Minggu, 13 Maret 2016

One More Week Episode 10: I JUST WANNA BE WITH YOU

Didalam mobil tampak suasana sepi. Kyung Hwan sedang fokus menyetir sedangkan Yoora sedang menatap handphonenya. Andri sendiri tampak sibuk melihat ke arah luar jendela, sambil sesekali melirik ke arah Kyung Hwan dan Yoora.

Setelah beberapa lama di perjalanan, sampailah mereka di Hongdae. Suasananya begitu ramai. Banyak anak muda berkumpul. Suara musik juga memenuhi area ini.
Andri yang baru pertama kali melihat Hongdae langsung terkagum.

          “Wooah~ rame ya disini.”

Kyung Hwan hanya tersenyum melihat reaksi dari Andri sedangkan Yoora hanya melirik sekilas ke arah Andri lalu mengembalikan pandangannya ke handphonenya lagi.

          “Hongdae itu merupakan tempat nongkrong paling favourite buat anak muda di Seoul. Gak cuma anak muda sih, orang-orang tua juga suka datang kesini.” Jelas Kyung Hwan.

          “Kyung Hwan Oppa, cepatlah cari parkiran, aku sudah lapar.”

Mendengar perkataan Yoora, Kyung Hwan jadi sedikit gelagapan. Dia langsung mencari lahan parkir tak jauh dari pusat keramaian.

Selesai mobil diparkirkan, mereka langsung berjalan menuju ke arah keramaian. Andri dan Kyung Hwan berjalan berdampingan sedang Yoora berjalan berada dibelakang mereka yang masih asik dengan handphonenya sambil sesekali menyeruput kopi ditangannya.

          “Kyung Hwan, aku pernah baca di Internet katanya tempat nongkrong paling disenengin itu Gangnam. Bener gak?”

Kyung Hwan melirik ke arah Andri.

          “Bener kok. Tapi setahun belakangan ini, orang-orang banyak yang larinya kesini. Tapi masih banyak juga sih orang yang nongkrong di Gangnam. Tapi mungkin disini kelebihannya ya karena lebih banyak kafenya, ya jadi banyak orang yang mau nongkrong disini sambil ngopi-ngopi dan diiringi sama musik-musik yang ada gitu”

          “Terus, kenapa namanya Hongdae?”

          “Ya karena deket banget sama Universitas Hongik.”

          “Oh gitu ya.”

Andri pun langsung mengeluarkan kameranya. Dia langsung mengambil foto-foto yang menurutnya sangatlah endemik. Mulai dari para musisi yang sedang memainkan musiknya, para pengrajin, ataupun para pelukis yang sedang bekerja.

          “Yaaah baterenya abis.” Kata Andri sambil memencet-mencet kameranya.

      “Yaudah, berarti itu tandanya kamu gak boleh lagi foto-foto untuk hari ini. Lagian perasaan udah banyak banget kamu foto-foto tadi waktu kita di Deoksugung.”

Andri langsung menatap Kyung Hwan dengan tatapan sinis.

          “Sialan kamu. Waktu disana juga, banyakan foto kamu perasaan.”

       “Iya? Hehehehe maklum.” Kyung Hwan hanya bisa tersenyum masam ke arah tatapan sini Andri.

          “Maklum apaan coba. Huuuuu.” Balasnya sambil mendorong bahu Kyung Hwan.

Andri lantas segera memasukkan kameranya ke dalam tas. Ketika dia sedang memasukkan kameranya, pandangannya agak terhenti ke arah Yoora yang daritadi berada dibelakangnya. Yoora saat itu sedang melihat-lihat area sekitar dengan wajah yang hampir separuhnya tertutup oleh topinya.

Selesai memasukkan kameranya kedalam tas, Andri berhenti sejenak untuk menunggu Yoora sampai akhrinya mereka berjalan berdampingan meninggalkan Kyung Hwan sendirian didepannya.

Yoora sendiri tampak tidak menyadari keberadaan Andri yang sudah berada di sebelahnya. Dan ketika dia sedang melihat-lihat sekeliling, pandangannya terhenti ke arah Andri yang sudah berada disebelahnya. Yoora yang tidak mengetahui bahwa orang yang ada disebelahnya itu ada Andri, lantas mengangkat sedikit topinya untuk melihat orang yang sedang ada disebelahnya. Dan ketika dia mengetahui itu adalah Andri, terkejutlah dia.

          “Aigoo kkamjjakiya..~”

Andri yang mendengar suara Yoora pun langsung kaget.

          "Eh ada apaan? Maling? Copet? Kampak merah? Begal?” Racaunya dalam bahasa 
Indonesia sambil mengeluarkan beberapa gerakan silat yang kemudian diakhiri dengan kuda-kuda silatnya.

Kyung Hwan yang mendengar suara Andri pun langsung menoleh keheranan melihat Andri yang sedang melakukan pose yang menurutnya aneh. Dan Yoora pun yang tepat berada disebelah Andri ikut keheranan melihat tingkah Andri.

          “Ada apaan neng? Eh what happen?

Melihat tingkah Andri, Yoora pun langsung tertawa. Yoora tertawa sejadi-jadinya sampai-sampai terduduk memegangi perutnya. Dan ditengah tawanya dia pun berdiri dan langsung mencoba menirukan gerakan silat Andri yang kemudian dilanjutkan dengan tawanya.
Andripun hanya terdiam saja melihat Yoora tertawa. Dia hanya memandangi Yoora saja.

          “Kenapa sih?” Tanyanya ke arah Kyung Hwan. Tapi ketika dia melihat ke arah Kyung Hwan, dia langsung terkejut. Disitu dia melihat Kyung Hwan yang terlihat sangat terkejut melihat ke arah Yoora yang sedang tertawa dengan mata yang terbelalak dan mulut terbuka.
Cukup lama Yoora tertawa sampai akhirnya dia berhenti tertawa. Andri dan Kyung Hwan hanya menunggu dan memperhatikan Yoora sampai dia berhenti tertawa.

Setelah sadar bahwa dia sedang diperhatikan, Yoora langsung mengembalikan sikapnya seperti semula. Dia langsung memberikan pandangan mengerikan ke arah Andri dan Kyung Hwan.

          “Kalian kenapa?”

Andri dan Kyung Hwan hanya diam saja sambil tetap memandangi Yoora. Yoora pun langsung mengernyitkan dahinya.

          “Jadi makan gak sih?” sambungnya dengan nada suara yang sedikit meninggi.

Mendengar suara Yoora yang sedikit meninggi, membuat Kyung Hwan tersadar. Sedangkan Andri masih memandangi Yoora dalam diamnya.

          “Ya..ya..ya..udah yuk.”

Yoora tampak tidak memperdulikan perkataan Kyung Hwan dan hanya memandang Andri dalam diamnya dengan dahi mengernyit. Kyung Hwan yang menyadari itu langsung mencoba menyadarkan Andri.

          “Woi.” Panggilnya dengan sedikit mendorong Andri dengan sikutnya.

Andri yang tersenggol pun langsung tersadar. Dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Kyung Hwan.

          “Apa?”

          “Mau makan gak?”

          “Ya maulah. Aku sudah laper juga”

          “Kalau mau, stop mandangin Yoora.”

Mendengar itu Andri langsung melihat ke arah Yoora yang sudah kelihatan sedikit kesal. Dia langsung berbalik dan menarik lengan baju Kyung Hwan.

          “Hayuk cepet.” Bisiknya.

          “Iya iya.”

Andri langsung melangkah masih dengan tangan yang berada di lengan baju Kyung Hwan. Merasa risih, Kyung Hwan langsung menarik tangan Andri untuk melepaskan tangannya dari lengan bajunya.

          “Yoora-ya, restoran tempat kamu makan sama Jae Sung minggu kemarin itu dimana 
ya?”

          “Kenapa emangnya?”

          “Kita makan disitu saja. Kata Jae Sung enak-enak makanannya.”

          “Boleh juga. Itu ada disimpang didepan.”

Setelah berjalan beberapa saat, sampailah mereka di restoran tersebut. Mereka langsung memilih tempat duduk yang agak dibelakang.

          “Eoseo oseyo (Selamat datang).” Sambut sang penjual sambil menyerahkan buku 
menu.

          “Ne (Iya). Andri kamu mau makan apa?”

Andri pun langsung membolak-balik buku menu tersebut.

          “Emm... Yoora.” Panggil Andri.

Yoora yang sedang memainkan handphonenya pun langsung menoleh ketika Andri memanggil namanya.

          “Aku mau makan yang waktu itu loh. Apa ya itu namanya”

Mendengar pernyataan Andri, Kyung Hwan pun sedikit kaget.

          “Kalian sudah pernah makan berdua? Kok gak pernah cerita?”

          “Baru sekali kok, waktu pertama kali aku sampai di Seoul. Kan akunya sama Yoorawaktu itu. Kamu kan waktu itu gak bisa”

          “He he, maaf deh kalo gitu.”

          “Gapapalah. Namanya juga kerjaan.”

          “Samgyetang. Namanya Samgyetang.” Kata Yoora tiba-tiba.

          “Nah iya itu. Getang getang hahaha.”

          “Oh Samgyetang toh. Kamu Yoora, mau makan apa?”

          “Aku kimbab ajalah.”

       “Bener nih kimbab aja? Yaudah kalau begitu. Imo,  Samgyetang hana, kimbab hana, kimchi bokkeumbab hanage juseyo.

          “Ne.”

          “Minumnya apaan?”

          “Aku mau es jeruk aja, esnya sedikit, gulanya dua sendok teh, ditambahin susu kental manis satu sendok.” Jawab Andri.

Mendengar pesanan Andri, Kyung Hwan dan Yoora jadi sedikit kaget. Mereka saling bertukar pandang satu sama lain.

          “Imo.” Panggil Kyung Hwan kepada sang penjual.

          “Ne.”

        “Es tehnya satu sama es jeruk, esnya sedikit saja, gulanya dua sendok teh, ditambah susu kental manisnya satu sendok, dua ya.”

          “Ne.”

          “Dua? Kan aku pesennya satu. Kok dua. Kamu juga sama ya seleranya seperti aku?” 
Goda Andri.

Kyung Hwan hanya bisa memandan g Andri sambil beberapa kali bertukar pandang dengan Yoora.

          “Bukan aku, tapi Yoora. Dia kalau pesen minuman, selalu seperti itu.”
Andri langsung melihat Yoora.

          “Bener?”

          “Iya bener.” Jawab Yoora

          “Wah kok bisa sama ya.”

          “Emang aneh dasar kalian berdua mah. Yang satunya kayak hantu dan akhir-akhir ini 
suka ketawa. Dan yang satunya lagu udah kayak anak hyperaktif yang baru keluar dari kurungan. Heeeh kenapa coba aku harus terjebak sama dua orang ini.” Keluhnya sambil menyeruput air minum yang ada didekatnya

Tak lama kemudian makanan mereka pun tiba. Dan sekali lagi, Kyung Hwan harus kembali menyaksikan sebuah pertunjukkan makan yang dilakukan Andri. sementara Yoora hanya bisa tersenyum melihat Andri makan begitu lahapnya.

1 jam mereka didalam restoran tersebut. Sementara Andri sudah menghabiskan satu porsi Samgyetang yang berisi satu ekor ayam utuh didalamnya. Ditambah dengan dua porsi Galbitang dan dua porsi kimbab.

Selesai makan, mereka langsung meninggalkan restoran tersebut. Andri tampak puas sekali setelah acara pembantaian yang dikakukannya. Dan Kyung Hwan, seperti di Gwangjang Market, hanya bisa kaget, kagum, dan tidak percaya akan apa yang disaksikannya.

Diluar restoran pun, tampak masih ramai. Masih banyak orang yang nongkrong di kawasan Hongdae.

          “Habis ini mau kemana?” Tanya Kyung Hwan diperjalanan menuju mobilnya.

          “Kalau aku sih ngikut aja.” Jawab Andri.

          “Yoora?”

Yoora tidak menjawab. Dia tampak asik dengan handphonenya. Andri lalu mendekati Yoora.

          “Lagi ngapain sih? Seru amat kayaknya.”

Yoora yang mendengar suara Andri, langsung menutup handphonenya dan langsung menyimpannya didalam kantongnya.

          “Ah, apaan sih.”

          “Kyung Hwan nanya tuh. Habis ini mau kemana lagi.”

Yoora langsung mengarahkan pandangannya ke arah Kyung Hwan.

          “Habis ini mau kemana?” Tanya Kyung Hwan.

          “Langsung pulang ajalah. Besok banyak kerjaan. Jadi subuh harus udah kekantor. Oppa lupa ya?”

          “Aaaaaaahhh iya iya baru inget.”

          “Jangan bilang kalau presentasinya belum kelar ya.”

Kyung Hwan hanya bisa tersenyum masam.

          “Udah kok udah. Dikit lagi sih.”

          “Belum dikerjain kan?”

          “Hehe maaf. Nanti setelah sampe rumah langsung dikerjain kok. Sumpah dah.”

Yoora hanya diam saja. Sementara Kyung Hwan sudah salah tingkah. Dan Andri sendiri hanya bisa diam saja melihat percakapan antara Kyung Hwan dan Yoora.

Setelah berjalan beberapa menit, sampailah mereka di mobilnya Kyung Hwan.

          “Andri.”

          “Apaan?” Jawab Andri yang kala itu sedang memasang seat beltnya.

          “Ini, ini nanti kita langsung pulang ya. Soalnya saya sama Yoora ada kerjaan besok, jadi besok subuh sudah harus dikantor.”

Andri langsung melihat jamnya.

          “Yaudah gapapa kok. Udah jam segini juga.” Jawabnya diiringi senyumannya.

          “Maaf ya.”

          “Eii~ gapapa kali beneran. Ini kan masalah kerjaan. Jadinya gapapa. Maklum kok. 
Lagian aku kan Cuma numpang aja.”

          “Yaudah kalau begitu. Nanti aku anterin kamu ke penginapan. Dan besok kalo 
kerjaanku udah kelar, aku temenin lagi tournya.” Jelas Kyung Hwan.

Andri hanya membalasnya dengan senyuman ke arah Kyung Hwan.

Akhirnya, mobil Kyung Hwan pun melaju meninggalkan area keramaian Hongdae.

Diperjalanan, Andri tampak cukup kagum dengan keadaan kota Seoul yang masih tampak terang benderang walaupun sudah agak larut.

          “Andri.”

Andri yang waktu sedang melihat ke arah luar jendela mobil, langsung menoleh ke arah Kyung Hwan. Yoora pun yang juga sedang melihat ke arah luar jendela mobil, juga langsung melihat ke arah sumber suara.

          “Eng, apaan?” Jawab Andri.

          “Ceritain dong tentang kota tempat kamu tinggal.”

          “Kenapa? Ada rencana mau kesana apa?” Goda Andri.

          “Nanya aja. Siapa tau kan hahaha. Lagian aku juga lagi nyari-nyari tempat buat 
honeymoon­ nanti.”

          “Mulai darimana ya? Jakarta. Jakarta itu ibukotanya Indonesia, sama kayak Seoul. Jakarta itu luasnya hampir samalah sama Seoul. Populasinya juga hampir sama kira-kira. Jakarta juga terkenal dengan kemacetannya sama banjir tiap tahunnya. Tapi kalau aku sih yakin, pemerintah sedang serius mengatasi itu. Jakarta itu terdiri dari 5 bagian, ada Jakarta timur, Jakarta barat, Jakarta Utara sama Jakarta selatan. Beda sama Seoul yang ada banyak distriknya, ya kan.”

          “Darimana kamu tau?” Tanya Kyung Hwan.

          “Aku riset dululah sebelum liburan kesini.”

          “Wih boleh-boleh.” Goda Kyung Hwan.

          “Jakarta juga yaitu dikenal dengan nama Mini Indonesia. Karena seluruh orang 
Indonesia itu ada di Jakarta.”

          “Kalau landmarknya gimana?”

          “Ada banyak. Kalau di Seoul ada N Seoul Tower, kalau di Indonesia ada yang namanya 
Monas, Monumen Nasional.”

Andri langsung membuka handphonenya dan langsung mencari gambar monas dan langsung ditunjukkannya ke Kyung Hwan.

          “Wih keren ya. Itu yang di atasnya warna emas itu, emas beneran?” Tanyanya sambil menunjuk emas yang ada digambar.

          “Iyalah. Itu totalnya ada 38 Kg emasnya.”

          “Woah banyaknya. Kalau tempat lainnya?”

          “Ada banyak. Ada Senayan, tempat olahraga gitu. Ada juga Taman Mini Indonesia 
Indah, seluruh kebudayaan Indonesia ada disitu. Ada juga Ragunan, Kebun binatangnya. Dan masih banyak lagi. Dateng aja lah kalau mau dateng. Nanti aku yang jadi Tour Guide nya.” Tawar Andri.

          “Wah boleh deh.”

          “Kamu Yoora, mau ke Jakarta  juga?”

Yoora hanya diam saja.

          “Saya masih banyak kerjaan. Belum kepikiran juga mau liburan keluar negeri.”

          “Gitu ya?”

Andri tampak lesu mendengar jawaban Yoora. Kyung Hwan pun menyadari hal itu.

          “Ya maklumin ajalah. Namanya juga anak berbakat. Kamu sendiri udah denger kan ceritaku tadi pagi tentang Yoora. Sibuk orangnya emang.”

Andri hanya melihat Yoora sekilas yang sedang melihat ke arah luar jendela mobil.

          “Ya pasti nanti Yoora bakal ke Indonesia kok. Nanti pas udah ada waktu luang. Ya kan?”
Yoora hanya diam saja sambil tetap memandangi luar jendela mobil.

          “Yoora-ya.” Panggil Kyung Hwan sambil melihat Yoora dari kaca spionnya.

Yoora yang mendengar panggilan Kyung Hwan langsung menoleh ke arahnya. Dia langsung melihat ke arah Kyung Hwan dari kaca spionnya, lalu melihat Andri yang sudah tampak lesu, lalu mengembalikan pandangannya kembali ke arah Kyung Hwan.

          "Yoora-ya, iya kan?”

Yoora hanya terdiam.

          “Iya. Mungkin suatu hari nanti.” Lalu mengembalikan pandangannya ke arah luar
jendela mobil.

Kyung Hwan langsung menyenggol lengan Andri dengan sikutnya.

          “Kamu udah denger kan. Iya pasti datang kok. Kalau sudah gak sibuk tapi.”

Andripun hanya terdiam.

          “Iya deh. Ditunggu ya.”

Andri hanya memberikan senyuman kepada Kyung Hwan dan Yoora, lalu mengembalikan pandangannya lagi ke arah luar jendela mobil.

Tiba-tiba suasana didalam mobil mendadak sunyi. Yoora dan Andri tampak sedang melihat ke arah luar jendela mobil sedang Kyung Hwan fokus dalam menyetirnya. Melihat suasana yang agak awkward ini, Kyung Hwan langsung inisiatif menghidupkan radio mobilnya.

Mobilpun melaju tenang dengan iringan lagu lembut dari dalam mobil. Diluar juga tampak sedikit gerimis terlihat dari bercak air dijendela mobil.

Yoora yang sedang melihat ke arah luar jendela, lalu mengubah arah pandangnya ke arah Kyung Hwan yang sedang menyetir lalu ke arah Andri yang tampak sedang melihat ke arah luar jendela mobil.

          “Ya, mungkin suatu hari nanti.” Batinnya.

Kamis, 14 Januari 2016

One More Week Episode 9: I DONT EVEN KNOW IF YOU ARE SO SPECIAL

Andri bangun jam 6 pagi. Terlihat Pan dan Nicholas masih tertidur. Dia turun perlahan dari kasur agar tidak membangunkan Nicholas yang tidur dibawahnya. Segera dia menuju ke kamar mandi. Di hotel ini, kamar mandinya hanya ada 2. Satu untuk pria dan satunya lagi khusus wanita. Pada saat Andri menuju kamar mandi, suasana masih sangat sepi. Kebanyakan para tamu lain tampaknya masih tertidur. Dan segeralah Andri menuju kamar mandi dan langsung mandi.

Setelah mandi, Andri langsung bersiap-siap mengganti pakaiannya. Dia menggunakan sweater warna krem dengan luaran menggunakan jaket panjang. Tak lupa dia memakai syal yang langsung melingkar dilehernya.

Dan setelah siap, dia langsung menuju ke lobby hotel, memesan sarapan dan secangkir teh dan langsung menyantap sarapannya sambil mengobrol dengan Hee Joon yang sudah bangun terlebih dulu.

Setelah 15 menit menghabiskan sarapannya, dia langsung membuka handphonenya. Yang dia telepon adalah Kyung Hwan, seorang teman yang ditemuinya di pesawat ketika diperjalanan dari Singapura menuju Korea Selatan

TUUUUT... TUUUUT... TUUUUT... TUU..

            “Yeoboseyo..” Terdengar jawaban dari seberang telepon.

            “Kyung Hwan ssi, an-nyeong-ha-se-yo. Hehe.”

            “Annyeonghaseyo. Nuguseyo?” Tanya seseorang dari seberang telepon tersebut.

         “Engg.... Sorry, I can’t speak Korean, hehe  (Engg.... Maaf, saya tidak bisa bahasa Korea, Hehe).” Jawab Andri.

            “Andri, isn’t it? (Ini Andri kan?)” Ucap Kyung Hwan datar.

            “Hehehe, maaf. Lagi apa?” Tanya Andri.

            “Lagi dirumah sih. Kenapa? Semalem dianterin sampai mana?” Balas Kyung Hwan.

            “Dianterin sampai ke penginapan malah.” Jelas Andri.

            “Bagus deh.” Kata Kyung Hwan lega.

            “Jadi, jadwal hari ini apa?” Tanya Kyung Hwan.

            “Maunya sih wisata. Cuma gaada temen. Temenin ya.” Pinta Andri.

      “Emm, boleh deh boleh. Kebetulan hari ini jadwalku kosong kok. Sekalian mau ngebales semalem yang gak bisa ngebantuin kamu.” Balas Kyung Hwan.

        “Okedeh, nanti jam 9 aku telepon lagi yah. Nanti kita ketemuan di kafe didepan penginapanku aja. Hehe.” Kata Andri.

            “Iya iya. Baiklah, aku mau bersiap-siap dulu.”

            “Iya okelah.”

Jam masih menunjukkan pukul 7.30 pagi. Segera setelah menutup telepon, Andri langsung menuju kamarnya dan bersiap-siap menyiapkan ranselnya. Di kamar, Nicholas dan Pan juga tampak sedang bersiap-siap.

            “Hai, Andri.” Sapa Nicholas ketika melihat Andri masuk kedalam kamar.

            “Apa rencanamu hari ini?”

            “Hari ini aku mau memulai jalan-jalanku.” Jawab Andri dengan semangat.

            “Sendirian?” Tanya Pan kali ini.

         “Enggaklah. Kalau sendirian, bisa-bisa nyasar aku mah ke Korea Utara hahahahaha.” Jawab Andri disertai tawa ketiganya.

            “Ada temen aku mah. Kenalan di pesawat waktu mau kesini kemarin.”

Nicholas langsung mendekati Andri yang sudang berada di depan berangkas

            “Cewek?” Tanya Nicholas sambil memberikan lirikan ke arah Pan.

     “Cewek matamu. Cowoklah. Pikiranmu mah cewek mulu.” Jawab Andri sambil mendorong Nicholas ke samping dengan satu tangannya.

Setelah didorong Andri, Nicholas langsung tertawa yang kemudian diikuti oleh tawa Andri dan Pan.

Sembari bersiap-siap dan bercandan dengan Nicholas dan Pan, jam sudah menunjukkan jam 8.50. Andri langsung berangkat menuju ke kafe didepan penginapannya sesuai dengan yang direncanakannya dengan Kyung Hwan tadi.

Sesampainya di kafe, Andri langsung memesan cappuccino hangat. Dia langsung meletakkan tasnya di atas meja. Dia langsung membuka koran yang diambilnya di lobby penginapannya bermaksud mencari berita yang sedang update sekarang. Tapi setelah membolak-balik koran itu beberapa kali, dia akhirnya menyerah. Koran yang dia ambil ternyata penuh dengan tulisan Hangul (huruf Korea) yang tidak dia mengerti sama sekali. Dia langsung menaruh koran itu didepannya dan langsung membuka handphonenya sambil sesekali menyeruput cappuchinonya.

Jam sudah menunjukkan jam 9 lewat 10 menit. Andri langsung mencoba menghubungi Kyung Hwan untuk menanyakan posisinya dimana.

TUUUTT.... TUUUT.... TUUUT.... TUUUT..., TUUUT.... I’m soryy, The number you are calling is busy. Please try again for a moment. (Maaf, nomor yang anda hubungi sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi.)

            “Eh sibuk. Hadeehhh. Yaudahlah tungguin aja. Kali emang sibuk beneran kan,”

Andri terus menunggu di kafe itu. Cangkir kedua cappuchinonya pun sudah hampir habis. Sementara jam sudah menunjukkan jam 9.50. Andri berkali-kali mengecek jamnya dan mencoba menengok kearah luar, kali kali Kyung Hwan datang. Andri mencoba menelpon Kyung Hwan lagi, namun hasilnya tetap sama, sibuk.

Setelah berlama-lama Andri menunggu, seseorang pun masuk melalui pintu kafe itu. Itu adalah Kyung Hwan.

            “Kyung Hwan.”

Panggil Andri kepada Kyung Hwan sambil mengangkat tangannya.

Kyung Hwan yang mendengar panggilan Andri pun langsung menghampiri Andri, menarik kursi dan langsung duduk didepan Andri.

            “Lama ya lama. Hahahaha.”
         “Hehehe maaf. Ada kerjaan mendadak dikantor. Jadi gak bisa ditinggalin. Ini aja pas udah selesai langsung cabut kesini. Maaf ya maaf.” Balas Kyung Hwan dengan wajah tidak enak.

      “Eii gapapa kok. Santai aja. Hahaha. Beneran gapapa. Pesen gih.” Jawab Andri menenangkan.

            “Baiklah.”

Kyung Hwan pun langung menuju meja kasir untuk memesan. Dan setelah selesai memesan, dia langsung kembali kemeja Andri.

            “Jadi, sudah lama kamu nunggu?” Tanyanya sembari menarik kursi.

       “Baru kok. Tadi sempet ada urusan dulu sama orang di Indonesia. Jadinya keluar penginapan baru jam setengah sebelasanlah.” Jawab Andri sambil tersenyum. Andri sebenarnya berbohong. Hanya saja, demi mengenakkan hati Kyung Hwan, dia terpaksa berbohong.

            “Syukurlah kalau begitu. Kirain kamu sudah nunggu dari jam 9 tadi. Ga enak aku kalau kamu emang nunggu dari jam segitu.” Kata Kyung Hwan sambil mengelus dadanya.

Tak lama pun, pesanan Kyung Hwan datang.
            “Jadi, semalem dianterin sampe penginapan.” Tanya Kyung Hwan sambil menghirup minumannya.

     “Iya. Dianterin sampai depan gerbang malah.” Jawab Andri sambil mengirup minumannya juga.

Selesai menghirup minumannya, Andri bertanya,

            “Saya mau tanya deh.”

            “Tanya saja.”

           “Si Yoora itu kenapa sih? Serem bener. Kayak hantu beneran dah. Untung aja napak dianya.”

Kyung Hwan sedikit kaget mendengar ucapan Andri.

            “Wih, baru semalem, udah tau aja kamu namanya. Aku aja setelah 3 minggu baru tau namanya.”

Kyung Hwan lalu menyilangkan tangannya di atas meja, tepat dibelakang minumannya.

            “Dia itu.... gatau ya. Dia itu emang seperti itu orangnya. Dari awal masuk kantor juga kayak gitu. Terus aku denger-denger sih, dia itu dari sekolah udah kayak gitu. Misterius banget orangnya. Aku aja yang udah 3 tahun kerja bareng dia aja gak tau dia itu orangnya bagaimana.”

            “Iya ya? Wah serem bener. Ngomong aja aku gak berani. Harus milih-milih dulu apa yang pengen disampein.”

Andri lalu langsung melipat tangannya di dada sambil menyandarkan badannya ke kursi.

            “Kamu yang baru semalem ketemu aja gitu. Apalagi aku. Ngeliat matanya aja aku ga berani.” Jawab Kyung Hwan sambil mengikuti gaya Andri dengan menyilangkan tangannya ke dadanya dan bersandar.

            “Tapi ya, dia itu anaknya jenius banget. Pinternya gak ketulungan. Lulusan terbaik di sekolahnya mulai dari SD sampai SMA. Terus juga peringkat 1 se-Korea Selatan pas sekolah. Pas kuliah, dia jadi mahasiswa dengan nilai terbaik. Bahasa Inggrisnya aja udah kayak orang Inggris beneran. Beh dah. Dan lagi nih, program kami nih, ratingnya aja selalu 2 digit. Ide-ide dari dia itu fresh-fresh semua dan semuanya berjalan dengan baik. Orang aja banyak yang minta saran sama dia walaupun akhirnya pada pucet semua. Hahahaha.”

            “Woah, hebat dong.”

        “Kelewat hebat malahan. Gak yakin di Korea ini ada yang bisa ngalahin dia. Banyak stasiun TV malah mau ngerekrut dia. Tapi sayangnya, dia itu gak pernah senyum loh sekalipun. Selucu apapun acara kami, tetap aja ekspresinya datar gitu. Yoo Jae Suk aja nih, kamu tau kan Yoo Jae Suk, orang yang terkenal banget di Korea ini dan dijulukin National MC aja gak bisa nge-handle dia. Untung aja Yoo Jae Suk itu orangnya easy going, jadinya ya gak papa dianya. Kalau lihat dari fisik, dia itu cantik sih, tapi kalau gak pernah senyum, ya jadinya serem juga.” Kata Kyung Hwan.

            “Tapi, yang aku denger sih, dia itu cita-citanya mau buat Film gitu. Dan katanya udah ada rumah produksi gitu yang udah ngontak dia. Doain aja semoga tercapai hahaha.”
Andri lalu mengambil cangkir kopi yang ada didepannya.

            “Amin dah. Masa gak pernah senyum sekalipun? Padahal senyumnya itu manis banget loh.” Dia lalu menyeruput kopinya.

Kyung Hwan langsung mengeluarkan ekspresi curiga ke arah Andri yang sudang menyeruput kopinya.

            “Darimana kamu tau dia senyumnya manis. Kalau kamu bilang dia cantik, percaya aku. Kalau kamu bilang soal dia yang senyum, aku agak ragu.”

Dia lalu langsung menyeruput ice americano-nya

            “Beneran. Semalem waktu jalan dari rumah makan ke penginapanku, dianya senyum. Manis banget beneran. Udah cantik, senyumnya manis lagi. Ditambah lesung pipinya, jadinya kelewat manis.”

            “HAAAH !!!.”

Kyung Hwan kaget mendengar pernyataan Andri. minuman yang sedang diminumnya pun langsung dimuncratkannya dan hampir mengenai Andri yang sempat mengelak. Orang yang berada di kafe itupun langsung menoleh kearah Kyung Hwan ketika mendengar suara Kyung Hwan. Kyung Hwan pun langsung mengelap bibirnya.

            “YOORA PUNYA LESUNG PIPI ?!!!”

            “Kamu gak tau?” Tanya Andri.

          “Gak tau sama sekali. Kalau anak-anak dikantor denger hal ini, bah bakal heboh satu kantor.” Jawab Kyung Hwan sambil menggeleng kepalanya.

Melihat Kyung Hwan, Andri hanya bisa tersenyum sambil menghirup minumannya. Dia juga sempat memikirkan sesuatu. Dipikirannya adalah kenapa Yoora seperti itu. Tidak punya ekspresi sama sekali. Pendiam juga. Dia sempat melamun memikirkan hal itu.

Setelah menenangkan diri dari kagetnya dan mengelap muncratan minumannya yang juga mampir ke arah celananya, Kyung Hwan pun kembali kedunia nyata. Dia melihat Andri sedang melamun. Dan langsung menepun tangannya.

            “Hei, ngelamunin apa?”

Andri pun langsung tersadar.

            “Ah, enggak ada kok.

Dia sempat memasang raut wajah curiga ke arah Andri, lalu menghirup minumannya.

            “Hari ini rencananya mau mulai dari mana?”

            “Aku ngikut kamu aja deh. Jadi Tour Guide aku ya. Hari ini aja.” Pinta Andri.

            “Yaudah kalau gitu, yuk berangkat.”

Mereka beranjak dari tempat duduknya. Andri langsung mengambil ranselnya dan mengikuti Kyung Hwan yang berjalan menuju keluar kafe. Setelah diluar, Andri mengikuti terus Kyung Hwan menuju ketempat dimana dia memarkirkan mobilnya, tak jauh dari situ.

Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya sampailah mereka di mobil Kyung Hwan. Kyung Hwan pun segera masuk kedalam mobil yang diikuti oleh Andri.

            “Seat belt, please.”

Segera setelah memasang seat belt-nya, Kyung Hwan langsung menyalakan mobilnya. Andri tampak diam saja duduk disebelah Kyung Hwan. Dia tampak melihat kedaerah sekitar.

            “Jadi, mau kemana tujuan kita pertama?”

            “Terserah kamu sajalah. Aku ngikut aja.”

            “Mau yang modern? Atau ke masa lalu?” Tawar Kyung Hwan.

            “Karena ini Seoul Tour hari pertama, bagaimana kalau kita ke masa lalu dulu. Hehe.”

            “Oke. Masa lalu, kami datang.”

Mobil Kyung Hwan pun langsung berlalu menyusuri jalanan kota Seoul. Di dalam mobil, mereka banyak bercerita. Mulai dari kehidupan sehari-hari sampai dengan kehidupan percintaan. Diketahui, ternyata Kyung Hwan sudah memiliki kekasih. Dan mereka sudah berpacaran selama 5 tahun. Kyung Hwan sendiri berencana untuk menikahi kekasihnya tahun depan.

Setelah 15 menit diperjalanan, sampailah mereka ditempat tujuan pertama. Mereka menuju ke sebuah istana yang terbangun mewah dan masih tetap terawat dengan baik. Andri yang baru pertama kali melihatnya pun terkagum-kagum dengan kemegahan Istana ini.

            “Woah, keren bener.”

            “Kita sekarang berada di Istana kerajaan yang paling utama pada masa Dinasti Jeoson. Dinasti Jeoson itu merupakan dinasti terakhir yang ada di Korea. Dinasti ini kira-kira ada sekitar abad 14 sampai abad 19. Nama istana ini yaitu Gyeongbokgung atau Istana Gyeongbuk. Istana Gyeongbuk ini merupakan Istana terbesar dari 5 istana yang dibangun pada masa Dinasty Jeoson.” Jelas Kyung Hwan dengan bangga.

            “Tapi ya, pas abad 16 gitu, istana ini sempet hancur pas ada invasi Jepang tapi dibangun lagi sekitar tahun 1860-an gitulah.” Sambungnya.

            “Tapi, pas tahun 1900-an, pas Jepang ngejajah Korea waktu itu, bangunannya dihancurin. Ada 300an bangunan semua dihancurin sampai sisa 10, bayangin tuh. Tapi sekarang sudah dibangun lagi ke 300 bangunannya itu. Dan kamu lihat sekarang.”

            “Woah. Keren bener. Rame lagi mana yang datang. Banyak yang suka ya tempat ini.”
Andri pun mulai membuka kameranya.

            “Dulu itu, ibukotanya bukan disini, tetapi pas abad 14, pas Dinasti Jeoson didirikan, ibukota itu dipindahkan ke Hansang atau yang sekarang orang-orang pada taunya Seoul.”

Setelah menjelaskan, wajah Kyung Hwan menjadi berbeda. Dia melihat kedepan, ke arah istana Gyeongbuk dengan tatapan kagum dan bangga. Andri pun menyadari itu dan mengambil foto dengan wajah Kyung Hwan yang tampak berbeda.

            “Hebat kamu Kyung Hwan.”

Goda Andri sambil menyenggol tangan Kyung Hwan. Kyung Hwan yang tersenggol pun langsung menoleh kearah Andri.

            “Apaan sih.”

            “Tau semua kayaknya yah.”

            “Hahaha apaan sih. Enggaklah. Aku kan PD, jadi harus tau gitu nama tempat yang jadi landmark yang ada di Korea. Lagian sejarah negara sendiri masa ga tau.”

            “Masuk yuk. Kita liat kedalem.” Ajak Kyung Hwan.

Mereka pun berjalan memasuki Istana Gyeongbuk. Andri tampak masih terkagum-kagum melihat kemegahan istana ini. Tak lupa pula dia mengambil beberapa foto kenangan dari istana ini. Setelah beberapa kali ter-WOAH WOAH dan sudah 1 setengah jam mereka mengitari kompleks istana ini, walaupun tidak semuanya tereksplorasi, tapi Andri turut senang.

            “Andri, sudah lama ini kita muter-muter disini. Singgasana sudah liat, dalam istana juga sudah. Kalau kamu mau ke 330 bangunannya, besok kita baru kelar.”
Kyung Hwan lalu duduk di kursi yang disediakan di komplek istana tersebut sambil menghela napas berat.

            “Hehe, maaf-maaf. Maklumlah, namanya juga turis.”
Andri hanya bisa menggaruk kepalanya tidak enak.

            “Yaudah yuk lanjut kita. Hari ini aku yang traktir deh seharian.”
Mendengar ajakan Andri, Kyung Hwan langsung berdiri dari tempat duduknya. Wajahnya langsung ceria. Lantas dia menghampiri Andri dan langsung merangkulnya. Dia lalu melihat ke arah jamnya sekilas dan langsung mengarah ke luar istana menuju parkiran.

            “Habis ini mau kemana kita?”

           “Sekarang kan sudah mau jam 1 siang. Sudah jam makan siang. Kita wisata kuliner dulu gimana. Lagian aku sudah laper.” Ajak Kyung Hwan.

           “Boleh tuh. Lagian aku kepengen banget makan-makanan khas Korea. Makanan khas Korea ya, jangan nanti kamu ngajak aku makan berger.”

            “Gampang itu. Yuk kemooon.”

Kyung Hwan lalu menyalakan mobilnya dan langsung berangkat menuju lokasi kedua mereka.
20 menit diperjalanan, akhirnya sampailah mereka di lokasi berikutnya. Kyung Hwan segera turun dan diikuti oleh Andri. Andri sambil membawa ranselnya dan merapikan syalnya, dia langsung mengikuti langkah Kyung Hwan.

            “Kita sekarang ada dimana?”

            “Kita sekarang ada di Gwangjang Market.”

Kata Kyung Hwan sambil menunjuk ke arah nama Pasarnya yang bertuliskan bahasa Korea. Andri pun tak lupa langsung mengambil foto dari nama pasar tersebut.

            “Katanya mau wisata kuliner, kok malah kepasar.”

            “Udah ikut aja.” Ajaknya sambil merangkul Andri memasuki area pasar.

Didalam pasar terlihat banyak penjual. Mereka menjual berbagai macam barang. Andri juga sempat berhenti sejenak ditoko kain untuk membeli beberapa lembar kain yang nantinya akan dihadiahkan kepada Mamanya yang sudah menjahit.

Setelah berputar-putar selama 5 menit, akhirnya sampailah mereka ditengah-tengah pasar. Mata Andri langsung berubah melihat apa yang ada didepannya. Kyung Hwan pun langsung mengeluarkan ekspresi bangga melihat Andri yang terlihat terkagum-kagum.

            “WOAH !!! Aku gak tau kalau ada surga ditengah-tengah pasar ini.”

            “Mau mulai dari mana?” Ajak Kyung Hwan.

            “Darimana saja.”

Andri saat itu sedang berada diatas awan. Dia terlihat tidak sadar lagi akan jati dirinya. Dia makan apapun yang direkomendarikan oleh Kyung Hwan. Dia makan 3 porsi Bindaeddok, satu mangkok besar Tteokbokki, 4 porsi mini Kimbab, 2 porsi Bibimbab, 2 mangkok Kalguksu. Dia juga menghabiskan 10 buah Omuk. Kyung Hwan yang melihat itupun hanya bisa terbengong-bengong melihat nafsu makan Andri yang luar biasa. Bahkan Andri pun hendak mengajak Kyung Hwan untuk makan Samgyetang, tetapi ditolak oleh Kyung Hwan dengan alasan untuk melanjutkan Tur mereka.

Setelah 2 jam berwisata kuliner, akhirnya mereka melanjutkan tur mereka. Andri hanya bisa berjalan sambil memegang perutnya dengan puas sementara Kyung Hwan sambil berjalan, dia juga sesekali mengecek ke arah Andri dengan tidak percayanya sampai akhirnya, sampailah mereka di mobil.

Didalam mobilpun, Kyung Hwan masih terlihat syok. Dia sesekali melihat kearah Andri yang sedang mengecek kameranya. Dia memindahkan pandangannya dari arah wajah Andri lalu ke perutnya dan itu dilakukan secara berulang-ulang.

            “Jadi, selanjutnya kita mau kemana?”

Kyung Hwan yang sedang memperhatikan Andri pun langsung kaget mendengat pertanyaan Andri dan langsung mengubah pandangannya kearah depan.

            “Anu... anu kita lanjut aja ke wisata masa lalunya.”

            “Oke. Yuk berangkat,”

Diperjalanan pun Kyung Hwan masih sesekali melirik kearah Andri.

Setelah 20 menit dijalan, sampailah mereka dilokasi ketiga tur mereka. Andri pun sempat garuk-garuk kepala melihat lokasi selanjutnya.

            “Lah kok kita balik lagi ke Istana Gyeongbuk ini?

            “Iya emang. Tapi kita bukan mau ke sana. Kita menuju ke Istana selanjutnya.

Andri hanya tampak bingung dan sedikit memasang ekspresi curiga. Sementara Kyung Hwan sudah mengambil langkah menuju ke lokasi selanjutnya. Andri pun hanya terdiam melihat Kyung Hwan berlalu.

Setelah beberapa lama, dia akhirnya sadar kalau dia sedang berjalan sendiri. Dia mencari-cari Andri yang ternyata sedang berdiri terpaku dibelakangnya.

            “YA, ayok jalan. Diem aja kayak patung Dol Hereubang (re. Patung batu yang ada di Pulau Jeju; search internet ya kalau penasaran.).”
Andri masih tetap diam saja. Tak tahan, akhirnya Kyung Hwan berjalan menuju Andri dan langsung menarik tangannya.

            “Tenang saja. Tempatnya beda kok. Dan sejarahnya juga beda.”

Dengan tangan yang ditarik, Andri hanya menurut saja. Ia tetap menggunakan ekspresi bingung dan curiga.

Dan setelah berjalan 10 menit ke arah utara dari Istana Gyeongbuk, akhirnya sampailah mereka di lokasi selanjutnya.

            “Ja, kita sudah sampai.”

Melihat lokasi baru pun, Andri langsung terpana. Benar-benar suasana yang berbeda dari yang dia rasakan dari Istana Gyeongbuk. Melihat Andri yang terpana pun, Kyung Hwan langsung tersenyum lebar menunjukkan kebanggaannya.

            “Ini namanya Istana Deoksu atau Deoksugung.

Kyung Hwan pun mulai mempersiapkan mode Tour Guide-nya.

            “Istana Deoksu merupakan salah satu dari 5 istana utama, selain dari istana Gyeongbuk yang kita masuki tadi. Para pemimpin Dinasti Jeoson dulu pernah ngebuat istana ini jadi kediaman mereka sampe periode penjajahan Jepang kalo gak salah.”

            “Tapi gaya bangunannya bergaya barat banget ya.”

      “Iya, disini arsitekturnya itu cukup unik dibanding dengan istana lainnya. Karena ngedampingin arsitektur tradisional sama barat. Dulu itu ada 180an bangunan didalem istana ini, sekarang belasan kalo gak salah, satu lusin apa gitu.”

            “Woah keren ya. Gak kalah keren sama istana Gyeongbuk.” Kagum Andri.

            “Tentulah. Cepet foto-fotoin dulu. Nanti kita jalan-jalan liat dalemnya.”

Andri banyak mengambil foto dari istana ini. Dia juga tak henti-hentinya mengucapkan kekagumannya akan istana ini.

Istana yang didominasi warna-warna terang seperti warna merah muda dan hijau cerah ini terlihat sangat berkelas. Istana Deoksu ini juga kebanyakan bangunannya terdiri dari kayu tapi tak mengubah ke-elegan-annya dikarenakan arsitektur yang merupakan gabungan arsitektur barat dan tradisional.

Didalam istana ini juga terdapat beberapa bangunan lain seperti Museum seni, kebun raya, dan monumen raja Sejong.

Andri dan Kyung Hwan berkeliling di istana ini. Andri banyak mengambil foto. Ada juga foto Kyung Hwan , foto dirinya sendiri, foto mereka berdua dan yang pastinya foto Istana ini.

Kyung Hwan  yang bertindak sebagai tour guide Andri pun tak henti-hentinya menjelaskan mengenai apa saja yang ada dibangunan komplek istana ini.

            “Di istana ini juga, Kekaisaran Han Raya di proklamirkan. Kekaisaran ini merupakan kekaisaran yang menggantikan Dinasti Jeoson.”

Andri melihat ke arah Kyung Hwan yang sedang menjelaskan.

            “Wih, kamu udah kayak guru sejarah ya. Tau semuanya.” Goda Andri.
          
          “Hehe, maklumlah, saya lulusan Jurusan Sejarah waktu kuliah dulu. Terus laporan akhir saya, ya ngangkat mengenai Dinasti Jeoson dan Kekaisaran Han Raya ini.”

Mendengar itu Andri langsung mendorong tubuh Kyung Hwan hingga dia hampir terjatuh.

            “Sialan. Kirain emang beneran jago kamu mah.”

Kyung Hwan hanya bisa tersenyum malu. Mereka lalu melanjutkan tur mereka di Istana ini.
Dan tak terasa, setelah berkeliling, jam sudah menunjukkan jam 5 sore lewat.

            “Wah, udah mau jam setengah 6 sore.” Kaget Kyung Hwan ketika melihat jamnya.

            “Kenapa? Katanya kamu hari ini kosong.”

            “Iya sih. Gak nyangka aja aku. Kita udah keliling-keliling sampe jam 5. Gini.”

            “Cabut yuk.” Ajak Andri.

            “Mau kemana?” Tanya Kyung Hwan.

            “Kemana aja.”

Tak lama dalam perjalanan mereka menuju ke parkiran, terdengar suara telpon dari kantong Kyung Hwan. Kyung Hwan tidak menyadari itu tapi Andri menyadarinya. Dia lantas menepuk punggung Kyung Hwan.

            “Handphonemu bunyi tuh.”

            “Okh.”

Kyung Hwan langsung merogoh kantongnya dan meraih handphonenya. Dan ketika dia melihat nama penelponnya, dia sedikit kaget. Andri yang melihat itu hanya melirik bingung ke arah Kyung Hwan.

            “Andri, bentar dulu ya.”

            “Iya iya silahkan.”

Kyung Hwan langsung berlari sedikit menjauh dari Andri. Sementara Andri sambil menunggu, dia mengecek hasil foto-foto yang sudah dia ambil seharian ini sambil beberapa kali melirik ke arah Kyung Hwan. Kyung Hwan juga tampaknya sedang serius menerima terlepon. Itu terlihat dari ekspresi wajahnya. Dia terlihat kaget dan sedikit cemas serta beberapa kali melirik ke arah Andri yang sedang menunggu.

Setelah beberapa lama, akhirnya Kyung Hwan selesai menelpon. Dia langsung menghampiri Andri dengan ekspresi cemas dan sedikit takut. Andri pun kebingungan melihat ekspresi Kyung Hwan.

            “Kenapa?”

            “Eng... ini...anu... gimana ya ngomonginnya.”

Kyung Hwan terlihat sangat bingung. Andri pun mencoba merilekskan temannya itu.

            “Kenapa sih? Selow aja.”

Setelah beberapa saat menenangkan diri, akhirnya Kyung Hwan bisa tenang.

            “Ini, Yoora.”

Mendegar nama Yoora, Andri menjadi sedikit excited. Dia langsung meletakkan kameranya dengan seketika.

            “Kenapa Yoora?”

Melihat ekspresi Andri yang excited, Kyung Hwan langsung menunjukkan ekspresi bingung dan sedikit curiga.

            “Kenapa kamu jadi excited gitu?”

Andri yang ditanya seperti itu langsung merubah sikapnya. Dia jadi sedikit malu.

            “Hehe, maaf. Yaudah terusin. Yoora kenapa?”

            “Iya, si Yoora nyuruh saya jemput dia. Dia sekalian mau ngajak makan malem diluar. Terus aku bilang aja kalau aku lagi keluar sama kamu jadinya gak bisa. Eh dianya gak ngomong apa-apa lagi. Terus ya udah aku bilang aja nanti dijemput.”

Andri yang mendengar penjelasan Kyung Hwan hanya bisa mengangguk saja.

            “Yaudah, ajak aja dia. Barengan aja kita bertiga.”

Kyung Hwan sedikit kaget mendengar jawaban Andri.

            “Bener nih gapapa?”

Andri hanya tersenyum.

            “Iya, gapapa kok. Aku nanti yang traktir.”

Mendengar jawab Andri, Kyung Hwan menjadi sedikit lega. Walaupun dia sebenarnya masih sedikit cemas akan apa yang terjadi apabila dia bertemu dengan Yoora.

            “Yaudah yuk jalan.”

Mereka akhirnya mulai meninggalkan istana Deoksu dan Gyeongbuk. Andri pun masih sempat-sempatnya mencoba mengabadikan foto Istana dari dalam mobil.

Perjalanan menuju ke tempat Yoora membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit diperjalanan. Di sepanjang perjalanan pun Andri banyak bertanya mengenai Korea dan kebudayaannya kepada Kyung Hwan. Dan setelah 25 menit diperjalanan, akhirnya mereka sampai ke sebuah stasiun TV, tempat Yoora dan Kyung Hwan. Kyung Hwan pun langsung bergegas memarkirkan mobilnya di parkiran.

            “Kamu tunggu disini dulu ya.”

Kyung Hwan pun langsung melepaskan sabuk pengamannya.

Andri yang melihat-lihat keluar pun terkejut dengan perkataan Kyung Hwan.

“Kamu mau kemana?”

Kyung Hwan langsung membuka pintu mobil.

“Mau jemput Yoora lah. Kamu tunggu disini sebentar ya.”

            “Aman gak nih? Nanti ada Kampak merah gimana? Atau begal gitu? Ato maling spesialis kaca mobil? Nah loh.”

Kyung Hwan yang baru sebelah kaki keluar dari mobil pun langsung menatap Andri dengan heran.

            “Ngomong apaan sih”

Andri pun hanya menyengir kepada Kyung Hwan.

            “Hehehe. Cepet sana jemput Yoora.”

            “Yaudah kamu tunggu disini ya sebentar.”

BLAM! Pintu mobil pun tertutup. Kyung Hwan langsung berlari menuju kantor TV tersebut. Andripun langsung membuka handphonenya dan langsung membuka aplikasi Kamera.  Dia pun merekam pun Kyung Hwan yang berlari terburu-buru dan diiringi dengan tawanya.

Setelah 10 menit menghilang, akhirnya Kyung Hwan pun keluar dari kantornya. Tampak dari kejauhan, dia tampak membawa beberapa kotak kardus ditangannya sambil membawanya dengan kesusahan. Dibelakangnya terlihat Yoora  yang sedang berjalan dengan tangan kanan sedang memegang cangkir kopi dan di tangan kirinya tampak memegang beberapa lembar kertas dan tertunduk membacanya sambil berjalan.

Melihat Kyung Hwan dari kejauhan sedang sedikit kerepotan membawa kardus, Andri langsung keluar dari mobil dan langsung bergegas berlari menuju arah Kyung Hwan dan Yoora. Dia langsung mengambil beberapa kotak kardus yang dibawa oleh Kyung Hwan. Melihat aksi Andri, Kyung Hwan pun terkejut.

            “Eh.. eh.. Gak usah biar saja aja yang bawa.”

Sambil menjulurkan satu tangannya mencoba meraih kardus yang ada ditangan Andri.

            “Yaudah biarinlah. Gapapa.”

            “Maaf ya jadi ngerepotin. Makasih loh.” Balas Kyung Hwan.

Andri hanya menganggukkan kepalanya sambil memberikan senyuman ke arah Kyung Hwan. Dan diapun langsung menoleh ke arah belakang tepat dimana Yoora berada. Dia melihat Yoora sedang membaca kertas yang ada ditangannya sambil sesekali menghirup kopinya. Diapun memperlambat jalannya sehingga bersebelahan dengan Yoora dan meninggalkan Kyung Hwan yang berjalan didepan sendirian.

            “Hai.”

Andri menyenggolkan sikutnya ke arah Yoora. Kyung Hwan yang mendengar sapaan Andri pun langsung menoleh kebelakang menuju sumber suara.

Merasa disenggol seseorang, Yoora pun langsung kaget dan langsung menoleh ke arah Andri. Yoora yang sedang memakai topi ini pun langsung mengangkat topinya sedikit lalu langsung melihat ke arah Andri. Dia langsung terkejut melihat Andri yang memberikan senyuman ke arah Yoora. Melihat senyum Andri, Yoora tampak tersenyum sedikit dengan malu-malu, lalu mengembalikan pandangannya ke arah kertas yang dibacanya sambil sesekali melirik ke arah jauh sambil tersenyum malu.

Kyung Hwan yang melihat tingkah Yoora pun sontak kaget. Karena ini adalah kali pertama dia melihat Yoora mengeluarkan ekspresi seperti itu.

          “Ya, geureongeo nahantaeneun wae anhaejunya (Kenapa kau tidak pernah melakukan itu padaku?)”

Yoora pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah Kyung Hwan. Dia memberikan Kyung Hwan tatapan tajam. Dengan tatapan tanpa ekspresi namun mendalam. Kyung Hwan yang menyadari itu langsung kaget. Dia langsung tersenyum masam sambil menelan ludah sendiri.

            “Mianhae. (Maaf)”

Andri yang melihat itupun hanya kebingungan. Dia tampak beberapa kali melirik ke arah Kyung Hwan dan Yoora. Diapun tidak mengerti apa yang Kyung Hwan katakan tapi walaupun begitu, sepertinya dia tau situasinya.

Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya sampailah mereka di mobil Kyung Hwan. Yoora langsung membuka pintu belakang dan langsung duduk di kursi penumpang. Sementara Kyung Hwan langsung menuju ke belakang mobil, membuka pintu bagasi dan langsung meletakkan kardus yang dibawanya tadi ke dalam bagasi yang juga diikuti oleh Andri. Dan setelah meletakkan kotak itu dalam bagasi, mereka pun langsung menuju pintu depan mobil dan langsung masuk.

Didalam mobil pun, Kyung Hwan tampak beberapa kali melirik ke arah kaca spion yang ada didepannya dan melihat ke arah Yoora. Sementara Yoora hanya terlihat sedang membaca lebaran kertasnya tadi. Dan ketika Kyung Hwan melirik lagi dari arah spion, Yoora yang menyadari itu langsung melihat ke arah spion. Menyadari itu, Kyung Hwan langsung panik dan mengubah pandangannya ke arah depan. Sementara Andri hanya terdiam dan bingung melihat tingkah Kyung Hwan.

            “So, jadi kita mau kemana? Kita cari makan malan aja ya. Sudah jam segini juga.” Andri membuka percakapan.

            “Boleh. Aku juga sudah lapar.” Jawab Kyung Hwan.

           “Yoora-ya, kita cari makan malam dulu ya?” tanyanya ragu-ragu sambil melihat ke arah spion belakang.

            “Geureyo. (Baiklah) ”

            “O~kelah kalau begitu. Seat belt, please.


Mobil Kyung Hwan pun melaju meninggalkan parkiran kantor TV tersebut.