Andri
bangun jam 6 pagi. Terlihat Pan dan Nicholas masih tertidur. Dia turun perlahan
dari kasur agar tidak membangunkan Nicholas yang tidur dibawahnya. Segera dia
menuju ke kamar mandi. Di hotel ini, kamar mandinya hanya ada 2. Satu untuk
pria dan satunya lagi khusus wanita. Pada saat Andri menuju kamar mandi,
suasana masih sangat sepi. Kebanyakan para tamu lain tampaknya masih tertidur.
Dan segeralah Andri menuju kamar mandi dan langsung mandi.
Setelah
mandi, Andri langsung bersiap-siap mengganti pakaiannya. Dia menggunakan
sweater warna krem dengan luaran menggunakan jaket panjang. Tak lupa dia
memakai syal yang langsung melingkar dilehernya.
Dan
setelah siap, dia langsung menuju ke lobby hotel, memesan sarapan dan secangkir
teh dan langsung menyantap sarapannya sambil mengobrol dengan Hee Joon yang
sudah bangun terlebih dulu.
Setelah
15 menit menghabiskan sarapannya, dia langsung membuka handphonenya. Yang dia
telepon adalah Kyung Hwan, seorang teman yang ditemuinya di pesawat ketika
diperjalanan dari Singapura menuju Korea Selatan
TUUUUT...
TUUUUT... TUUUUT... TUU..
“Yeoboseyo..”
Terdengar jawaban dari seberang telepon.
“Kyung
Hwan ssi, an-nyeong-ha-se-yo. Hehe.”
“Annyeonghaseyo.
Nuguseyo?” Tanya seseorang dari seberang telepon tersebut.
“Engg.... Sorry, I can’t speak Korean, hehe
(Engg.... Maaf, saya tidak bisa bahasa Korea, Hehe).” Jawab Andri.
“Andri, isn’t it? (Ini Andri kan?)” Ucap Kyung Hwan datar.
“Hehehe, maaf. Lagi apa?” Tanya
Andri.
“Lagi dirumah sih. Kenapa? Semalem
dianterin sampai mana?” Balas Kyung Hwan.
“Dianterin sampai ke penginapan
malah.” Jelas Andri.
“Bagus deh.” Kata Kyung Hwan lega.
“Jadi, jadwal hari ini apa?” Tanya
Kyung Hwan.
“Maunya sih wisata. Cuma gaada
temen. Temenin ya.” Pinta Andri.
“Emm, boleh deh boleh. Kebetulan
hari ini jadwalku kosong kok. Sekalian mau ngebales semalem yang gak bisa
ngebantuin kamu.” Balas Kyung Hwan.
“Okedeh, nanti jam 9 aku telepon
lagi yah. Nanti kita ketemuan di kafe didepan penginapanku aja. Hehe.” Kata
Andri.
“Iya iya. Baiklah, aku mau
bersiap-siap dulu.”
“Iya okelah.”
Jam
masih menunjukkan pukul 7.30 pagi. Segera setelah menutup telepon, Andri
langsung menuju kamarnya dan bersiap-siap menyiapkan ranselnya. Di kamar, Nicholas
dan Pan juga tampak sedang bersiap-siap.
“Hai, Andri.” Sapa Nicholas ketika
melihat Andri masuk kedalam kamar.
“Apa rencanamu hari ini?”
“Hari ini aku mau memulai
jalan-jalanku.” Jawab Andri dengan semangat.
“Sendirian?” Tanya Pan kali ini.
“Enggaklah. Kalau sendirian,
bisa-bisa nyasar aku mah ke Korea Utara hahahahaha.” Jawab Andri disertai tawa
ketiganya.
“Ada temen aku mah. Kenalan di
pesawat waktu mau kesini kemarin.”
Nicholas
langsung mendekati Andri yang sudang berada di depan berangkas
“Cewek?” Tanya Nicholas sambil
memberikan lirikan ke arah Pan.
“Cewek matamu. Cowoklah. Pikiranmu
mah cewek mulu.” Jawab Andri sambil mendorong Nicholas ke samping dengan satu
tangannya.
Setelah
didorong Andri, Nicholas langsung tertawa yang kemudian diikuti oleh tawa Andri
dan Pan.
Sembari
bersiap-siap dan bercandan dengan Nicholas dan Pan, jam sudah menunjukkan jam
8.50. Andri langsung berangkat menuju ke kafe didepan penginapannya sesuai
dengan yang direncanakannya dengan Kyung Hwan tadi.
Sesampainya
di kafe, Andri langsung memesan cappuccino
hangat. Dia langsung meletakkan tasnya di atas meja. Dia langsung membuka koran
yang diambilnya di lobby penginapannya bermaksud mencari berita yang sedang
update sekarang. Tapi setelah membolak-balik koran itu beberapa kali, dia
akhirnya menyerah. Koran yang dia ambil ternyata penuh dengan tulisan Hangul (huruf Korea) yang tidak dia
mengerti sama sekali. Dia langsung menaruh koran itu didepannya dan langsung
membuka handphonenya sambil sesekali menyeruput cappuchinonya.
Jam
sudah menunjukkan jam 9 lewat 10 menit. Andri langsung mencoba menghubungi
Kyung Hwan untuk menanyakan posisinya dimana.
TUUUTT....
TUUUT.... TUUUT.... TUUUT..., TUUUT.... I’m
soryy, The number you are calling is busy. Please try again for a moment. (Maaf,
nomor yang anda hubungi sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi.)
“Eh sibuk. Hadeehhh. Yaudahlah
tungguin aja. Kali emang sibuk beneran kan,”
Andri
terus menunggu di kafe itu. Cangkir kedua cappuchinonya pun sudah hampir habis.
Sementara jam sudah menunjukkan jam 9.50. Andri berkali-kali mengecek jamnya
dan mencoba menengok kearah luar, kali kali Kyung Hwan datang. Andri mencoba
menelpon Kyung Hwan lagi, namun hasilnya tetap sama, sibuk.
Setelah
berlama-lama Andri menunggu, seseorang pun masuk melalui pintu kafe itu. Itu
adalah Kyung Hwan.
“Kyung Hwan.”
Panggil
Andri kepada Kyung Hwan sambil mengangkat tangannya.
Kyung
Hwan yang mendengar panggilan Andri pun langsung menghampiri Andri, menarik
kursi dan langsung duduk didepan Andri.
“Lama ya lama. Hahahaha.”
“Hehehe maaf. Ada kerjaan mendadak
dikantor. Jadi gak bisa ditinggalin. Ini aja pas udah selesai langsung cabut
kesini. Maaf ya maaf.” Balas Kyung Hwan dengan wajah tidak enak.
“Eii gapapa kok. Santai aja. Hahaha.
Beneran gapapa. Pesen gih.” Jawab Andri menenangkan.
“Baiklah.”
Kyung
Hwan pun langung menuju meja kasir untuk memesan. Dan setelah selesai memesan,
dia langsung kembali kemeja Andri.
“Jadi, sudah lama kamu nunggu?”
Tanyanya sembari menarik kursi.
“Baru kok. Tadi sempet ada urusan
dulu sama orang di Indonesia. Jadinya keluar penginapan baru jam setengah
sebelasanlah.” Jawab Andri sambil tersenyum. Andri sebenarnya berbohong. Hanya
saja, demi mengenakkan hati Kyung Hwan, dia terpaksa berbohong.
“Syukurlah kalau begitu. Kirain kamu
sudah nunggu dari jam 9 tadi. Ga enak aku kalau kamu emang nunggu dari jam
segitu.” Kata Kyung Hwan sambil mengelus dadanya.
Tak
lama pun, pesanan Kyung Hwan datang.
“Jadi, semalem dianterin sampe
penginapan.” Tanya Kyung Hwan sambil menghirup minumannya.
“Iya. Dianterin sampai depan gerbang
malah.” Jawab Andri sambil mengirup minumannya juga.
Selesai
menghirup minumannya, Andri bertanya,
“Saya mau tanya deh.”
“Tanya saja.”
“Si Yoora itu kenapa sih? Serem
bener. Kayak hantu beneran dah. Untung aja napak dianya.”
Kyung
Hwan sedikit kaget mendengar ucapan Andri.
“Wih, baru semalem, udah tau aja
kamu namanya. Aku aja setelah 3 minggu baru tau namanya.”
Kyung
Hwan lalu menyilangkan tangannya di atas meja, tepat dibelakang minumannya.
“Dia itu.... gatau ya. Dia itu emang
seperti itu orangnya. Dari awal masuk kantor juga kayak gitu. Terus aku
denger-denger sih, dia itu dari sekolah udah kayak gitu. Misterius banget
orangnya. Aku aja yang udah 3 tahun kerja bareng dia aja gak tau dia itu orangnya
bagaimana.”
“Iya ya? Wah serem bener. Ngomong
aja aku gak berani. Harus milih-milih dulu apa yang pengen disampein.”
Andri
lalu langsung melipat tangannya di dada sambil menyandarkan badannya ke kursi.
“Kamu yang baru semalem ketemu aja
gitu. Apalagi aku. Ngeliat matanya aja aku ga berani.” Jawab Kyung Hwan sambil
mengikuti gaya Andri dengan menyilangkan tangannya ke dadanya dan bersandar.
“Tapi ya, dia itu anaknya jenius
banget. Pinternya gak ketulungan. Lulusan terbaik di sekolahnya mulai dari SD
sampai SMA. Terus juga peringkat 1 se-Korea Selatan pas sekolah. Pas kuliah,
dia jadi mahasiswa dengan nilai terbaik. Bahasa Inggrisnya aja udah kayak orang
Inggris beneran. Beh dah. Dan lagi nih, program kami nih, ratingnya aja selalu
2 digit. Ide-ide dari dia itu fresh-fresh
semua dan semuanya berjalan dengan baik. Orang aja banyak yang minta saran sama
dia walaupun akhirnya pada pucet semua. Hahahaha.”
“Woah, hebat dong.”
“Kelewat hebat malahan. Gak yakin di
Korea ini ada yang bisa ngalahin dia. Banyak stasiun TV malah mau ngerekrut
dia. Tapi sayangnya, dia itu gak pernah senyum loh sekalipun. Selucu apapun
acara kami, tetap aja ekspresinya datar gitu. Yoo Jae Suk aja nih, kamu tau kan
Yoo Jae Suk, orang yang terkenal banget di Korea ini dan dijulukin National MC
aja gak bisa nge-handle dia. Untung
aja Yoo Jae Suk itu orangnya easy going,
jadinya ya gak papa dianya. Kalau lihat dari fisik, dia itu cantik sih, tapi
kalau gak pernah senyum, ya jadinya serem juga.” Kata Kyung Hwan.
“Tapi, yang aku denger sih, dia itu
cita-citanya mau buat Film gitu. Dan katanya udah ada rumah produksi gitu yang udah
ngontak dia. Doain aja semoga tercapai hahaha.”
Andri
lalu mengambil cangkir kopi yang ada didepannya.
“Amin dah. Masa gak pernah senyum
sekalipun? Padahal senyumnya itu manis banget loh.” Dia lalu menyeruput
kopinya.
Kyung
Hwan langsung mengeluarkan ekspresi curiga ke arah Andri yang sudang menyeruput
kopinya.
“Darimana kamu tau dia senyumnya
manis. Kalau kamu bilang dia cantik, percaya aku. Kalau kamu bilang soal dia
yang senyum, aku agak ragu.”
Dia
lalu langsung menyeruput ice americano-nya
“Beneran. Semalem waktu jalan dari
rumah makan ke penginapanku, dianya senyum. Manis banget beneran. Udah cantik,
senyumnya manis lagi. Ditambah lesung pipinya, jadinya kelewat manis.”
“HAAAH !!!.”
Kyung
Hwan kaget mendengar pernyataan Andri. minuman yang sedang diminumnya pun
langsung dimuncratkannya dan hampir mengenai Andri yang sempat mengelak. Orang
yang berada di kafe itupun langsung menoleh kearah Kyung Hwan ketika mendengar
suara Kyung Hwan. Kyung Hwan pun langsung mengelap bibirnya.
“YOORA PUNYA LESUNG PIPI ?!!!”
“Kamu gak tau?” Tanya Andri.
“Gak tau sama sekali. Kalau
anak-anak dikantor denger hal ini, bah bakal heboh satu kantor.” Jawab Kyung
Hwan sambil menggeleng kepalanya.
Melihat
Kyung Hwan, Andri hanya bisa tersenyum sambil menghirup minumannya. Dia juga
sempat memikirkan sesuatu. Dipikirannya adalah kenapa Yoora seperti itu. Tidak
punya ekspresi sama sekali. Pendiam juga. Dia sempat melamun memikirkan hal
itu.
Setelah
menenangkan diri dari kagetnya dan mengelap muncratan minumannya yang juga
mampir ke arah celananya, Kyung Hwan pun kembali kedunia nyata. Dia melihat
Andri sedang melamun. Dan langsung menepun tangannya.
“Hei, ngelamunin apa?”
Andri
pun langsung tersadar.
“Ah, enggak ada kok.
Dia
sempat memasang raut wajah curiga ke arah Andri, lalu menghirup minumannya.
“Hari ini rencananya mau mulai dari
mana?”
“Aku ngikut kamu aja deh. Jadi Tour Guide aku ya. Hari ini aja.” Pinta
Andri.
“Yaudah kalau gitu, yuk berangkat.”
Mereka
beranjak dari tempat duduknya. Andri langsung mengambil ranselnya dan mengikuti
Kyung Hwan yang berjalan menuju keluar kafe. Setelah diluar, Andri mengikuti
terus Kyung Hwan menuju ketempat dimana dia memarkirkan mobilnya, tak jauh dari
situ.
Setelah
beberapa menit berjalan, akhirnya sampailah mereka di mobil Kyung Hwan. Kyung
Hwan pun segera masuk kedalam mobil yang diikuti oleh Andri.
“Seat
belt, please.”
Segera
setelah memasang seat belt-nya, Kyung
Hwan langsung menyalakan mobilnya. Andri tampak diam saja duduk disebelah Kyung
Hwan. Dia tampak melihat kedaerah sekitar.
“Jadi, mau kemana tujuan kita
pertama?”
“Terserah kamu sajalah. Aku ngikut
aja.”
“Mau yang modern? Atau ke masa
lalu?” Tawar Kyung Hwan.
“Karena ini Seoul Tour hari pertama, bagaimana kalau kita ke masa lalu dulu.
Hehe.”
“Oke. Masa lalu, kami datang.”
Mobil
Kyung Hwan pun langsung berlalu menyusuri jalanan kota Seoul. Di dalam mobil,
mereka banyak bercerita. Mulai dari kehidupan sehari-hari sampai dengan
kehidupan percintaan. Diketahui, ternyata Kyung Hwan sudah memiliki kekasih.
Dan mereka sudah berpacaran selama 5 tahun. Kyung Hwan sendiri berencana untuk
menikahi kekasihnya tahun depan.
Setelah
15 menit diperjalanan, sampailah mereka ditempat tujuan pertama. Mereka menuju
ke sebuah istana yang terbangun mewah dan masih tetap terawat dengan baik.
Andri yang baru pertama kali melihatnya pun terkagum-kagum dengan kemegahan
Istana ini.
“Woah, keren bener.”
“Kita sekarang berada di Istana kerajaan
yang paling utama pada masa Dinasti Jeoson. Dinasti Jeoson itu merupakan
dinasti terakhir yang ada di Korea. Dinasti ini kira-kira ada sekitar abad 14
sampai abad 19. Nama istana ini yaitu Gyeongbokgung
atau Istana Gyeongbuk. Istana Gyeongbuk ini merupakan Istana terbesar dari
5 istana yang dibangun pada masa Dinasty Jeoson.” Jelas Kyung Hwan dengan
bangga.
“Tapi ya, pas abad 16 gitu, istana
ini sempet hancur pas ada invasi Jepang tapi dibangun lagi sekitar tahun
1860-an gitulah.” Sambungnya.
“Tapi, pas tahun 1900-an, pas Jepang
ngejajah Korea waktu itu, bangunannya dihancurin. Ada 300an bangunan semua
dihancurin sampai sisa 10, bayangin tuh. Tapi sekarang sudah dibangun lagi ke
300 bangunannya itu. Dan kamu lihat sekarang.”
“Woah. Keren bener. Rame lagi mana
yang datang. Banyak yang suka ya tempat ini.”
Andri
pun mulai membuka kameranya.
“Dulu itu, ibukotanya bukan disini,
tetapi pas abad 14, pas Dinasti Jeoson didirikan, ibukota itu dipindahkan ke
Hansang atau yang sekarang orang-orang pada taunya Seoul.”
Setelah
menjelaskan, wajah Kyung Hwan menjadi berbeda. Dia melihat kedepan, ke arah
istana Gyeongbuk dengan tatapan kagum dan bangga. Andri pun menyadari itu dan
mengambil foto dengan wajah Kyung Hwan yang tampak berbeda.
“Hebat kamu Kyung Hwan.”
Goda
Andri sambil menyenggol tangan Kyung Hwan. Kyung Hwan yang tersenggol pun
langsung menoleh kearah Andri.
“Apaan sih.”
“Tau semua kayaknya yah.”
“Hahaha apaan sih. Enggaklah. Aku
kan PD, jadi harus tau gitu nama tempat yang jadi landmark yang ada di Korea. Lagian sejarah negara sendiri masa ga
tau.”
“Masuk yuk. Kita liat kedalem.” Ajak
Kyung Hwan.
Mereka
pun berjalan memasuki Istana Gyeongbuk. Andri tampak masih terkagum-kagum
melihat kemegahan istana ini. Tak lupa pula dia mengambil beberapa foto
kenangan dari istana ini. Setelah beberapa kali ter-WOAH WOAH dan sudah 1
setengah jam mereka mengitari kompleks istana ini, walaupun tidak semuanya
tereksplorasi, tapi Andri turut senang.
“Andri, sudah lama ini kita
muter-muter disini. Singgasana sudah liat, dalam istana juga sudah. Kalau kamu
mau ke 330 bangunannya, besok kita baru kelar.”
Kyung
Hwan lalu duduk di kursi yang disediakan di komplek istana tersebut sambil
menghela napas berat.
“Hehe, maaf-maaf. Maklumlah, namanya
juga turis.”
Andri
hanya bisa menggaruk kepalanya tidak enak.
“Yaudah yuk lanjut kita. Hari ini
aku yang traktir deh seharian.”
Mendengar
ajakan Andri, Kyung Hwan langsung berdiri dari tempat duduknya. Wajahnya
langsung ceria. Lantas dia menghampiri Andri dan langsung merangkulnya. Dia
lalu melihat ke arah jamnya sekilas dan langsung mengarah ke luar istana menuju
parkiran.
“Habis ini mau kemana kita?”
“Sekarang kan sudah mau jam 1 siang.
Sudah jam makan siang. Kita wisata kuliner dulu gimana. Lagian aku sudah laper.”
Ajak Kyung Hwan.
“Boleh tuh. Lagian aku kepengen
banget makan-makanan khas Korea. Makanan khas Korea ya, jangan nanti kamu
ngajak aku makan berger.”
“Gampang itu. Yuk kemooon.”
Kyung
Hwan lalu menyalakan mobilnya dan langsung berangkat menuju lokasi kedua
mereka.
20
menit diperjalanan, akhirnya sampailah mereka di lokasi berikutnya. Kyung Hwan
segera turun dan diikuti oleh Andri. Andri sambil membawa ranselnya dan
merapikan syalnya, dia langsung mengikuti langkah Kyung Hwan.
“Kita sekarang ada dimana?”
“Kita sekarang ada di Gwangjang Market.”
Kata
Kyung Hwan sambil menunjuk ke arah nama Pasarnya yang bertuliskan bahasa Korea.
Andri pun tak lupa langsung mengambil foto dari nama pasar tersebut.
“Katanya mau wisata kuliner, kok
malah kepasar.”
“Udah ikut aja.” Ajaknya sambil
merangkul Andri memasuki area pasar.
Didalam
pasar terlihat banyak penjual. Mereka menjual berbagai macam barang. Andri juga
sempat berhenti sejenak ditoko kain untuk membeli beberapa lembar kain yang
nantinya akan dihadiahkan kepada Mamanya yang sudah menjahit.
Setelah
berputar-putar selama 5 menit, akhirnya sampailah mereka ditengah-tengah pasar.
Mata Andri langsung berubah melihat apa yang ada didepannya. Kyung Hwan pun
langsung mengeluarkan ekspresi bangga melihat Andri yang terlihat
terkagum-kagum.
“WOAH !!! Aku gak tau kalau ada
surga ditengah-tengah pasar ini.”
“Mau mulai dari mana?” Ajak Kyung
Hwan.
“Darimana saja.”
Andri
saat itu sedang berada diatas awan. Dia terlihat tidak sadar lagi akan jati
dirinya. Dia makan apapun yang direkomendarikan oleh Kyung Hwan. Dia makan 3
porsi Bindaeddok, satu mangkok besar Tteokbokki, 4 porsi mini Kimbab, 2 porsi Bibimbab, 2 mangkok Kalguksu.
Dia juga menghabiskan 10 buah Omuk. Kyung
Hwan yang melihat itupun hanya bisa terbengong-bengong melihat nafsu makan
Andri yang luar biasa. Bahkan Andri pun hendak mengajak Kyung Hwan untuk makan Samgyetang, tetapi ditolak oleh Kyung
Hwan dengan alasan untuk melanjutkan Tur mereka.
Setelah
2 jam berwisata kuliner, akhirnya mereka melanjutkan tur mereka. Andri hanya
bisa berjalan sambil memegang perutnya dengan puas sementara Kyung Hwan sambil
berjalan, dia juga sesekali mengecek ke arah Andri dengan tidak percayanya
sampai akhirnya, sampailah mereka di mobil.
Didalam
mobilpun, Kyung Hwan masih terlihat syok. Dia sesekali melihat kearah Andri
yang sedang mengecek kameranya. Dia memindahkan pandangannya dari arah wajah
Andri lalu ke perutnya dan itu dilakukan secara berulang-ulang.
“Jadi, selanjutnya kita mau kemana?”
Kyung
Hwan yang sedang memperhatikan Andri pun langsung kaget mendengat pertanyaan
Andri dan langsung mengubah pandangannya kearah depan.
“Anu... anu kita lanjut aja ke
wisata masa lalunya.”
“Oke. Yuk berangkat,”
Diperjalanan
pun Kyung Hwan masih sesekali melirik kearah Andri.
Setelah
20 menit dijalan, sampailah mereka dilokasi ketiga tur mereka. Andri pun sempat
garuk-garuk kepala melihat lokasi selanjutnya.
“Lah kok kita balik lagi ke Istana
Gyeongbuk ini?
“Iya emang. Tapi kita bukan mau ke
sana. Kita menuju ke Istana selanjutnya.
Andri
hanya tampak bingung dan sedikit memasang ekspresi curiga. Sementara Kyung Hwan
sudah mengambil langkah menuju ke lokasi selanjutnya. Andri pun hanya terdiam
melihat Kyung Hwan berlalu.
Setelah
beberapa lama, dia akhirnya sadar kalau dia sedang berjalan sendiri. Dia
mencari-cari Andri yang ternyata sedang berdiri terpaku dibelakangnya.
“YA, ayok jalan. Diem aja kayak
patung Dol Hereubang (re. Patung batu
yang ada di Pulau Jeju; search internet ya kalau penasaran.).”
Andri
masih tetap diam saja. Tak tahan, akhirnya Kyung Hwan berjalan menuju Andri dan
langsung menarik tangannya.
“Tenang saja. Tempatnya beda kok.
Dan sejarahnya juga beda.”
Dengan
tangan yang ditarik, Andri hanya menurut saja. Ia tetap menggunakan ekspresi
bingung dan curiga.
Dan
setelah berjalan 10 menit ke arah utara dari Istana Gyeongbuk, akhirnya
sampailah mereka di lokasi selanjutnya.
“Ja,
kita sudah sampai.”
Melihat
lokasi baru pun, Andri langsung terpana. Benar-benar suasana yang berbeda dari
yang dia rasakan dari Istana Gyeongbuk. Melihat Andri yang terpana pun, Kyung
Hwan langsung tersenyum lebar menunjukkan kebanggaannya.
“Ini namanya Istana Deoksu atau Deoksugung.”
Kyung
Hwan pun mulai mempersiapkan mode Tour
Guide-nya.
“Istana Deoksu merupakan salah satu
dari 5 istana utama, selain dari istana Gyeongbuk yang kita masuki tadi. Para
pemimpin Dinasti Jeoson dulu pernah ngebuat istana ini jadi kediaman mereka
sampe periode penjajahan Jepang kalo gak salah.”
“Tapi gaya bangunannya bergaya barat
banget ya.”
“Iya, disini arsitekturnya itu cukup
unik dibanding dengan istana lainnya. Karena ngedampingin arsitektur
tradisional sama barat. Dulu itu ada 180an bangunan didalem istana ini,
sekarang belasan kalo gak salah, satu lusin apa gitu.”
“Woah keren ya. Gak kalah keren sama
istana Gyeongbuk.” Kagum Andri.
“Tentulah. Cepet foto-fotoin dulu.
Nanti kita jalan-jalan liat dalemnya.”
Andri
banyak mengambil foto dari istana ini. Dia juga tak henti-hentinya mengucapkan
kekagumannya akan istana ini.
Istana
yang didominasi warna-warna terang seperti warna merah muda dan hijau cerah ini
terlihat sangat berkelas. Istana Deoksu ini juga kebanyakan bangunannya terdiri
dari kayu tapi tak mengubah ke-elegan-annya dikarenakan arsitektur yang
merupakan gabungan arsitektur barat dan tradisional.
Didalam
istana ini juga terdapat beberapa bangunan lain seperti Museum seni, kebun
raya, dan monumen raja Sejong.
Andri
dan Kyung Hwan berkeliling di istana ini. Andri banyak mengambil foto. Ada juga
foto Kyung Hwan , foto dirinya sendiri, foto mereka berdua dan yang pastinya
foto Istana ini.
Kyung
Hwan yang bertindak sebagai tour guide
Andri pun tak henti-hentinya menjelaskan mengenai apa saja yang ada dibangunan
komplek istana ini.
“Di istana ini juga, Kekaisaran Han
Raya di proklamirkan. Kekaisaran ini merupakan kekaisaran yang menggantikan
Dinasti Jeoson.”
Andri
melihat ke arah Kyung Hwan yang sedang menjelaskan.
“Wih, kamu udah kayak guru sejarah
ya. Tau semuanya.” Goda Andri.
“Hehe, maklumlah, saya lulusan
Jurusan Sejarah waktu kuliah dulu. Terus laporan akhir saya, ya ngangkat
mengenai Dinasti Jeoson dan Kekaisaran Han Raya ini.”
Mendengar
itu Andri langsung mendorong tubuh Kyung Hwan hingga dia hampir terjatuh.
“Sialan. Kirain emang beneran jago
kamu mah.”
Kyung
Hwan hanya bisa tersenyum malu. Mereka lalu melanjutkan tur mereka di Istana
ini.
Dan
tak terasa, setelah berkeliling, jam sudah menunjukkan jam 5 sore lewat.
“Wah, udah mau jam setengah 6 sore.”
Kaget Kyung Hwan ketika melihat jamnya.
“Kenapa? Katanya kamu hari ini
kosong.”
“Iya sih. Gak nyangka aja aku. Kita
udah keliling-keliling sampe jam 5. Gini.”
“Cabut yuk.” Ajak Andri.
“Mau kemana?” Tanya Kyung Hwan.
“Kemana aja.”
Tak
lama dalam perjalanan mereka menuju ke parkiran, terdengar suara telpon dari
kantong Kyung Hwan. Kyung Hwan tidak menyadari itu tapi Andri menyadarinya. Dia
lantas menepuk punggung Kyung Hwan.
“Handphonemu
bunyi tuh.”
“Okh.”
Kyung
Hwan langsung merogoh kantongnya dan meraih handphonenya.
Dan ketika dia melihat nama penelponnya, dia sedikit kaget. Andri yang melihat
itu hanya melirik bingung ke arah Kyung Hwan.
“Andri, bentar dulu ya.”
“Iya iya silahkan.”
Kyung
Hwan langsung berlari sedikit menjauh dari Andri. Sementara Andri sambil
menunggu, dia mengecek hasil foto-foto yang sudah dia ambil seharian ini sambil
beberapa kali melirik ke arah Kyung Hwan. Kyung Hwan juga tampaknya sedang
serius menerima terlepon. Itu terlihat dari ekspresi wajahnya. Dia terlihat
kaget dan sedikit cemas serta beberapa kali melirik ke arah Andri yang sedang
menunggu.
Setelah
beberapa lama, akhirnya Kyung Hwan selesai menelpon. Dia langsung menghampiri
Andri dengan ekspresi cemas dan sedikit takut. Andri pun kebingungan melihat
ekspresi Kyung Hwan.
“Kenapa?”
“Eng... ini...anu... gimana ya
ngomonginnya.”
Kyung
Hwan terlihat sangat bingung. Andri pun mencoba merilekskan temannya itu.
“Kenapa sih? Selow aja.”
Setelah
beberapa saat menenangkan diri, akhirnya Kyung Hwan bisa tenang.
“Ini, Yoora.”
Mendegar
nama Yoora, Andri menjadi sedikit excited.
Dia langsung meletakkan kameranya dengan seketika.
“Kenapa Yoora?”
Melihat
ekspresi Andri yang excited, Kyung
Hwan langsung menunjukkan ekspresi bingung dan sedikit curiga.
“Kenapa kamu jadi excited gitu?”
Andri
yang ditanya seperti itu langsung merubah sikapnya. Dia jadi sedikit malu.
“Hehe, maaf. Yaudah terusin. Yoora
kenapa?”
“Iya, si Yoora nyuruh saya jemput
dia. Dia sekalian mau ngajak makan malem diluar. Terus aku bilang aja kalau aku
lagi keluar sama kamu jadinya gak bisa. Eh dianya gak ngomong apa-apa lagi.
Terus ya udah aku bilang aja nanti dijemput.”
Andri
yang mendengar penjelasan Kyung Hwan hanya bisa mengangguk saja.
“Yaudah, ajak aja dia. Barengan aja
kita bertiga.”
Kyung
Hwan sedikit kaget mendengar jawaban Andri.
“Bener nih gapapa?”
Andri
hanya tersenyum.
“Iya, gapapa kok. Aku nanti yang
traktir.”
Mendengar
jawab Andri, Kyung Hwan menjadi sedikit lega. Walaupun dia sebenarnya masih
sedikit cemas akan apa yang terjadi apabila dia bertemu dengan Yoora.
“Yaudah yuk jalan.”
Mereka
akhirnya mulai meninggalkan istana Deoksu dan Gyeongbuk. Andri pun masih
sempat-sempatnya mencoba mengabadikan foto Istana dari dalam mobil.
Perjalanan
menuju ke tempat Yoora membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit diperjalanan. Di
sepanjang perjalanan pun Andri banyak bertanya mengenai Korea dan kebudayaannya
kepada Kyung Hwan. Dan setelah 25 menit diperjalanan, akhirnya mereka sampai ke
sebuah stasiun TV, tempat Yoora dan Kyung Hwan. Kyung Hwan pun langsung
bergegas memarkirkan mobilnya di parkiran.
“Kamu tunggu disini dulu ya.”
Kyung
Hwan pun langsung melepaskan sabuk pengamannya.
Andri
yang melihat-lihat keluar pun terkejut dengan perkataan Kyung Hwan.
“Kamu
mau kemana?”
Kyung
Hwan langsung membuka pintu mobil.
“Mau
jemput Yoora lah. Kamu tunggu disini sebentar ya.”
“Aman gak nih? Nanti ada Kampak
merah gimana? Atau begal gitu? Ato maling spesialis kaca mobil? Nah loh.”
Kyung
Hwan yang baru sebelah kaki keluar dari mobil pun langsung menatap Andri dengan
heran.
“Ngomong apaan sih”
Andri
pun hanya menyengir kepada Kyung Hwan.
“Hehehe. Cepet sana jemput Yoora.”
“Yaudah kamu tunggu disini ya
sebentar.”
BLAM!
Pintu mobil pun tertutup. Kyung Hwan langsung berlari menuju kantor TV
tersebut. Andripun langsung membuka handphonenya dan langsung membuka aplikasi
Kamera. Dia pun merekam pun Kyung Hwan
yang berlari terburu-buru dan diiringi dengan tawanya.
Setelah
10 menit menghilang, akhirnya Kyung Hwan pun keluar dari kantornya. Tampak dari
kejauhan, dia tampak membawa beberapa kotak kardus ditangannya sambil
membawanya dengan kesusahan. Dibelakangnya terlihat Yoora yang sedang berjalan dengan tangan kanan
sedang memegang cangkir kopi dan di tangan kirinya tampak memegang beberapa
lembar kertas dan tertunduk membacanya sambil berjalan.
Melihat
Kyung Hwan dari kejauhan sedang sedikit kerepotan membawa kardus, Andri
langsung keluar dari mobil dan langsung bergegas berlari menuju arah Kyung Hwan
dan Yoora. Dia langsung mengambil beberapa kotak kardus yang dibawa oleh Kyung
Hwan. Melihat aksi Andri, Kyung Hwan pun terkejut.
“Eh.. eh.. Gak usah biar saja aja
yang bawa.”
Sambil
menjulurkan satu tangannya mencoba meraih kardus yang ada ditangan Andri.
“Yaudah biarinlah. Gapapa.”
“Maaf ya jadi ngerepotin. Makasih
loh.” Balas Kyung Hwan.
Andri
hanya menganggukkan kepalanya sambil memberikan senyuman ke arah Kyung Hwan.
Dan diapun langsung menoleh ke arah belakang tepat dimana Yoora berada. Dia melihat
Yoora sedang membaca kertas yang ada ditangannya sambil sesekali menghirup
kopinya. Diapun memperlambat jalannya sehingga bersebelahan dengan Yoora dan
meninggalkan Kyung Hwan yang berjalan didepan sendirian.
“Hai.”
Andri
menyenggolkan sikutnya ke arah Yoora. Kyung Hwan yang mendengar sapaan Andri
pun langsung menoleh kebelakang menuju sumber suara.
Merasa
disenggol seseorang, Yoora pun langsung kaget dan langsung menoleh ke arah
Andri. Yoora yang sedang memakai topi ini pun langsung mengangkat topinya
sedikit lalu langsung melihat ke arah Andri. Dia langsung terkejut melihat
Andri yang memberikan senyuman ke arah Yoora. Melihat senyum Andri, Yoora
tampak tersenyum sedikit dengan malu-malu, lalu mengembalikan pandangannya ke
arah kertas yang dibacanya sambil sesekali melirik ke arah jauh sambil
tersenyum malu.
Kyung
Hwan yang melihat tingkah Yoora pun sontak kaget. Karena ini adalah kali
pertama dia melihat Yoora mengeluarkan ekspresi seperti itu.
“Ya,
geureongeo nahantaeneun wae anhaejunya (Kenapa kau tidak pernah melakukan
itu padaku?)”
Yoora
pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah Kyung Hwan. Dia memberikan Kyung
Hwan tatapan tajam. Dengan tatapan tanpa ekspresi namun mendalam. Kyung Hwan
yang menyadari itu langsung kaget. Dia langsung tersenyum masam sambil menelan
ludah sendiri.
“Mianhae.
(Maaf)”
Andri
yang melihat itupun hanya kebingungan. Dia tampak beberapa kali melirik ke arah
Kyung Hwan dan Yoora. Diapun tidak mengerti apa yang Kyung Hwan katakan tapi
walaupun begitu, sepertinya dia tau situasinya.
Setelah
beberapa saat berjalan, akhirnya sampailah mereka di mobil Kyung Hwan. Yoora
langsung membuka pintu belakang dan langsung duduk di kursi penumpang.
Sementara Kyung Hwan langsung menuju ke belakang mobil, membuka pintu bagasi
dan langsung meletakkan kardus yang dibawanya tadi ke dalam bagasi yang juga
diikuti oleh Andri. Dan setelah meletakkan kotak itu dalam bagasi, mereka pun
langsung menuju pintu depan mobil dan langsung masuk.
Didalam
mobil pun, Kyung Hwan tampak beberapa kali melirik ke arah kaca spion yang ada
didepannya dan melihat ke arah Yoora. Sementara Yoora hanya terlihat sedang
membaca lebaran kertasnya tadi. Dan ketika Kyung Hwan melirik lagi dari arah
spion, Yoora yang menyadari itu langsung melihat ke arah spion. Menyadari itu,
Kyung Hwan langsung panik dan mengubah pandangannya ke arah depan. Sementara
Andri hanya terdiam dan bingung melihat tingkah Kyung Hwan.
“So,
jadi kita mau kemana? Kita cari makan malan aja ya. Sudah jam segini juga.” Andri
membuka percakapan.
“Boleh. Aku juga sudah lapar.” Jawab
Kyung Hwan.
“Yoora-ya, kita cari makan malam
dulu ya?” tanyanya ragu-ragu sambil melihat ke arah spion belakang.
“Geureyo. (Baiklah) ”
“O~kelah kalau begitu. Seat belt, please.”
Mobil
Kyung Hwan pun melaju meninggalkan parkiran kantor TV tersebut.
