itu memiliki nenek moyang yang sama. Jadi wajarlah kalau mirip.” Kata Andri dengan ramah.

“Jadi, apa yang kau lakukan di Singapura? Jalan-jalan? Atau apa gitu?”

“Tidak-tidak. Aku adalah seorang PD. Kau tau, orang yang bekerja di TV. Aku dan wanita yang ada disebelahmu itu, kami sedang melakukan riset lokasi untuk syuting acara kami. Dan kami merencanakan untuk melakukan syuting di Singapura.”
Mendengar hal itu, Andripun langsung kagum.

“Wah keren sekali. Pasti enak ya kerja di televisi. Apalagi banyak ketemu artis. Kan di Korea gitu banyak artis-artis yang sudah mendunia gitu. Hehe.”

“Ya seperti itulah. Hanya saja ada banyak juga tantangannya. Namanya juga kerja di televisi kan, salah sedikit bisa gawat.”

“Kalau kau, apa pekerjaanmu?”

“Saya bekerja di suatu bank di Indonesia.”

Andri kemudian mengalihkan pandangannya ke arah wanita di sebelah kirinya. Kyung Hwan yang menyadari pandangan Andri yang sedang melihat wanita itu pun hanya bisa diam saja sambil mengernyitkan dahinya dengan cemas.

Andri lalu menjulurkan tangannya ke arah wanita yang sedang membaca kertas di tangannya itu.

“Hai, nama saya Andri.”

Melihat hal itu, wanita itu hanya melihat ke arah tangan itu, lalu langsung memindahkan pandangannya ke arah Andri selama 3 detik yang kemudian langsung mengubah pandangan matanya ke arah Kyung Hwan yang berada dibelakang Andri dan kemudian mengembalikan pandangannya ke arah kertas yang ada ditangannya.

Dengan tangan yang masih terjulur, Andri hanya diam saja dengan memasang raut wajah heran. Kyung Hwan yang melihat itu, langsung menepuk punggung Andri sampai pada akhirnya dia menarik tangannya yang dijulurkan itu kembali dan menoleh ke arah Kyung Hwan.

“Apa yang kau lakukan?”

“Apa? Aku tidak melakukan apapun.”

“Dia itu memang seperti itu. Tapi akhir-akhir ini jauh lebih seram dari yang biasanya.” Bisik Kyung Hwan sambil melirik ke arah wanita itu dengan cemas.

“Aku hanya mencoba menyapanya. Apa yang salah dengan itu.”

Andri lalu mencoba lagi untuk menjulurkan tangannya ke arah wanita itu. Melihat hal itu, Kyung Hwan terkejut dan langsung menarik tangan Andri.

“YA !”

Kata Kyung Hwan sambil sedikit berteriak dan berdiri sambil menarik tangan Andri. Mendengar suara Kyung Hwan, para penumpang lain langsung mengarahkan pandangan ke arahnya. Kyung Hwan yang terkejut dengan suaranya itu, langsung menutup mulutnya.

“Maafkan aku. Maafkan aku.”

Sambung Kyung Hwan sambil menundukkan badannya dan langsung duduk kembali.

“Sudahlah. Jangan suka melakukan hal bodoh. Lebih baik kita tidur karena perjalanan kita akan sangat lama sekali.”

Kyung Hwan mencoba menenangkan Andri dan mulai menyandarkan kepalanya ke kursi dan menutup matanya.

Andri hanya bisa keheranan melihat hal itu. Dia lalu mencoba mencuri pandang ke arah wanita itu yang sedang membolak balikkan kertas yang cukup tebal di tangannya itu.

“Baiklah kalau begitu. Lebih baik aku tidur.”

Andri lalu mulai ikut menyandarkan kepalanya ke kursi dan menutup matanya.

Setelah itu, suasana di dalam pesawat pun sunyi senyap. Kebanyakan orang di pesawat itu menutup matanya. Dan ada beberapa yang masih terjaga dan menggunakan headset dikepalanya.

Tak lama, wanita itu pun menghentikan bacaannya dan mengembalikannya ke halaman awal. Dia lantas menggulung kertas itu dan kemudian menoleh ke arah jendela yang tertutup separuh dan sedang tampak pemandangan langit dan awan yang terlihat.

Lalu, dia memindahkan pandangannya dari jendela itu, menuju ke arah Kyung Hwan sekilas dan kemudian menuju ke arah Andri yang sedang tertidur. Cukup lama dia memandangi wajah Andri dengan tanpa ekspresi diwajahnya sebelum akhirnya di menyandarkan kepalanya ke arah kursi dan menurunkan topinya hingga hampir menutup matanya dan kemudian dia menutup matanya dan tidur.



Senin, 28 Desember 2015

One More Week Episode 5: YOU LOST IT WHEN YOU HAVE IT

Yoora, wanita dengan nama panjang Ahn Yoora ini adalah anak satu-satunya dari pasangan Ahn Kyung Hoon dan Kim Eun Bi. Ayahnya, Ahn Kyung Hoon, bekerja sebagai manajer suatu perusahaan periklanan yang cukup besar di kota Seoul. Sedangkan Ibunya, Kim Eun Bi, merupakan seorang kepala perawat di suatu rumah sakit sebelum akhirnya mengundurkan diri karena menikah.

Keluarga kecil ini merupakan keluarga yang sangat harmonis. Kebahagiaan selalu terpancar dari keluarga ini. Mereka sering melakukan kegiatan bersama. Mulai dari sekedar jalan-jalan ataupun piknik keluarga. Seolah-olah, kebahagiaan merupakan bagian yang memang menempel pada keluarga ini.


Namun, kebahagiaan keluarga ini seakan sirna ketika sang Ibu, Kim Eun Bi, harus meninggalkan Yoora dan suaminya setelah harus takluk dari serangan kanker yang sudah diidapnya sejak lama. Dia dengan terpaksa harus meninggalkan Yoora yang saat itu masih berusia 7 tahun. Dan setelah kejadian itu, senyum cantik Yoora, mulai perlahan menghilang.

Sang Ayah yang kini seorang single parent seringkali harus meninggalkan Yoora karena harus bekerja pada saat yang bersamaan. Ketika sekolah pun, Yoora juga seringkali menunggu lama bahkan sampai larut malam menunggu Ayahnya menjemput.

Yoora merupakan anak yang pintar bisa dibilang dia ini jenius. Sewaktu sekolah pun dia merupakan siswa dengan segudang prestasi. Dia sering mengikuti lomba-lomba akademis dan selalu dimenangkannya. Tapi walaupun banyaknya piala, piagam bahkan plakat sang juara itu tidak mengembalikan senyum Yoora lagi. Pada waktu penyerahan hadiah pun ketika dia diminta untuk memberikan kata sambutan, biasanya dia hanya berkata, “Terima kasih”, sudah hanya itu saja.

Namun ada suatu ketika, ketika Yoora mendapatkan suatu penghargaan siswa berprestasi dari pemerintah. Kepala sekolah Yoora, meminta Yoora untuk memberikan kata sambutan yang sedikit lebih panjang daripada hanya sekedar mengucapkan “Terima kasih” saja. Lantas, kepala sekolah Yoora ini langsung memberikan sebuah catatan akan apa yang harus dia katakan ketika memberikan kata sambutan nanti.

Dan ketika Yoora maju ke depan podium untuk memberikan kata sambutan, dia hanya terdiam. Melihat sekeliling yang ada didepannya berulang kali. Sang kepala sekolah yang ada dibawah panggung pun langsung memberikan kode kepada Yoora untuk segera membaca catatan yang diberikannya tadi. Yoora hanya diam saja melihat kepala sekolahnya itu memberikan kode untuk melakukan sambutan lalu mulai membuka catatan yang diberikan kepala sekolahnya tadi.

“Selamat siang.”

Setelah mengucapkan itu, Yoora hanya diam saja. Tanpa ekspresi dan sekali lagi sambil melihat sekeliling kearah penonton. Sang kepala sekolah yang melihat itupun hanya bisa menggaruk-garuk dahi menunjukkan tanda frustasinya.

Seketika pandangan Yoora langsung menuju ke arah kepala sekolah. “Kepala sekolah yang saya hormati, tolong jangan minta saya untuk melakukan sesuatu yang saya tidak sukai.” Ucapnya.

“Terima kasih.”

Dia langsung melipat catatan itu, membungkukkan badannya dan langsung meninggalkan panggung. Semua penonton hanya terdiam melihat dan mendengar hal itu. Dan seketika pembawa acara yang juga ikut terbengong, langsung sadar dan mencoba kembali menghidupkan suasana.

“Y-y-y-y-y-y-yaaaa.... beri tepuk tangan buat Nona Ahn Yoora.”

Penonton seketika tersadarkan dan mulai bertepuk tangan.

Begitu kerasnya kepribadian Yoora, membuat dia sangat disegani oleh teman-temannya. Mereka lebih suka menghindar daripada berhadapan dengannya. Yoora juga lebih suka menyendiri mengelilingi kota Seoul, mencari-cari sesuatu yang baru yang kira-kira bisa mengembalikan kehidupan lamanya lagi.

Pada akhirnya, secara perlahan kehidupan Yoora berubah. Dia mulai tersenyum lagi. Bukan lelaki, bukan teman tetapi sesuatu yang sangat berbeda, yaitu dunia perfilm-an dan pertelevisi-an. Dia jatuh cinta pada film yaitu ketika dia melihat tanpa sengaja ketika sedang berkeliling kota yang berjudul, ”My Sassy Girl.” Film yang dibintangin oleh Jeon Ji Hyun dan Cha Tae Hyun dan rilis tahun 2002 itu langsung menarik perhatiannya. Dia saat itu tidak sengaja ketika berkeliling kota dan mampir disebuah cafe untuk membeli minuman. Disitulah, tanpa sengaja dia melihat film yang sedang diputarkan oleh cafe tersebut.

Sejak saat itu, dia mulai tertarik dengan dunia perfilm-an dan dunia pertelevisian. Dia mulai banyak menonton film yang tiap hari dia beli di toko kaset dan juga duduk didepan TV dirumahnya hanya untuk menyaksikan berbagai acara televisi, mulai dari acara selebritis, dunia idol, infotainment, sampai akhirnya, dia menemukan genre favoritenya, yaitu variety show.

Seketika, Yoora sangat tertarik pada dunia perfilm-an dan pertelevisi-an. Dia mulai menonton film dari seluruh genre. Action, horror, thriller, romance sampai film animasi pun dia tonton. Dia juga menonton semua acara yang ada di TV terutama drama dan variety show, mulai dari Running Man, Infinity Challenge, 2 Days 1 Night dan lain sebagainya. Dan pada akhirnya, dia semakin bertekat untuk membuat sebuah film, drama ataupun variety show karyanya sendiri.
Ketika dia selesai SMA, dia langsung memutuskan untuk masuk ke Seoul Art Institute, dimana banyak artis-artis dan pelakon seni Korea Selatan banyak dihasilkan. Dia mengikuti tes di Institusi itu dan tesnya adalah membuat sebuah project film sederhana. Yoora sendiri membuat sebuah film Dokumenter tentang sekitaran kota Seoul dan karena karyanya itu ditambah pengetahuannya yang luar biasa akan kota Seoul, dia langsung diterima ke perguruan tinggi itu. Dan setelah mendengar kabar gembira itu, senyum Yoora perlahan kembali. Dia seakan menemukan kehidupan aslinya lagi.

Setelah mendapatkan surat mengenai kelulusannya, dia langsung bergegas pulang kerumah. Disepanjang perjalanan Yoora hanya bisa tersenyum bahagia dan tak sabar untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada Ayahnya.

Setengah jam diperjalanan, tibalah dia di rumahnya sekitar jam setengah 6 sore. Dia langsung menyiapkan segala sesuatu. Meja kursi dia rapikan. Seisi rumah dia rapikan demi menyambut Ayahnya pulang dari kantor dengan diiringi senyuman yang seakan tak mau hilang dari wajahnya.

Setelah 1 jam dia merapikan rumah, dia langsung duduk disofa dan menunggu kepulangan Ayahnya dengan tidak sabarnya. Sambil menunggu, dia juga membuatkan es lemon tea dalam gelas besar untuknya dan Ayahnya yang walaupun pada akhirnya, dia jugalah yang menghabiskan kedua cangkir es itu.

Tak lama....

PIP PIP PIP PIP !! Tulilit tulilit...~

Terdengar suara pintu terbuka. Yoora yang mendengar itu langsung bangkit dan menuju pintu untuk menyambut ayahnya. Melihat hal itu, sang Ayah terkejut dengan perubahan dari anak satu-satunya ini. Sudah lama sekali sejak dia melihat Yoora tersenyum dan kelihatan senang sekali. Melihat hal itu, diapun langsung senang dan ikut tersenyum.

“Ayah, cepat cepat masuk.”

Tarik Yoora sambil menggandeng tangan Ayahnya.

“Iya iya sabar. Kan ayah lagi buka sepatu.”

Setelah melepas sepatunya, Yoora langsung menarik Ayahnya untuk duduk di sofa yang dia rapikan tadi.           

“Ada apa nih. Tiba-tiba sekali seperti ini.”

“Hehehe... Ayah tunggu sebentar ya.”

Yoora langsung berlari menuju kamarnya untuk mengambil surat kelulusannya.
Dalam seketika, dia langsung kembali ke ayahnya dan langsung menyerahkan surat kelulusan itu.

“Ini nih Yah. Hehehe.”

Ayahnya lalu membuka surat itu. Yoora pun hanya bisa senyum saja ketika Ayahnya membuka surat itu, “Ini apa?” katanya.

Pertama, Ayahnya masih tampak mengeluarkan ekspresi senang diwajahnya. Namun, semakin dia melihat penjelasan didalam surat itu, perlahan senyumnya menghilang. Sang Ayah terlihat tidak terlalu senang dengan isi surat itu.

“Bagaimana ayah? Keren kan? Hehehe~ aku lulus dengan kemampuanku sendiri loh. Dan juga coba Ayah lihat proyek untuk tes ku. Untung dulu aku sering jalan-jalan keliling kota. Hahahaha.”

Sang Ayah hanya melihat ke arah Yoora yang sedang bangga akan dirinya namun tidak memberikan ekspresi apapun.

“Tidak, Ayah tidak setuju.”

Sontak, Yoora yang sedang tersenyum pun langsung terdiam mendengar perkataan ayahnya itu.

“Apa? Apa maksud Ayah?”

“Iya, Ayah tidak setuju kalau kamu kuliah disini. Mau jadi apa kamu? Tidak, Ayah tidak setuju.”

“Tapi Ayah, untuk kuliah disitu, itu adalah mimpiku. Itu adalah keinginanku sendiri.....”

“Tidak ! Bagaimanapun dengan cara apapun, Ayah tidak mengizinkanmu. Ayah akan memasukkanmu ke Universitas ternama dan kau akan kuliah Komunikasi sehingga kau bisa bekerja bersamaku.” Potongnya. Dia lalu bangkit dari sofa itu dan langsung menuju ruang makan untuk mengambil minum.
 
Mendengar pernyataan Ayahnya, Yoora hanya bisa terdiam. Dia terlihat shock dan tidak bisa berkata apa-apa. Seakan dia kembali ke diri Yoora sebelumnya ketika ditinggal Ibunya meninggal.

Setelah beberapa lama terdiam, Yoora langsung bangkit dari tempat duduknya dan langsung berjalan kearah kamarnya. Dan tepat didepan kamarnya yang dimana pintunya sudah dibukanya sebagian, dia berhenti.

“Dengan atau tanpa restu Ayah, aku akan tetap kuliah disana. Ayah cukup tanda tangani surat itu dan sisanya akan kuurus sendirian. Ayah tidak tahu betapa berharganya hal itu bagi diriku. Ayah benar-benar orang yang menyebalkan.”

Dia lantas langsung membuka pintu kamarnya dan langsung membanting pintu. Sang Ayah yang mendengar suara bantingan pintu itu langsung terkejut dan langsung menghampiri kamar anaknya itu dan mulai mengetuknya.

“PERGILAH !!!”

Teriak Yoora dari dalam kamarnya. Ayahpun tetap mengetuk pintu dan memanggil Yoora.

“Yoora, dengarkan Ayah. Ini untuk kebaikanmu juga. Bukan kebaikan Ayah. Ayolah ikuti apa perkataan Ayah sekali saja.”.

“KUBILANG PERGILAH !!! AKU BENCI AYAH...!!”

Mendengar hal itu, sang Ayah hanya bisa terdiam. Dia langsung menuju ke ruang tamu, mengambil surat kelulusan Yoora dan langsung menandatangani surat itu.

“Eunbi, aku tak tau lagi. Semoga saja yang aku lakukan ini benar.” Batinnya sambil menghela nafas panjangnya.

“Kalau kau ada disini, kau pasti tau apa yang harus kau lakukan.” Sambungnya diikuti helaan nafas yang lebih panjang.

Setelah itu menandatangani surat itu, sang Ayah langsung menuju kamar Yoora. Ketika didepan pintunya, dia hanya mendengar suara isakan tangis Yoora. Dia juga hendak mengetuk pintu kamarnya, namun diurungkan niatnya. Sambil menghela nafas panjang, dia berjalan menuju kamarnya.

Sabtu, 26 Desember 2015

One More Week Episode 4: THE ONE WHO NEVER UNDERSTAND

Episode 4: THE ONE WHO NEVER UNDERSTAND

Seoul, Korea Selatan, 16 Maret 2013.

PIP.. PIP.. PIP.. PIP.. !! Tulilit.. tulilit...~

Seketika pintu apartemen itu terbuka. Tampak seorang wanita muda dari balik pintu tersebut. Wanita itu terlihat sangat lelah, tampak dari raut wajahnya dan dari lingkar hitam dimatanya yang mulai terlihat jelas.

Dia langsung membuka sepatu dan long coatnya, kemudian langsung menggantungkannya dilemari jaket tepat disamping pintu. Ia lantas berjalan masuk kedalam apartemen itu dengan langkah yang sedikit lunglai.

Ketika melintasi ruang tamu, terlihat seorang lelaki paruh baya sedang duduk di sofa diruang tamu mengikuti langkahnya dengan tatapan tajam. Wanita itu hanya melihat lelaki itu sekilas lalu berjalan menuju ruang makan. Dia langsung mengambil gelas dan langsung menuangkan air ke dalamnya.

Dalam sekejap dia langsung menghabiskan air dalam gelas itu dan langsung menuangkan air ke gelasnya lagi tapi hanya setengahnya saja. Dia lantas langsung membawa gelas yang berisi setengah itu menuju sebuah ruangan yang terlihat seperti kamarnya.

Ketika hendak menuju kamarnya, dia melewati lagi ruang tamu dimana masih terlihat seorang lelaki paruh baya tadi yang masih tetap pada posisinya di atas sofa. Tapi bedanya, kali ini wanita itu tidak sama sekali melihat bahkan melirik kearah lelaki tersebut.

Ketika dia hendak membuka pintunya. Terdengarlah suara lelaki yang sedang duduk itu.

“YA.. YA.. YA....”
(Kata “YA” disini bukan maksudnya “IYA” tapi merupakan panggilan dalam bahasa Korea (Informal) dari orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda atau bisa juga disampaikan antar teman.)

Seketika dia menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan datar, lalu mengembalikan pandangannya ke arah pintu dan hendak membukanya.

“YA... Kenapa kau pulang?”

Seketika, wanita itu menghentikan membuka pintu yang sudah terbuka sebagian.

“YA... KENAPA  KAU PULANG HAH !!!?”

Wanita itu langsung menoleh ke arah lelaki itu, lagi-lagi tanpa ekspresi sambil menyeruput air minumnya.

“Kenapa? Ini rumahku.”

Lelaki itu mulai bangkit dari tempat duduknya dengan wajah merah padam.

“Rumahmu? 3 hari kau tidak dipulang, tanpa kabar sedikitpun. Dan baru sekarang sekarang kau pulang? Darimana kau memangnya? Selain itu, apa kau tau ini jam berapa? JAM 3 PAGI KAU TAU !!!”

Wanita itu hanya diam, sambil tetap memandang ke arah laki-laki itu, masih dengan raut wajahnya yang datar.

“Aku baru pulang. Aku kerja. Dan saat ini aku sangat lelah.” Jawabnya dengan lesu. “Apa kau lupa aku ini seorang Program Director (PD).”

Wajah lelaki itu mulai terlihat sangat memerah.

“Mau kau itu seorang PD, Bos, atau Presiden sekalipun, aku tidak peduli. Setidaknya, kau harus memberikan kabar kepadaku. Beritahu aku kau ada dimana, sedang apa dan dengan siapa. Bukannya malah menghilang begitu saja dan pulang seenaknya.” Balasnya dengan nada yang mulai meninggi. Dia itu pun mulai menghampiri wanita yang sedang didepan pintu itu.

“Lagipula, sudah kubilang kan, untuk tidak menjadi seorang PD. Tidak usahlah bekerja yang seperti ini. Aku sudah menawarimu bekerja ditempatku tapi kau tolak mentah-mentah. Pekerjaan ini tidak ada masa depannya asal kau tau.”

Wanita itu hanya terdiam. Dia mulai menujukkan ekspresi marah. Tangannya yang sedang memegang cangkir itu mulai bertambah erat. Dia mengambil nafas panjang dan mencoba menenangkan diri.

“Sudahlah, aku capek. Aku ingin istirahat.”

“Apa? Capek? Aku jauh lebih capek. Menungguimu pulang tiap malam. Menunggu kabarmu tiap malam. Hanya sekedar ingin tau apa kau baik-baik saja.”

PRANG ....!!!

Seketika wanita itu melemparkan gelas yang ada ditangannya tepat dibawah kaki lelaki itu.

“Sudah kubilang kan, tidak perlu untuk mengurusi hidupku. Lagian Ayah juga tidak tau apa-apa tentang pekerjaanku. Urusi saja urusan Ayah sendiri.”

PLAKK !!

Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipi kirinya.

“Apa katamu? Yoora, aku ini Ayahmu, jadi aku berhak untuk mengurusi segala urusanmu. Aku ini masih bertanggung jawab atas hidupmu. 23 tahun aku menghidupimu dan ini balasanmu? Aku sudah mengerahkan semuanya. Uang, keringat, tenaga bahkan seluruh waktuku kuserahkan padamu.”

Yoora sontak langsung memegang pipi kirinya yang mulai berwarna merah. Matanya mulai terlihat berkaca-kaca. Ayah Yoora lantas berjalan menuju ke arah kursi tempat dia duduk sebelumnya dan berdiri membelakangi Yoora.

“Kau itu tidak pernah tau betapa susahnya hidupku ini setelah Ibumu pergi. Bukan hanya kau yang menderita tanpa Ibumu. Mengerti kau?”

Yoora hanya bisa terdiam mendengar perkataan Ayahnya. Sambil menahan tangis dan juga menahan sakit dipipinya, dia hanya bisa terdiam.

Tiba-tiba, sepi mengelilingi ruangan keluarga ini.

“AAAAAAKKKKK....!!!”

Yoora berteriak sejadi-jadinya. Dia langsung membanting pintu kamarnya dan langsung berjalan menuju pintu keluar. Dia langsung memakai lagi jaket dan sepatunya dan langsung membuka pintu keluar. Dan ketika pintu terbuka, Yoora terdiam dan terpaku didepan pintu.
Ayahnya yang daritadi membelakangi Yoora, hanya tertunduk lesu. Pria yang sudah berusia 55 tahun itu terlihat seperti sedang menahan sesuatu dihatinya sambil tetap menundukkan kepalanya diiringi suara nafas yang berat.

Tiba-tiba...

“AYAH..!! AKU BENCI PADAMU..!!!”

PAAAAKKK....!!!

Yoora membanting pintu itu. Suara keras dari pintu tersebut seketika langsung mengisi seluruh isi apartemen itu. Bahkan ada beberapa tetangga yang tinggal disebelah rumah mereka langsung keluar penasaran karena kerasnya suara pintu tersebut.

Sang Ayah sedikit terkejut mendengar suara dari bantingan pintu dan seketika dia terisak menangis. Sang Ayah langsung berlutut ke arah kursi yang ada didepannya dan langsung menangis sejadi-jadinya.

Arrgghh... Maafkan Ayah Yoora. Ayah menyayangimu. Sangat menyayangimu.” Isaknya.

“Eunbi, kenapa kau pergi? Kenapa kau meninggalkan kami? Kenapa kau meninggalkan Yoora sendirian? Apakah kau tau betapa tersiksanya Yoora tanpa kehadiranmu? Aaaarrrggghhh.” Teriaknya penuh isak memenuhi seisi apartemen itu.

Yoora yang ternyata masih dibalik pintu, langsung menangis sejadi-jadinya mendengar ratapan Ayahnya. Dengan diiringi tangisan dipipinya sambil tangannya yang masih di pipi kirinya, dia langsung pergi meninggalkan apartemen itu dan Ayahnya.


Senin, 21 Desember 2015

One More Week Episode 3: FILL-IN WHAT MISSING

Episode 3: FILL-IN WHAT MISSING

Andri adalah seorang pemuda berusia 27 tahun dengan tinggi 183 cm dan dengan perawakan yang bisa dibilang ganteng. Dia bekerja disebuah bank swasta di kota Jakarta. Sebenarnya baru satu setengah tahun Andri bekerja disana dan sebenarnya tujuannya untuk bekerja di suatu bank itu adalah karena dia hanya tidak ingin melanjutkan pekerjaannya sebelumnya sebagai Manajer sebuah Restoran ternama di kota Jakarta yang kebetulan adalah milik Papanya.

Iya, Papa Andri adalah salah seorang pengusaha restoran terkenal di kota Jakarta. Dan Andri sendiri bekerja direstoran tersebut seusai menyelesaikan kuliahnya di Universitas Indonesia ketika berumur 21 tahun. Dia langsung dipromosikan Papanya untuk menjadi Manajer restoran miliknya demi mengasah dan menambah pengalaman anaknya, walau sebelumnya Andri sempat kerja sampingan di restoran ini ketika duduk di bangku kuliah.

Andri termasuk anak yang pintar. Pada waktu SMP dia menjadi wakil sekolahnya untuk mengikuti lomba debat bahasa inggris dan berhasil mendapatkan juara ke dua. Tentu dia ingin sekali mendapatkan juara pertama, tapi apa daya, lawannya saat itu memiliki materi yang jauh lebih kuat darinya walaupun bahasa Inggrisnya masih jauh kalah dibandingkan Andri.

Dan dari sifat sendiri, Andri merupakan orang yang sangat ceria, sederhana dan tipe orang yang banyak tersenyum. Banyak orang yang senang berteman dengan Andri. Andri pun bukan termasuk orang yang suka pilih-pilih teman karena dia mengikuti nasihat Papanya yang mengatakan kalau suatu saat temanlah yang bakal membantu kita di masa depan kelak.

Untuk dari penampilan, Andri lebih memilih penampilan yang santai tanpa harus banyak aksesoris. Karena menurutnya, berpakaian itu haruslah yang membuat dirinya sendiri nyaman tanpa harus memperhatikan apa yang dibicarakan orang lain. Kebanyakan pakaiannya adalah kaos oblong dan juga kemeja polos warna putih dan biru muda yang biasa digunakannya untuk pergi bekerja. Walaupun dia sendiri bilang yang penting adalah kenyamanan kalau menyangkut penampilan, dengan perawakannya, dia sebenarnya cocok menggunakan pakaian apapun.

Keluarga Andri sendiri merupakan keluarga yang dikenal masyarakat sekitar sebagai keluarga yang ramah dan penuh kebahagiaan. Keluarga yang tediri dari Sang Papa yang seorang pengusaha yang bisa dianggap sukses dengan cabang restorannya tersebar di sekitar daerah Jabodetabek, Jawa Barat, beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta beberapa kota besar di pulau Sumatera dan Sulawesi. Dan juga sudah mulai merambah daerah Asia dan Eropa. Sang Mama merupakan ibu rumah tangga biasa yang memiliki hobi menjahit semasa masih muda. Mama Andri juga memiliki garis keturunan seorang bangsawan Kesultanan Yogyakarta. Tetapi, dia lebih memilih untuk tidak terlalu membuka soal itu dan lebih memilih untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik. Serta ada Andri dan sang Adik, Ratna.

Keluarga Andri ini adalah gambaran dari keluarga yang sangat harmonis. Mereka selalu makan malam bersama. Masing-masing anggota keluarga sangat dianjurkan untuk pulang tepat waktu. Mereka juga kadang melakukan gotong royong membersihkan rumah bersama-sama. Walaupun mereka memiliki asisten rumah tangga, tetapi karena asisten rumah tangga mereka tidak menginap dirumah, maka kalau hari gotong royong, biasanya mereka memberikan libur kepada sang Asisten Rumah Tangga, mbak Ani.

Tetapi, ada pepatah mengatakan, “Ketika kita mendapatkan sesuatu, maka bersiaplah untuk kehilangan sesuatu.” Dan dimana ada kebahagiaan, disitu pula terdapat kesedihan. Bagaikan dua kutub magnet yang pasti ada, utara dan selatan. Dan seperti tersambar petir disiang bolong yang disertai hujan badai yang maha dahsyat, kebahagiaan itu seolah lenyap dari keluarga Andri ketika Papanya dikabarkan sudah tiada.

Dua setengah tahun yang lalu, tepatnya 17 September 2012, pada saat itu sang Papa sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah. Karena Papa saat itu ada meeting dengan partner kerjanya membahas tentang kerjasama untuk pembukaan cabang di Eropa, dia jadi pulang terlambat. Papa yang membawa sendiri mobilpun mengalami kecelakan di Jalan M.H. Thamrin. Sebuah bus kopaja menabrak sang Papa dari jalur berlawanan ketika dia sedang mencoba memotong mobil yang ada didepannya. Karena ada aturan dirumah yang mengharuskan untuk pulang tepat waktu, dia pun menjadi terburu-buru, lalu terjadilah kejadian tersebut. Mobil hancur parah dan dia meninggal dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.

Kebahagiaan dan tawa yang selalu hadir dalam keluarga tersebut, perlahan hilang seiring bertambahnya hari meninggalnya sang Papa. Keluarga Andri menjadi pemurung dan cenderung tertutup. Andri menjadi takut untuk membawa mobil karena trauma dengan kejadian Papanya dan dia lebih memilih untuk membawa motor kalau pergi kemana-mana. Dia juga memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai manajer restoran Papanya dan sementara ini restoran itu dipegang oleh adik sang Papa, Om Subagyo.

Kurang lebih enam bulan keluarga Andri menutup diri. Mereka hampir tidak keluar rumah kemanapun karena masih berkabung atas meninggalnya Papa. Apabila mereka ingin membeli sesuatu diluar, mereka biasanya menyuruh Asisten Rumah tangga mereka, mbak Ani, untuk melakukannya.

Dan tepat bulan keenam kepergian Papa, pukul 14.15.

Saat itu Mama sedang menjahit pesanan baju temannya. Andri sedang menonton TV sambil ngemil sebuah cemilan dari dalam toples. Ratna belum pulang dari sekolah. Melihat anaknya yang sedang menonton TV, Mama tau apa yang dirasakan Andri. Mama lalu menghentikan kegiatan menjahitnya lalu melihat ke arah Andri yang masih menonton TV sambil menghela nafas panjang.

“Kak, keluar gih sana kemana gitu. Cari udara seger, ketemu temen-temen kamu gitu.”

Mendengar hal itu, Andri diam saja sambil melanjutkan menonton TV-nya sambil melanjutkan ngemil makanan yang ada ditangan kirinya.

“Kakak.”

“Apa Mama?”

Andri tetap tidak mengalihkan pandangannya dari TV dan terus melanjutkan makannya.

“Keluar sana. Cari udara seger, ketemu temen-temen kamu gitu. Jalan-jalan kek kemana.” Kata Mama yang kali ini melanjutkan kegiatan menjahitnya.
Seketika Andri menghentikan makannya dan langsung mencari remote TV untuk mengganti channel.

“Mau kemana emang, Ma? Enakan juga dirumah. Males mau keluar-keluar. Ga ada yang menarik.”

“Ya terserah kamu mau kemana. Yang penting keluar. Daripada kamu dirumah kan. Lama-lama bisa dipenuhi sarang laba-laba tuh badan kamu.” Mama sedikit tertawa disela-sela menjahitnya.

“Apaan coba.”

Ketika Andri mencari-cari channel, pilihannya terhenti pada liputan artis yang sedang melakukan jalan-jalan keluar negeri. Andri membesarkan volume TV sambil diliputi rasa penasaran. Di TV terlihat sebuah pemandangan sebuah kota yang sangat modern, bersih, banyak ruang hijau dan kebetulan saat itu sedang musim dingin.

Ya, artis yang dilihatnya di TV itu sedang melakukan peliputan sambil jalan-jalan ke Negara Gingseng, Korea Selatan. Melihat peliputan dan keadaan kota Seoul yang jauh lebih tenang dibanding Jakarta menarik perhatian Andri. Pikirannya pun melayang bila dia berada disana. Senyum pun keluar dari bibirnya setelah sekian lama sempat menghilang dari wajahnya.

“MA!!”

Mama pun kaget mendengar suara Andri.

“Astaghfirullahaladzim...” Hampir saja jahitan yang dia buat menjadi salah arah.

“Kamu apaan sih, kak? Tiba-tiba teriak gitu. Hampir aja rusak nih baju orang.”

Mama memeriksa kembali jahitannya apakah ada yang rusak atau tidak.

“Ma, kalau Andri keluarnya itu keluar negeri boleh gak, Ma? Boleh ya boleh ya.” Pinta Andri dengan mata yang berbinar binar sambil menatap Mamanya dari balik sofa tempat dia duduk.

Melihat hal itu, Mamapun tersenyum. Senyuman yang hilang cukup lama dari keluarga itupun kembali. Senyuman Andri yang mirip sekali sama sang Papa hampir saja membuat Mama meneteskan air mata. Dia mencoba menarik nafas dalam dan membalas pandangan mata anaknya dengan senyuman.

“Memangnya kamu mau kemana? Sama siapa?” tanya sang mama sambil menatap mata sang anak dalam.

“Mau kesono, Ma” jawab Andri sambil menunjuk ke arah TV. “Maunya pergi sendirian aja sih. Boleh ya, Ma?” pinta Andri.

Mama lantas membenarkan letak kacamatanya dan mencoba melihat ke arah TV yang ditunjukkan oleh Andri. “Itu dimana, Kak? Ga keliatan Mama.” Mama sambil memicingkan matanya.

“Itu Seoul, Ma. Korea Korea. Keren kan kotanya. Kayaknya seru deh kalo liburan kesana. Mana lagi musim dingin, Ma. Siapa tau bisa bawa pulang salju hehehe.”
Mama yang kembali melanjutkan kegiatan menjahitnya.

“Bener kamu mau kesana?”

“Beneran, Ma. Kan Mama tadi bilang kalo boleh keluar cari udara seger. Seminggu aja ma, gak usah lama-lama nih beneran.” Andri mencoba meyakinkan sang mama.

Lalu suasana menjadi tenang. Hanya terdengar suara wanita yang sedang berbicara di TV dan suara mesin jahit sang Mama.

“Yaudah deh boleh.” Kata Mama dengan tenang sambil melanjutkan kegiatannya.

“YEAY !!!”

Andri bersorak kegirangan mendengar jawaban Mamanya sambil melompat-lompat diatas sofa tempat dia duduk.

Melihat hal itu, Mama menghentikan kegiatan menjahitnya untuk melihat reaksi Andri yang sangat lucu. Terlihat senyum mama yang makin lebar. Melihat Andri yang begitu senang, pecahlah tawa sang Mama. Lalu, Mama pun membatin,

”Pa, makasih karena Papa ternyata gak ninggalin kami disini.”

Melihat Andri yang kegirangan, lalu melompat-lompat menjadi-jadi, Mama pun langsung memasang muka cemberut.

“Kak?”

Tak terdengar jawaban.

“KAK !!!”

Andri yang sedang melompat-lompat pun terkejut mendengar teriakan Mamanya. Hampir saja dia terjatuh dari sofa yang dia lompati kalau tidak memegang ujung dari sofa tersebut.

“Apaan sih, Ma?”
“Kamu lompat-lompat kayak anak Kangguru aja. Awas jebol noh tu sofa. Cuma satu-satunya itu sofa didunia ini. Mana adik kamu si Ratna kan suka tiduran disitu.” Mama lalu melanjutkan kegiatan menjahitnya.

“Lagian kamu juga udah besar masih aja lompat-lompat kayak anak kecil. Gak habis pikir Mama.”

Mendengar hal itu, Andri seketika menjadi malu dan langsung turun dari sofa yang dilompati. Dia segera mengambil langkah seribu menuju kamarnya.

“YIIHHIIW... !!!”
Didalam kamar terdengan suara Andri yang berteriak kegirangan. Mendengar itu, Mama hanya bisa melanjutkan kegiatannya sambil tersenyum lebar.

Seminggu sebelum keberangkatan, Andri melakukan riset mengenai Korea Selatan dan segala tempat wisata yang ada disana. Mulai dari Itaewon yang merupakan surganya dari para pelancong yang ada diseluruh dunia,  ada juga Jongro Gwangjang Market yang merupakan tempat dari seluruh makanan tradisional Korea Selatan, lalu berlanjut ke N Seoul Tower yang merupakan tempat nomor satu yang pasti dikunjungi oleh para wisatawan dan dapat juga melihat seluruh kota Seoul dalam sekali lihat, hingga Gwanghwamoon Hangul Gaon Road yang merupakan jalan dimana pusat wisata kebudayaan Korea Selatan ada disana.

Andri langsung memesan sebuah kamar hotel di tengah kota Seoul. Sebuah hotel sederhana khusus para backpacker tetapi nyaman sekali. Andri memilih hotel itu karena melihat suasana hotel yang terasa nyaman serta terlihat sekilas seperti kamarnya. Dia juga melihat menu makanan yang disajikan di hotel tersebut, sesuai dengan perut Indonesianya. Disamping itu, harga hotel khusus para backpacker yaitu hotel Inside Backpacker juga menawarkan harga 16.000 won per malam atau sekitar 186.120 rupiah (Kurs 1KRW = 11,62IDR) pun dirasanya sangatlah murah untuk layanan yang ditawarkan.
Andri begitu mengagumi dengan apa yang dilihatnya di internet dan membuatnya semakin bersemangat ingin segera berangkat ke Seoul. Dia juga membayangkan berada ditempat yang dia cari dan perasaan itu selalu terbayang dalam lamunannya sebelum tidur dan berharap kalau hari keberangkatannya bisa dipercepat.
H-1, Andri mulai berkemas barang-barang hingga pakaian apa yang akan dipakainya. Dia juga menambahkan jaket tebal musim dingin serta banyak syal buatan Mamanya karena dia mendapat info kalau di Seoul sendiri sedang musim dingin. Tak lupa dia juga membawa obat-obatan yang diperlukan dan beberapa minyak angin takut-takut kalau dia masuk angin karena cuaca yang dingin. Andri pun banyak menerima wejangan dari sang Mama tentang apa yang akan dan harus dilakukan maupun dihindari ketika dia berada di Seoul.

Hari H pun tiba, tepat tanggal 19 Maret 2013, Andri langsung menelpon jasa Taksi. Dia pergi ke bandara ditemani Mama dan Ratna, yang rencananya juga akan mengambil pesawat menuju Jogjakarta selama Andri pergi.

Pesawat Andri berangkat pukul 12.00 WIB sedangkan pesawat menuju Jogja berangkat pukul 14.00 WIB. Sesampainya  dibandara, tepat pukul 11.40 WIB, Andri mendapatkan lagi wejangan dari sang Mama sebelum keberangkatannya. Dia juga sempat bermain dan bercanda bersama Ratna.

Pukul  11.45 WIB panggilan pesawat menuju Seoul terdengar. Andri segera pamit ke Mama dengan mencium tangan dan juga kening Mama. Dia juga mendapatkan ciuman kening dari Mama. Tak lupa juga dia mencium kening Ratna.

Dan setelah mendapat restu, dia segera melangkah dengan pasti menuju pesawat. Diiringi senyum bahagia, serta perasaan yang senang sambil membayangkan apa yang akan dia lakukan serta tempat–tempat wisata yang akan dikunjunginya nanti seperti riset yang dia lakukan.

Pukul 12.00 WIB pas, pesawat Andri mulai melesat menuju menuju Angkasa. Dengan cepat pun pesawat segera meninggalkan landasan dan segera terbang membelah langit indonesia.