Setelah beberapa lama di perjalanan, sampailah mereka di Hongdae. Suasananya begitu ramai. Banyak anak muda berkumpul. Suara musik juga memenuhi area ini.
Andri yang baru pertama kali melihat Hongdae langsung terkagum.
“Wooah~ rame ya disini.”
Kyung Hwan hanya tersenyum melihat reaksi dari Andri sedangkan Yoora hanya melirik sekilas ke arah Andri lalu mengembalikan pandangannya ke handphonenya lagi.
“Hongdae itu merupakan tempat nongkrong paling favourite buat anak muda di Seoul. Gak cuma anak muda sih, orang-orang tua juga suka datang kesini.” Jelas Kyung Hwan.
“Kyung Hwan Oppa, cepatlah cari parkiran, aku sudah lapar.”
Mendengar perkataan Yoora, Kyung Hwan jadi sedikit gelagapan. Dia langsung mencari lahan parkir tak jauh dari pusat keramaian.
Selesai mobil diparkirkan, mereka langsung berjalan menuju ke arah keramaian. Andri dan Kyung Hwan berjalan berdampingan sedang Yoora berjalan berada dibelakang mereka yang masih asik dengan handphonenya sambil sesekali menyeruput kopi ditangannya.
“Kyung Hwan, aku pernah baca di Internet katanya tempat nongkrong paling disenengin itu Gangnam. Bener gak?”
Kyung Hwan melirik ke arah Andri.
“Bener kok. Tapi setahun belakangan ini, orang-orang banyak yang larinya kesini. Tapi masih banyak juga sih orang yang nongkrong di Gangnam. Tapi mungkin disini kelebihannya ya karena lebih banyak kafenya, ya jadi banyak orang yang mau nongkrong disini sambil ngopi-ngopi dan diiringi sama musik-musik yang ada gitu”
“Terus, kenapa namanya Hongdae?”
“Ya karena deket banget sama Universitas Hongik.”
“Oh gitu ya.”
Andri pun langsung mengeluarkan kameranya. Dia langsung mengambil foto-foto yang menurutnya sangatlah endemik. Mulai dari para musisi yang sedang memainkan musiknya, para pengrajin, ataupun para pelukis yang sedang bekerja.
“Yaaah baterenya abis.” Kata Andri sambil memencet-mencet kameranya.
“Yaudah, berarti itu tandanya kamu gak boleh lagi foto-foto untuk hari ini. Lagian perasaan udah banyak banget kamu foto-foto tadi waktu kita di Deoksugung.”
Andri langsung menatap Kyung Hwan dengan tatapan sinis.
“Sialan kamu. Waktu disana juga, banyakan foto kamu perasaan.”
“Iya? Hehehehe maklum.” Kyung Hwan hanya bisa tersenyum masam ke arah tatapan sini Andri.
“Maklum apaan coba. Huuuuu.” Balasnya sambil mendorong bahu Kyung Hwan.
Andri lantas segera memasukkan kameranya ke dalam tas. Ketika dia sedang memasukkan kameranya, pandangannya agak terhenti ke arah Yoora yang daritadi berada dibelakangnya. Yoora saat itu sedang melihat-lihat area sekitar dengan wajah yang hampir separuhnya tertutup oleh topinya.
Selesai memasukkan kameranya kedalam tas, Andri berhenti sejenak untuk menunggu Yoora sampai akhrinya mereka berjalan berdampingan meninggalkan Kyung Hwan sendirian didepannya.
Yoora sendiri tampak tidak menyadari keberadaan Andri yang sudah berada di sebelahnya. Dan ketika dia sedang melihat-lihat sekeliling, pandangannya terhenti ke arah Andri yang sudah berada disebelahnya. Yoora yang tidak mengetahui bahwa orang yang ada disebelahnya itu ada Andri, lantas mengangkat sedikit topinya untuk melihat orang yang sedang ada disebelahnya. Dan ketika dia mengetahui itu adalah Andri, terkejutlah dia.
“Aigoo kkamjjakiya..~”
Andri yang mendengar suara Yoora pun langsung kaget.
"Eh ada apaan? Maling? Copet? Kampak merah? Begal?” Racaunya dalam bahasa
Indonesia sambil mengeluarkan beberapa gerakan silat yang kemudian diakhiri dengan kuda-kuda silatnya.
Kyung Hwan yang mendengar suara Andri pun langsung menoleh keheranan melihat Andri yang sedang melakukan pose yang menurutnya aneh. Dan Yoora pun yang tepat berada disebelah Andri ikut keheranan melihat tingkah Andri.
“Ada apaan neng? Eh what happen?”
Melihat tingkah Andri, Yoora pun langsung tertawa. Yoora tertawa sejadi-jadinya sampai-sampai terduduk memegangi perutnya. Dan ditengah tawanya dia pun berdiri dan langsung mencoba menirukan gerakan silat Andri yang kemudian dilanjutkan dengan tawanya.
Andripun hanya terdiam saja melihat Yoora tertawa. Dia hanya memandangi Yoora saja.
“Kenapa sih?” Tanyanya ke arah Kyung Hwan. Tapi ketika dia melihat ke arah Kyung Hwan, dia langsung terkejut. Disitu dia melihat Kyung Hwan yang terlihat sangat terkejut melihat ke arah Yoora yang sedang tertawa dengan mata yang terbelalak dan mulut terbuka.
Cukup lama Yoora tertawa sampai akhirnya dia berhenti tertawa. Andri dan Kyung Hwan hanya menunggu dan memperhatikan Yoora sampai dia berhenti tertawa.
Setelah sadar bahwa dia sedang diperhatikan, Yoora langsung mengembalikan sikapnya seperti semula. Dia langsung memberikan pandangan mengerikan ke arah Andri dan Kyung Hwan.
“Kalian kenapa?”
Andri dan Kyung Hwan hanya diam saja sambil tetap memandangi Yoora. Yoora pun langsung mengernyitkan dahinya.
“Jadi makan gak sih?” sambungnya dengan nada suara yang sedikit meninggi.
Mendengar suara Yoora yang sedikit meninggi, membuat Kyung Hwan tersadar. Sedangkan Andri masih memandangi Yoora dalam diamnya.
“Ya..ya..ya..udah yuk.”
Yoora tampak tidak memperdulikan perkataan Kyung Hwan dan hanya memandang Andri dalam diamnya dengan dahi mengernyit. Kyung Hwan yang menyadari itu langsung mencoba menyadarkan Andri.
“Woi.” Panggilnya dengan sedikit mendorong Andri dengan sikutnya.
Andri yang tersenggol pun langsung tersadar. Dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Kyung Hwan.
“Apa?”
“Mau makan gak?”
“Ya maulah. Aku sudah laper juga”
“Kalau mau, stop mandangin Yoora.”
Mendengar itu Andri langsung melihat ke arah Yoora yang sudah kelihatan sedikit kesal. Dia langsung berbalik dan menarik lengan baju Kyung Hwan.
“Hayuk cepet.” Bisiknya.
“Iya iya.”
Andri langsung melangkah masih dengan tangan yang berada di lengan baju Kyung Hwan. Merasa risih, Kyung Hwan langsung menarik tangan Andri untuk melepaskan tangannya dari lengan bajunya.
“Yoora-ya, restoran tempat kamu makan sama Jae Sung minggu kemarin itu dimana
ya?”
“Kenapa emangnya?”
“Kita makan disitu saja. Kata Jae Sung enak-enak makanannya.”
“Boleh juga. Itu ada disimpang didepan.”
Setelah berjalan beberapa saat, sampailah mereka di restoran tersebut. Mereka langsung memilih tempat duduk yang agak dibelakang.
“Eoseo oseyo (Selamat datang).” Sambut sang penjual sambil menyerahkan buku
menu.
“Ne (Iya). Andri kamu mau makan apa?”
Andri pun langsung membolak-balik buku menu tersebut.
“Emm... Yoora.” Panggil Andri.
Yoora yang sedang memainkan handphonenya pun langsung menoleh ketika Andri memanggil namanya.
“Aku mau makan yang waktu itu loh. Apa ya itu namanya”
Mendengar pernyataan Andri, Kyung Hwan pun sedikit kaget.
“Kalian sudah pernah makan berdua? Kok gak pernah cerita?”
“Baru sekali kok, waktu pertama kali aku sampai di Seoul. Kan akunya sama Yoorawaktu itu. Kamu kan waktu itu gak bisa”
“He he, maaf deh kalo gitu.”
“Gapapalah. Namanya juga kerjaan.”
“Samgyetang. Namanya Samgyetang.” Kata Yoora tiba-tiba.
“Nah iya itu. Getang getang hahaha.”
“Oh Samgyetang toh. Kamu Yoora, mau makan apa?”
“Aku kimbab ajalah.”
“Bener nih kimbab aja? Yaudah kalau begitu. Imo, Samgyetang hana, kimbab hana, kimchi bokkeumbab hanage juseyo.”
“Ne.”
“Minumnya apaan?”
“Aku mau es jeruk aja, esnya sedikit, gulanya dua sendok teh, ditambahin susu kental manis satu sendok.” Jawab Andri.
Mendengar pesanan Andri, Kyung Hwan dan Yoora jadi sedikit kaget. Mereka saling bertukar pandang satu sama lain.
“Imo.” Panggil Kyung Hwan kepada sang penjual.
“Ne.”
“Es tehnya satu sama es jeruk, esnya sedikit saja, gulanya dua sendok teh, ditambah susu kental manisnya satu sendok, dua ya.”
“Ne.”
“Dua? Kan aku pesennya satu. Kok dua. Kamu juga sama ya seleranya seperti aku?”
Goda Andri.
Kyung Hwan hanya bisa memandan g Andri sambil beberapa kali bertukar pandang dengan Yoora.
“Bukan aku, tapi Yoora. Dia kalau pesen minuman, selalu seperti itu.”
Andri langsung melihat Yoora.
“Bener?”
“Iya bener.” Jawab Yoora
“Wah kok bisa sama ya.”
“Emang aneh dasar kalian berdua mah. Yang satunya kayak hantu dan akhir-akhir ini
suka ketawa. Dan yang satunya lagu udah kayak anak hyperaktif yang baru keluar dari kurungan. Heeeh kenapa coba aku harus terjebak sama dua orang ini.” Keluhnya sambil menyeruput air minum yang ada didekatnya
Tak lama kemudian makanan mereka pun tiba. Dan sekali lagi, Kyung Hwan harus kembali menyaksikan sebuah pertunjukkan makan yang dilakukan Andri. sementara Yoora hanya bisa tersenyum melihat Andri makan begitu lahapnya.
1 jam mereka didalam restoran tersebut. Sementara Andri sudah menghabiskan satu porsi Samgyetang yang berisi satu ekor ayam utuh didalamnya. Ditambah dengan dua porsi Galbitang dan dua porsi kimbab.
Selesai makan, mereka langsung meninggalkan restoran tersebut. Andri tampak puas sekali setelah acara pembantaian yang dikakukannya. Dan Kyung Hwan, seperti di Gwangjang Market, hanya bisa kaget, kagum, dan tidak percaya akan apa yang disaksikannya.
Diluar restoran pun, tampak masih ramai. Masih banyak orang yang nongkrong di kawasan Hongdae.
“Habis ini mau kemana?” Tanya Kyung Hwan diperjalanan menuju mobilnya.
“Kalau aku sih ngikut aja.” Jawab Andri.
“Yoora?”
Yoora tidak menjawab. Dia tampak asik dengan handphonenya. Andri lalu mendekati Yoora.
“Lagi ngapain sih? Seru amat kayaknya.”
Yoora yang mendengar suara Andri, langsung menutup handphonenya dan langsung menyimpannya didalam kantongnya.
“Ah, apaan sih.”
“Kyung Hwan nanya tuh. Habis ini mau kemana lagi.”
Yoora langsung mengarahkan pandangannya ke arah Kyung Hwan.
“Habis ini mau kemana?” Tanya Kyung Hwan.
“Langsung pulang ajalah. Besok banyak kerjaan. Jadi subuh harus udah kekantor. Oppa lupa ya?”
“Aaaaaaahhh iya iya baru inget.”
“Jangan bilang kalau presentasinya belum kelar ya.”
Kyung Hwan hanya bisa tersenyum masam.
“Udah kok udah. Dikit lagi sih.”
“Belum dikerjain kan?”
“Hehe maaf. Nanti setelah sampe rumah langsung dikerjain kok. Sumpah dah.”
Yoora hanya diam saja. Sementara Kyung Hwan sudah salah tingkah. Dan Andri sendiri hanya bisa diam saja melihat percakapan antara Kyung Hwan dan Yoora.
Setelah berjalan beberapa menit, sampailah mereka di mobilnya Kyung Hwan.
“Andri.”
“Apaan?” Jawab Andri yang kala itu sedang memasang seat beltnya.
“Ini, ini nanti kita langsung pulang ya. Soalnya saya sama Yoora ada kerjaan besok, jadi besok subuh sudah harus dikantor.”
Andri langsung melihat jamnya.
“Yaudah gapapa kok. Udah jam segini juga.” Jawabnya diiringi senyumannya.
“Maaf ya.”
“Eii~ gapapa kali beneran. Ini kan masalah kerjaan. Jadinya gapapa. Maklum kok.
Lagian aku kan Cuma numpang aja.”
“Yaudah kalau begitu. Nanti aku anterin kamu ke penginapan. Dan besok kalo
kerjaanku udah kelar, aku temenin lagi tournya.” Jelas Kyung Hwan.
Andri hanya membalasnya dengan senyuman ke arah Kyung Hwan.
Akhirnya, mobil Kyung Hwan pun melaju meninggalkan area keramaian Hongdae.
Diperjalanan, Andri tampak cukup kagum dengan keadaan kota Seoul yang masih tampak terang benderang walaupun sudah agak larut.
“Andri.”
Andri yang waktu sedang melihat ke arah luar jendela mobil, langsung menoleh ke arah Kyung Hwan. Yoora pun yang juga sedang melihat ke arah luar jendela mobil, juga langsung melihat ke arah sumber suara.
“Eng, apaan?” Jawab Andri.
“Ceritain dong tentang kota tempat kamu tinggal.”
“Kenapa? Ada rencana mau kesana apa?” Goda Andri.
“Nanya aja. Siapa tau kan hahaha. Lagian aku juga lagi nyari-nyari tempat buat
honeymoon nanti.”
“Mulai darimana ya? Jakarta. Jakarta itu ibukotanya Indonesia, sama kayak Seoul. Jakarta itu luasnya hampir samalah sama Seoul. Populasinya juga hampir sama kira-kira. Jakarta juga terkenal dengan kemacetannya sama banjir tiap tahunnya. Tapi kalau aku sih yakin, pemerintah sedang serius mengatasi itu. Jakarta itu terdiri dari 5 bagian, ada Jakarta timur, Jakarta barat, Jakarta Utara sama Jakarta selatan. Beda sama Seoul yang ada banyak distriknya, ya kan.”
“Darimana kamu tau?” Tanya Kyung Hwan.
“Aku riset dululah sebelum liburan kesini.”
“Wih boleh-boleh.” Goda Kyung Hwan.
“Jakarta juga yaitu dikenal dengan nama Mini Indonesia. Karena seluruh orang
Indonesia itu ada di Jakarta.”
“Kalau landmarknya gimana?”
“Ada banyak. Kalau di Seoul ada N Seoul Tower, kalau di Indonesia ada yang namanya
Monas, Monumen Nasional.”
Andri langsung membuka handphonenya dan langsung mencari gambar monas dan langsung ditunjukkannya ke Kyung Hwan.
“Wih keren ya. Itu yang di atasnya warna emas itu, emas beneran?” Tanyanya sambil menunjuk emas yang ada digambar.
“Iyalah. Itu totalnya ada 38 Kg emasnya.”
“Woah banyaknya. Kalau tempat lainnya?”
“Ada banyak. Ada Senayan, tempat olahraga gitu. Ada juga Taman Mini Indonesia
Indah, seluruh kebudayaan Indonesia ada disitu. Ada juga Ragunan, Kebun binatangnya. Dan masih banyak lagi. Dateng aja lah kalau mau dateng. Nanti aku yang jadi Tour Guide nya.” Tawar Andri.
“Wah boleh deh.”
“Kamu Yoora, mau ke Jakarta juga?”
Yoora hanya diam saja.
“Saya masih banyak kerjaan. Belum kepikiran juga mau liburan keluar negeri.”
“Gitu ya?”
Andri tampak lesu mendengar jawaban Yoora. Kyung Hwan pun menyadari hal itu.
“Ya maklumin ajalah. Namanya juga anak berbakat. Kamu sendiri udah denger kan ceritaku tadi pagi tentang Yoora. Sibuk orangnya emang.”
Andri hanya melihat Yoora sekilas yang sedang melihat ke arah luar jendela mobil.
“Ya pasti nanti Yoora bakal ke Indonesia kok. Nanti pas udah ada waktu luang. Ya kan?”
Yoora hanya diam saja sambil tetap memandangi luar jendela mobil.
“Yoora-ya.” Panggil Kyung Hwan sambil melihat Yoora dari kaca spionnya.
Yoora yang mendengar panggilan Kyung Hwan langsung menoleh ke arahnya. Dia langsung melihat ke arah Kyung Hwan dari kaca spionnya, lalu melihat Andri yang sudah tampak lesu, lalu mengembalikan pandangannya kembali ke arah Kyung Hwan.
"Yoora-ya, iya kan?”
Yoora hanya terdiam.
“Iya. Mungkin suatu hari nanti.” Lalu mengembalikan pandangannya ke arah luar
jendela mobil.
Kyung Hwan langsung menyenggol lengan Andri dengan sikutnya.
“Kamu udah denger kan. Iya pasti datang kok. Kalau sudah gak sibuk tapi.”
Andripun hanya terdiam.
“Iya deh. Ditunggu ya.”
Andri hanya memberikan senyuman kepada Kyung Hwan dan Yoora, lalu mengembalikan pandangannya lagi ke arah luar jendela mobil.
Tiba-tiba suasana didalam mobil mendadak sunyi. Yoora dan Andri tampak sedang melihat ke arah luar jendela mobil sedang Kyung Hwan fokus dalam menyetirnya. Melihat suasana yang agak awkward ini, Kyung Hwan langsung inisiatif menghidupkan radio mobilnya.
Mobilpun melaju tenang dengan iringan lagu lembut dari dalam mobil. Diluar juga tampak sedikit gerimis terlihat dari bercak air dijendela mobil.
Yoora yang sedang melihat ke arah luar jendela, lalu mengubah arah pandangnya ke arah Kyung Hwan yang sedang menyetir lalu ke arah Andri yang tampak sedang melihat ke arah luar jendela mobil.
“Ya, mungkin suatu hari nanti.” Batinnya.

